Banyak kisah lama yang memberi pelajaran pada kita. Seorang petani menemukan telur di hutan. Telur apakah gerangan?
Ternyata telur tersebut adalah telur burung elang. Entah bagaimana caranya telur elang bisa berada di situ. Sang petani mengambil telur tersebut tidak untuk dimasak. Petani itu merasa sayang dan menitipkan telur tersebut kepada ayam piaraannya yang sedang mengerami telur.
Beberapa hari kemudian telur-telur ayam itu menetas. Telur elang itu pun juga ikut menetas. Elang kecil itu bergembira bermain dengan saudara-saudaranya yang anak ayam. Elang kecil itu hidup dalam asuhan induk ayam.
Elang kecil makan sebagaimana ayam makan. Elang kecil berlari sebagaimana ayam berlari. Elang kecil melompat sebagaimana ayam melompat.
Suatu ketika elang kecil itu melihat seekor elang besar yang terbang rendah dengan gagah lalu terbang tinggi lagi.
Elang kecil itu berpikir,
“Sungguh hebat seekor elang. Seandainya aku adalah seekor elang maka aku akan dapat terbang dengan gagah perkasa.”
Elang kecil itu tidak menyadari bahwa dirinya adalah seekor elang. Karena ia hidup dalam asuhan induk ayam dia pikir dirinya adalah ayam.
Banyak orang berpikir dirinya adalah manusia biasa-biasa saja. Karena mereka hidup selama ini sebagai manusia biasa-biasa saja. Mereka hidup dalam asuhan lingkungan manusia biasa-biasa saja.
Tetapi manusia bukanlah hal biasa-biasa saja. Manusia adalah makhluk paling istimewa. Manusia adalah manifestasi Tuhan Sang Pencipta yang paling luar biasa.
Mereka, Anda, dan saya adalah makhluk istimewa pilihan Tuhan. Kita memperoleh kepercayaan Tuhan untuk mengelola dan memimpin alam semesta.
Kita bukan anak ayam. Kita juga bukan anak elang. Kita adalah wakil Tuhan di bumi.
Apakah Tuhan salah pilih memilih kita sebagai wakilnya?
Tentu tidak salah.
Karena manusia memang pantas menjadi wakil Tuhan. Mari bangkit dan buktikan bahwa kita adalah wakil Tuhan yang dapat dipercaya.
Keyakinan diri bahwa kita adalah wakil Tuhan yang terpilih menjadi modal bagi manusia untuk berkreasi dan berinovasi. Manusia mampu berkreasi melampaui segala batas. Manusia mampu berinovasi melampaui segala batas.
Seorang murid bertanya kepada gurunya,
“Guru, mengapa engkau selalu tenang menghadapi segala sesuatu?”
“Karena aku selalu terhubung kepada Tuhan.”
“Bukankah itu terlalu sombong?”
“Maksudmu?”
“Guru menyatakan selalu terhubung dengan Tuhan, bukankah sombong?”
“Tidak. Orang yang sombong adalah orang yang merasa dirinya tidak terhubung ke Tuhan.”
Kita dapat menjadi hebat melampaui segala batas bukan karena kekuatan diri kita sendiri. Tetapi karena memperoleh kekuatan spiritual dari Tuhan. Kekuatan kreasi dan inovasi kita adalah tanpa batas karena kita memperoleh titipan kekuatan dari Tuhan.
Jadi, apakah cita-citamu?
Apakah cita-cita terbesarmu?
Dapatkah kau buat cita-cita yang lebih besar lagi?