Bumi sebagai kendaraan angkasa. Mari kita ikuti gambaran yang menarik dari filosof fiksi ilmiah ternama, yaitu Steven Spielberg. Spielberg kadang-kadang mendekati Homeric dalam kemampuannya memberikan bentuk pada mitos-mitos yang menggetarkan secara mendalam, terutama bagi kaum muda. Untuk sementara kita kesampingkan Jurassic Park, dan mengacu pada Close Encounters of The Third Kind dan E.T., setiap karya ini mempertanyakan keyakinan kita bahwa kita tidak hidup sendirian di alam raya ini. Barangkali kita memang hidup sendirian, atau barangkali juga tidak; semuanya itu sangat mungkin. Akan tetapi cerita-cerita Steven Spielberg menjelaskan bahwa dari kedua karyanya tersebut dia memberikan sebuah perumpamaan dan sudut pandang harfiah bahwa Bumi adalah sebuah kendaraan angkasa untuk mengangkut berbagai makhluk dan kita umat manusia adalah anggota awak kapalnya.
Spielberg menjelaskannya dalam sebuah bentuk yang benar-benar relijius, atau setidaknya spiritual. Hal ini berarti, dia tidak hanya menghibur imajinasi-imajinasi kita mengenai Bumi sebagai kendaraan angkasa. Dia menekankan pada kewajiban moral kita terhadapnya. Seseorang yang telah berbicara kepada kaum muda mengenai salah satu dari film Spielberg yang sudah disebut di atas akan mengetahui betapa jelasnya mereka memahami pengertian rasa tanggung jawab yang ditekankan kepada mereka, juga betapa dalamnya pergolakan emosi yang timbul.
Maka, di sini kita memiliki sebuah narasi yang luar biasa potensial, yaitu cerita tentang umat manusia sebagai pelayan-pelayan bagi planet Bumi, penjaga-penjaga dari sebuah ruang angkasa yang rawan terhadap serangan. Ini adalah sebuah narasi yang relatif baru, tidak dipenuhi dengan ketidakpastian-ketidakpastian dan bahkan pertentangan-pertentangan. Film ini menjadikan gagasan tentang rasisme tidak relevan sekaligus menggelikan. Dan membuat narasi Bumi sebagai Kendaraan Angkasa mempunyai kekuatan untuk mengikat orang-orang, dan membuat persoalan saling ketergantungan umat manusia dan kebutuhan terhadap solidaritas menjadi jelas.
Lebih jauh lagi, bentuk kesadaran global ini tidak bertentangan dengan kepercayaan-kepercayaan agama tradisional. Seseorang bisa saja menjadi penganut Kristiani, menjadi seorang Muslim, menjadi penganut Tao, Yahudi, atau pengikut Budha dan meskipun begitu tetap diilhami dengan komitmen untuk melakukan penyelamatan dalam bentuk yang mirip. Cerita tentang planet Bumi sebagai kendaraan angkasa tidak bertentangan dengan dongeng-dongeng kedaerahan atau cerita-cerita nasional. Cerita tersebut tidak menolak seseorang atau bahkan tidak mempersoalkan kebangsaan seseorang, wilayah atau kesetiaan-kesetiaan suku seseorang. Seseoarang bisa saja menjadi orang Amerika, atau orang Norwegia, atau orang Perancis, atau orang Indonesia, atau apa pun tanpa mengorbankan identitas seseorang. Identitas ini dapat diperluas dengan mengambil peran sebagai penghuni Planet Bumi.
Hal itu berarti, seeorang dapat digerakkan oleh narasi yang menekankan bahwa kebangsaan seseorang adalah semua bangsa yang ada di seluruh Langit dan Bumi, bukan oleh cerita yang saling mempersaingkan keunggulan. Narasi ini adalah sebuah gagasan milik waktu yang akan datang. Narasi ini adalah cerita tentang saling ketergantungan dan kerja sama global, tentang apa yang ada pada inti kemanusiaan; sebuah cerita tentang kesia-siaan dan ketidakpedulian adalah kejahatan, yang mengharuskan sebuah pandangan tentang masa depan dan komitmen pada masa kini.
Malaikat yang terjatuh. Di sini, ungkapan religius digunakan untuk menekankan bahwa pemikiran yang dijelaskan bukan hanya metode atau suatu epistemologi tetapi sebuah narasi, dan sesuatu yang hampir dapat diterima secara universal. Kebanyakan narasi-narasi yang serius berakar dalam suatu spiritualitas atau gagasan metafisik, atau paling tidak narasi-narasi (ilmu pengetahuan induktif, misalnya) itu adalah persangkaan-persangkaan metafisik. Pada kenyataannya, ilmu pengetahuan lebih banyak memasukkan cerita tentang malaikat yang terjatuh dari pada sistem kepercayaan lain.
Berikut ini adalah suatu cerita: Apabila kesempurnaan dapat ditemukan di suatu tempat di alam raya, maka kesempurnaan itu di anggap berada dalam Tuhan atau tuhan-tuhan. Barangkali ada waktu ketika umat manusia itu sempurna, tetapi dalam beberapa hal mereka hidup dalam keadaan pemahaman yang tidak sempurna. Memang, mempercayai bahwa kita adalah ke-Ilahi-an, atau kesempurnaan mutlak, adalah dosa yang paling serius di antara dosa-dosa lain. Dalam bahasa Yunani dosa ini disebut “Dosa membanggakan diri hingga menyamai Tuhan.” Orang-orang Kristiani menyebutnya sebagai dosa “kebanggan.” Orang-orang Islam menyebutnya dengan dosa musyrik. Sementara, para ilmuwan menyebutnya “dogmatisme.”
Tema besar dari narasi ini adalah bahwa umat manusia sering berbuat kesalahan-kesalahan. Salah satu sifat dasar kita adalah berbuat salah. Kita tidak dapat melewatkan waktu tanpa berbuat satu kesalahan. Kita sangat mungkin keliru, dan makna inilah yang ada pada kata “jatuh” dalam kata-kata malaikat yang terjatuh. Makna dari malaikat adalah bahwa kita mampu mengoreksi kesalahan-kesalahan kita. Makna inilah yang menuntun kita untuk berjalan tanpa kesombongan atau dogmatisme, menuntun bahwa kita menerima sifat alamiah sebagai makhluk yang cenderung melakukan kesalahan.
Contoh yang paling eksplisit dan paling cerdas penyimpangan dari narasi malaikat yang terjatuh adalah narasi ilmu pengetahuan – di masa kini. Narasi ini hampir mencakup seluruh fakta yang ada dalam pikiran banyak orang. Di sekolah, ilmu pengetahuan tidak diajarkan sebagai suatu cara untuk mengoreksi kekeliruan-kekeliruan kita. Ia diajarkan sebagai sumber kebenaran akhir. Keyakinan semacam ini, adalah sebuah contoh tentang dosa kebanggan terhadap dirinya sendiri. Kenyataanya, tidak ada ilmuwan terhormat yang meyakini bahwa ilmu pengetahuan adalah sumber kebenaran akhir. Thomas pernah menulis, ”Metode ilmiah bukanlah apa-apa kecuali cara kerja biasa dari pikiran manusia.” Ketika pemikiran bekerja, saat itu juga pengoreksian terhadap kekeliruan-kekeliruannya dilakukan.
Berangkat dari sudut pandang ini, kita dapat menyimpulkan bahwa ilmu pengetahuan bukanlah fisika, biologi, atau kimia. Ilmu pengetahuan bukanlah sebuah “pokok bahasan” atau “mata pelajaran” tetapi ajaran moral yang penting sekali yang diturunkan dari narasi yang lebih besar, yaitu narasi yang memiliki tujuan untuk melakukan penyempurnaan prespektif, keseimbangan, dan kesederhanaan untuk belajar.
Maka, sebetulnya aneh ketika ada ilmuwan-ilmuwan yang mengesampingkan aspek ketidakpastian atau kenisbian dalam pokok bahasan mereka. Dalam doktrin sosial atau politik mereka adalah penganut-penganut yang sejati dan teguh. Masih ada yang lebih aneh lagi yaitu adanya individu-individu yang taat meskipun mereka benar-benar tahu akan kekeliruan mereka. Di sini terdapat sebuah misteri yang berujung pada pendidikan hati nurani.
Bagaimana seseorang dapat menyatakan bahwa hasil penelitiannya bersifat pasti, apabila hal ini dapat begitu mudah berubah menjadi sesuatu yang tak pantas, tidak pada tempatnya, dan seringkali menjadi dogmatisme mematikan? Pertanyaan ini adalah sesuatu yang diperjuangkan oleh John Dewey, juga Bertrand Russel dan para filosof modern. Ini adalah sebuah pertanyaan Jacob Bronowski yang disampaikan dalam sebuah proyek monumental, dalam seri siaran-siaran televisi maupun sebuah buku, yang disebut The Ascent Man. Bronowski menggunakan Prinsip Ketidakpastian Heisenberg sebagai narasi yang memberi makna bahwa semua pengetahuan manusia itu terbatas. Prinsip itu menyatakan bila seseorang mengetahui dengan pasti posisi suatu elektron, ia tidak dapat mengetahui kecepatan elektron secara pasti. Sebaliknya, jika seseorang ingin mengetahui kecepatan elektron dengan pasti, ia tidak dapat mengetahui posisi elektron dengan pasti. Ini bukan disebabkan keterbatasan teknologi alat ukur tetapi memang karena sifat partikel subatomik. Meskipun mengacu pada peristiwa subatomik, prinsip ini sering dipakai sebagai perumpamaan bagi ketidakpastian fundamental dari semua pengetahuan manusia. Akan tetapi Bronowski lebih suka mengungkapkannya dalam rumusan Prinsip Toleransi. Dia mengatakan, meskipun barangkali ada ilmu pengetahuan yang dapat dipastikan kebenarannya, ilmu pengetahuan itu sendiri akan selalu membatasi dirinya dengan sebuah toleransi. Artinya, dia memiliki beberapa keterbatasan pemaknaan hanya pada beberapa aspek terbatas.
Pada akhirnya, Bronowski menawarkan sebuah pelajaran: Kita harus menyembuhkan diri kita sendiri dari keinginan untuk menjadikan ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang mutlak. Bagaimana kita dapat melakukan ini? Di sinilah letak persoalannya. Kursus ilmiah atau keterampilan teknis bukanlah suatu jawaban. Menaikkan nilai rapor atau ijasah juga bukan jawaban. Akan tetapi, persoalan tersebut mengharuskan adanya tujuan dan idealisme sekolah yang berorientasi mengobati penyakit pemutlakan ilmu pengetahuan. Manusia adalah malaikat yang terjatuh !
Terus Berargumentasi. Sejarah mengijinkan kita untuk menyatakan bahwa pertanyaan dasar yang harus dihadapi oleh pengalaman Amerika adalah: Bisakah sebuah bangsa itu dibentuk, dipertahankan dan berlindung pada prisnsip argumentasi yang terus berkelanjutan? Pertanyaan ini sangat menekankan poin “keberlanjutan” yang sama pentingnya dengan penekanan poin “argumentasi.” Kita mengetahui apa yang terjadi ketika argumentasi berhenti – dan akan terjadi pertumpahan darah ketika kita berhenti saling bertukar pendapat dengan yang lainnya. Sebagaimana yang terjadi pada Perang Sipil di Amerika atau di beberapa perang lainnya. Perang telah menutup adanya argumentasi. Indonesia juga memiliki pengalaman tragedi yang mengerikan saat argumentasi berhenti. Penembakan mahasiswa Tri Sakti, dan Tragedi 11 Mei telah membakar Jakarta menjadi puing-puing. Kerusuhan menutup pintu argumentasi.
Tentu saja, semua argumen itu memiliki tema yang dimunculkan dalam urutan-urutan pertanyaan, yaitu: Apakah yang dimaksud dengan kemerdekaan? Apakah batasan-batasan pada kemerdekaan itu? Apakah umat manusia itu? Apa yang menjadi kewajiban-kewajiban bagi warga negara? Apakah yang dimaksud dengan demokrasi? Dan seterusnya. Untungnya, kita bukan yang pertama kali mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Hal ini berarti kita dapat menemukan jawaban-jawabannya, dan dapat terus menemukannya, di dalam ajaran-ajaran terdahulu seperti ajaran-ajaran Konfusius, ayat-ayat yang dibawa oleh Musa, dialog-dialog Plato, aforisme Yesus, ajaran-ajaran Quran, pidato-pidato Milton, drama-drama Shakespeare, esai-esai Voltaire, risalah-risalah Hegel, manifesto-manifesto Karl Marx, khotbah-khotbah Marthin Luther King Jr., dan sumber-sumber lain yang membahasnya dengan serius.
Akan tetapi, dari semua sumber-sumber itu, manakah yang dapat memberi jawaban-jawaban yang benar? Kesemuanya mengandung narasi-narasi indah, bermakna dan kontekstual. Begitu juga halnya dengan kita. Kita akan selalu berpendapat, mengalami, mengeluh, berduka cita, dan gembira. Kita akan terus berpendapat lagi, tanpa mengenal akhir. Semuanya mengalir dan pokok persoalan akan selalu berubah, menjadi argumen-argumen yang lebih baik, menjadi pengalaman-pengalaman di masa depan.
Ini merupakan satu cerita yang indah dan mulia yang akan memberikan satu pertimbangan sehat bagi pendidikan sekolah, yaitu: memberikan kaum muda kita ilmu pengetahuan dan keinginan untuk berperan serta dalam pengalaman yang agung; mengajarkan pada mereka bagaimana caranya berargumentasi, dan membantu mereka menemukan pertanyaan-pertanyaan yang berbobot. Serta memastikan bahwa para pelajar mengetahui apa yang terjadi ketika argumentasi-argumentasi itu berhenti. Setiap kelompok telah menciptakan argumentasi-argumentasi yang bagus, dan argumentasi-argumentasi yang buruk sekaligus. Semua sudut pandang itu diperbolehkan. Satu-satunya hal yang harus ditakutkan adalah bahwa seseorang akan memaksakan pendapatnya dalam sebuah tanda seru ketika kita belum berhenti dalam kehidupan ini, seperti yang terjadi di WTC 11 September lalu serta reaksi Bush kepada Afghanistan.
Hukum Keanekaragaman. Negara besar seperti Indonesia atau Amerika selalu menjadi bangsa yang terdiri dari berbagai kelompok. Sekolah kita selalu terdiri dari berbgai macam kultur. Akan tetapi para guru tidak selalu menekankan hal ini. Sebagian dikarenakan adanya sebuah kepercayaan bahwa melalui pendidikan di sekolah, sebuah kultur bersama dapat diciptakan. Sebagian yang lain menganggap kultur-kultur tertentu lebih rendash dari kultur yang lain. Pemikiran yang pertama tidak terlalu bermasalah, namun pemikiran yang kedua benar-benar memalukan.
Gagasan keragaman adalah suatu narasi kaya yang masih berserak, kekayaan inilah yang akan mengorganisir pendidikan di sekolah bagi kaum muda. Namun ada alasan yang tepat, ada pula alasan yang keliru untuk hal itu.Suatu contoh yang buruk adalah memanfaatkan fakta keragaman etnik untuk mengilhami sebuah kurikulum balas dendam. Kurikulum ini diperuntukkan bagi kelompok yang tertindas yang mencoba meratakan keadaan bagi kelompok lainnya. Meskipun dorongan untuk membalas dendam itu dapat dipahami, pandangan semacam itu akan menyebabkan kekeliruan-kekeliruan yang mengerikan, keterserakan, dan keterasingan.
Untungnya, kita memiliki narasi hukum keragaman yang teoritis maupun praktis. Komponen teoritis berasal dari ilmu pengetahuan, dilukiskan secara abstrak dalam Hukum Kedua Termodinamika. Hukum tersebut menceritakan kepada kita bahwa meskipun materi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan (Hukum Termodinamika Pertama, bandingkan dengan kesetaraan massa-energi ala Einstein), materi itu memiliki kecenderungan untuk mengarah kepada ketidakteraturan. Nama yang diberikan kepada kecenderungan ini adalah “entropi,” yang berarti bahwa segala sesuatu di alam raya ini bergerak secara pasti menuju kesamaan. Ketika materi mencapai suatu keadaan di mana tidak ada perbedaan, maka dalam keadaan ini tidak terdapat sebuah energi yang dapat dimanfaatkan. Keadaan ini akan benar-benar menyedihkan bila tidak ada kekuatan “negentropik” di alam raya, yaitu energi-energi yang memperlambat proses menuju kesamaan dan tetap menjaga segala sesuatu terus bergerak, teratur, dan – dilihat dari sudut pandang kemanusiaan – sangat bermanfaat.
Pelajaran yang ada di sini adalah bahwa keseragaman merupakan musuh dari kekuatan dan vitalitas. Dari sudut praktis, kita dapat melihat hal ini dalam setiap bidang aktivitas kemanusiaan. Kemandegan terjadi ketika tidak ada sesuatu yang baru dan tidak ada perbedaan yang datang dari luar sistem. Mengenai hal ini, bahasa Inggris adalah sebuah contoh yang hebat. Bahasa Inggris adalah sebuah bahasa yang relatif muda. Diperkirakan oleh Chauver berumur tidak lebih dari enam ratus tahun. Bahasa Inggris mengawali perjalannya sebagai logat Teutonik (Jerman), mengubah dirinya dengan mengakui bahasa Perancis, mengakui bahasa Italia, dan kemudian menerima kata-kata dan bentuk-bentuk baru karena para pemakai bahasa Inggris selalu bergerak ke mana pun di seluruh penjuru dunia. T.S. Elliot pernah mengatakan bahwa bahasa Inggris adalah bahasa yang terbaik untuk digunakan menulis puisi karena kandungan kata-katanya, irama-iramanya berasal dari banyak bahasa.
Kapan pun, ketika bentuk sebuah bahasa atau seni dibakukan dan tertutup rapat, bergerak hanya di atas sumber-sumber miliknya sendiri, maka bahasa itu akan tersiksa oleh entropi. Kapan pun, ketika perbedaan diperbolehkan, maka hasilnya adalah kekuatan dan pertumbuhan. Tidak ada satu bentuk seni yang berkembang di saat ini, atau yang pernah berkembang di masa lalu, yang tidak melakukannya dengan sayap-sayap keragaman.
Kita perlu mempelajari berbagai sejarah yang beragam dari berbagai wilayah. Kita perlu memikirkan ide-ide pemikir besar dari berbagai negara dan bidang kajian. Kita perlu mempelajari berbagai kebudayaan dan peradaban dari Mesir Kuno, Persia, India, Yunani, Romawi, Kristiani, Islam, Eropa, Amerika, dan dunia masa kini. Kita mempelajari semua ini karena dua alasan, yaitu: Pertama, karena mereka menunjukkan bagaimana vitalitas dan kreativitas kemanusiaan ternyata tergantung pada keragaman. Kedua, karena mereka menyusun standar-standar yang hingga saat ini dianut oleh orang-orang beradab. Dengan demikian, hukum keanekaragaman akan menciptakan manusia-manusia yang cerdas.
Penjalin kata-kata mencipta dunia. Pendidikan kita di sekolah perlu sekali mempertimbangkan penggunaan bahasa dengan tepat. Ini karena kita menggunakan bahasa untuk menciptakan dunia. Bahasa bukan hanya wahana atau kendaraan bagi pikiran, tetapi bahasa adalah – seperti dikatakan oleh Wittgenstein – juga merupakan pengemudi. Kita pergi ke suatu tempat yang ditunjukkan oleh kata-kata. Kita melihat dunia sebagaimana kata-kata membolehkan kita melihatnya. Tentu saja, ada sebuah dunia “tanpa kata-kata.” Akan tetapi, tidak seperti makhluk lain di planet ini, kita dapat mendapatkan dunia hanya melalui kata-kata. Kita sendiri menciptakan kata-kata dan terus menciptakannya.
Bahasa membolehkan kita menamai segala sesuatu. Tetapi lebih dari itu, bahasa juga mendorong perasaan-perasaan kita bahwa kita diharuskan bekerja sama dan bergabung dengan segala sesuatu yang kita namai. Bahkan lebih dari itu, bahasa juga mengontrol benda-benda yang akan kita namai, mengontrol hal-hal yang harus kita perhatikan. Bahasa bahkan menceritakan kepada kita apakah sesuatu itu adalah benda.
Dalam pendidikan, persoalannya bukan hanya bagaimana kita bersuara, tetapi bagaimana kita menyuarakan dunia. Sesuatu yang sangat penting diketahui adalah bagaimana bahasa mengontrol pemakaian kecerdasan-kecerdasan kita – dari sini dapat dikatakan, bagaimana gagasan-gagasan kita tentang gagasan telah diatur oleh bahasa. Pada kenyataannnya, Aristoteles meyakini bahwa dia tidak terlepas dari hukum-hukum berpikir universal, ketika semua hal yang telah ia lakukan harus dijelaskan dalam aturan-aturan logika tata kalimat bahasa Yunani. Barangkali apabila bahasa Yunani menaruh perhatian terhadap beragam bahasa lainnya, dia akan sampai pada kesimpulan-kesimpulan yang berbeda.
Semua uraian di atas hanyalah bagian kecil dari narasi besar tentang bagaimana umat manusia menggunakan bahasa untuk mengubah dunia. Pada gilirannya umat manusia diubah oleh apa yang mereka buat sendiri. Tentu saja, cerita ini tidak akan berakhir dengan pembuatan kata-kata. Pada kenyataannya cerita ini justru berawal dari pemahaman bahwa kata-katalah yang menjadikan kita sebagai manusia. Cerita ini terus berlanjut hingga membentang dengan putaran-putaran yang fantastis sebagaimana manusia membuat bahasa-bahasa pengganti. Bidang bahasa pengganti ini menjadi diperluas, yaitu: huruf-huruf gambar, tulisan fonetis, mesin cetak, telegraf, radio, filem, televisi, dan komputer. Semua perangkat itu telah mengubah dunia. Mengatakan bahwa semua perangkat tersebut hanyalah alat berarti mengabaikan maksud dari cerita ini.
Kita adalah pencipta dunia, penjalin kata-kata. Itulah yang membuat kita menjadi cerdas, atau dungu; bermoral atau tak bermoral; toleran atau keras kepala. Itulah yang menjadikan kita manusia. Mungkinkah menceritakan hal ini kepada kaum muda di sekolah? Mengajak mereka untuk meneliti bagaimana kita meningkatkan derajat kemanusiaan kita dengan mengontrol rumusan-rumusan bahasa. Dengan rumusan inilah kita membicarakan dunia, mengajak mereka untuk mempelajari apa yang terjadi ketika kita kehilangan kontrol atas apa-apa yang telah kita buat. Akselerasi Angger menawarkan rumusan bahasa yang sederhana dan efektif. Rumusan bahasa ini disebut dengan 4M5P – yang akan dibahas lebih detil pada bagian yang lain. Semua ini barangkali dapat menjadi narasi terbesar yang jumlahnya tak terhitung.
Keabadian Manusia. Sampai di sini kita telah menjelajahi lima narasi besar, yang diharapkan dapat menolong sekolah kita melaju di abad akselerasi dengan landasan metafisika yang kukuh. Kita perlu menambahkan – minimal – satu lagi narasi besar yang lebih bersifat intrinsik dibanding yang sudah. Narasi ini menukik ke kedalaman tersembunyi jiwa manusia. Kita menyebut narasi ini dengan narasi keabadian manusia. (Pembaca yang berminat berdiskusi lebih jauh - dari yang diuraikan di sini – mengenai narasi ini dapat merujuk ke buku kami : 5 Kunci Menjadi Manusia Bersejarah.)
Dalam batin manusia yang tercipta dari elemen-elemen dan tubuh-tubuh alami terdapat seorang Manusia jiwa, perantara antara dunia fisik dan alam intelegen murni, yang hidup secara hakiki – seorang Manusia yang seperti ini dalam seluruh organ-organnya, indera-inderanya, dan kekuatan-kekuatannya. Manusia ini ada dalam kesadaran waktu. Kehidupan-Nya tidak seperti kehidupan tubuh fisik ini, yang aksidental dan muncul kepadanya dari luar; namun, Dia memiliki kehidupan yang amat hakiki. Dan Manusia jiwa ini adalah suatu substansi yang menjadi dalam wujud antara manusia fisik dan Manusia Intelek (murni).
Manusia yang fana di dunia ini membentuk suatu spesies yang didefinisikan dalam satu definisi spesies: binatang dan differentia (pembeda) spesifik yang rasional (keberakalan); genusnya diambil dari bentuk fisik di alam materi, sedang differentianya diambil dari bentuk jiwa.
Tapi jiwa-jiwa manusia, setelah pada awalnya semua bermula dari satu spesies, akan menjadi berbeda dalam hakikat mereka – bandingkan dengan evolusi Darwinian – , sesuai dengan suatu modus keberadaan lain dan keadaan alami fundamental kedua – merujuk pada perkembangan unik kapasitas-kapasitas psikis kreatif intrinsik manusia, baik yang imajinal maupun yang intelektif. Mereka menjadi berbagai spesies yang berbeda, yang terdiri atas empat genera (jenis) umum. Ini karena jiwa, pada mula kehidupannya (dengan sebuah tubuh tertentu), secara aktual merupakan suatu bentuk kesempurnaan dari materi yang terindera. Tapi pada saat yang sama jiwa adalah seuatu hal spiritual dengan kapasitas untuk menerima dan bersatu dengan suatu bentuk intelektif – dalam hal ini muncul dari potensi kepada aktualitas – atau suatu bentuk Syaitani yang menyesatkan, atau binatang binatang yang memakan sesama binatang.
Maka, menurut kebiasaan-kebiasaan dan keadaan-keadaan karakter yang mendominasi jiwa manusia, ia akan bangkit dengan suatu bentuk tertentu. Taburlah pengetahuan tuailah tindakan; taburlah tindakan tuailah kebiasaan; taburlah kebiasaan tuailah karakter; taburlah karakter tuailah nasib, demikian menurut Stephen Covey.