APIQ: Matematika Kreatif Aritmetika Quantum

Masukan dari November 2008

Mendesak

November 13, 2008 · 1 Komentar

Hal-hal yang lebih penting tidak boleh dikendalikan oleh hal-hal yang kurang penting.

Bagaimana dengan Anda?

A. Apakah Anda selalu mendahulukan dan mengutamakan hal-hal yang lebih penting?

B. Atau kadang-kadang (bahkan sering) hal-hal yang mendesak mengganggu ritme irama hidup Anda?

Kategori: Inspirasi
Ditandai: , ,

Narasi-Narasi Masa Depan

November 12, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Bumi sebagai kendaraan angkasa. Mari kita ikuti gambaran yang menarik dari filosof fiksi ilmiah ternama, yaitu Steven Spielberg. Spielberg kadang-kadang mendekati Homeric dalam kemampuannya memberikan bentuk pada mitos-mitos yang menggetarkan secara mendalam, terutama bagi kaum muda. Untuk sementara kita kesampingkan Jurassic Park, dan mengacu pada Close Encounters of The Third Kind dan E.T., setiap karya ini mempertanyakan keyakinan kita bahwa kita tidak hidup sendirian di alam raya ini. Barangkali kita memang hidup sendirian, atau barangkali juga tidak; semuanya itu sangat mungkin. Akan tetapi cerita-cerita Steven Spielberg menjelaskan bahwa dari kedua karyanya tersebut dia memberikan sebuah perumpamaan dan sudut pandang harfiah bahwa Bumi adalah sebuah kendaraan angkasa untuk mengangkut berbagai makhluk dan kita umat manusia adalah anggota awak kapalnya.

Spielberg menjelaskannya dalam sebuah bentuk yang benar-benar relijius, atau setidaknya spiritual. Hal ini berarti, dia tidak hanya menghibur imajinasi-imajinasi kita mengenai Bumi sebagai kendaraan angkasa. Dia menekankan pada kewajiban moral kita terhadapnya. Seseorang yang telah berbicara kepada kaum muda mengenai salah satu dari film Spielberg yang sudah disebut di atas akan mengetahui betapa jelasnya mereka memahami pengertian rasa tanggung jawab yang ditekankan kepada mereka, juga betapa dalamnya pergolakan emosi yang timbul.

Maka, di sini kita memiliki sebuah narasi yang luar biasa potensial, yaitu cerita tentang umat manusia sebagai pelayan-pelayan bagi planet Bumi, penjaga-penjaga dari sebuah ruang angkasa yang rawan terhadap serangan. Ini adalah sebuah narasi yang relatif baru, tidak dipenuhi dengan ketidakpastian-ketidakpastian dan bahkan pertentangan-pertentangan. Film ini menjadikan gagasan tentang rasisme tidak relevan sekaligus menggelikan. Dan membuat narasi Bumi sebagai Kendaraan Angkasa mempunyai kekuatan untuk mengikat orang-orang, dan membuat persoalan saling ketergantungan umat manusia dan kebutuhan terhadap solidaritas menjadi jelas.

Lebih jauh lagi, bentuk kesadaran global ini tidak bertentangan dengan kepercayaan-kepercayaan agama tradisional. Seseorang bisa saja menjadi penganut Kristiani, menjadi seorang Muslim, menjadi penganut Tao, Yahudi, atau pengikut Budha dan meskipun begitu tetap diilhami dengan komitmen untuk melakukan penyelamatan dalam bentuk yang mirip. Cerita tentang planet Bumi sebagai kendaraan angkasa tidak bertentangan dengan dongeng-dongeng kedaerahan atau cerita-cerita nasional. Cerita tersebut tidak menolak seseorang atau bahkan tidak mempersoalkan kebangsaan seseorang, wilayah atau kesetiaan-kesetiaan suku seseorang. Seseoarang bisa saja menjadi orang Amerika, atau orang Norwegia, atau orang Perancis, atau orang Indonesia, atau apa pun tanpa mengorbankan identitas seseorang. Identitas ini dapat diperluas dengan mengambil peran sebagai penghuni Planet Bumi.

Hal itu berarti, seeorang dapat digerakkan oleh narasi yang menekankan bahwa kebangsaan seseorang adalah semua bangsa yang ada di seluruh Langit dan Bumi, bukan oleh cerita yang saling mempersaingkan keunggulan. Narasi ini adalah sebuah gagasan milik waktu yang akan datang. Narasi ini adalah cerita tentang saling ketergantungan dan kerja sama global, tentang apa yang ada pada inti kemanusiaan; sebuah cerita tentang kesia-siaan dan ketidakpedulian adalah kejahatan, yang mengharuskan sebuah pandangan tentang masa depan dan komitmen pada masa kini.

Malaikat yang terjatuh. Di sini, ungkapan religius digunakan untuk menekankan bahwa pemikiran yang dijelaskan bukan hanya metode atau suatu epistemologi tetapi sebuah narasi, dan sesuatu yang hampir dapat diterima secara universal. Kebanyakan narasi-narasi yang serius berakar dalam suatu spiritualitas atau gagasan metafisik, atau paling tidak narasi-narasi (ilmu pengetahuan induktif, misalnya) itu adalah persangkaan-persangkaan metafisik. Pada kenyataannya, ilmu pengetahuan lebih banyak memasukkan cerita tentang malaikat yang terjatuh dari pada sistem kepercayaan lain.

Berikut ini adalah suatu cerita: Apabila kesempurnaan dapat ditemukan di suatu tempat di alam raya, maka kesempurnaan itu di anggap berada dalam Tuhan atau tuhan-tuhan. Barangkali ada waktu ketika umat manusia itu sempurna, tetapi dalam beberapa hal mereka hidup dalam keadaan pemahaman yang tidak sempurna. Memang, mempercayai bahwa kita adalah ke-Ilahi-an, atau kesempurnaan mutlak, adalah dosa yang paling serius di antara dosa-dosa lain. Dalam bahasa Yunani dosa ini disebut “Dosa membanggakan diri hingga menyamai Tuhan.” Orang-orang Kristiani menyebutnya sebagai dosa “kebanggan.” Orang-orang Islam menyebutnya dengan dosa musyrik. Sementara, para ilmuwan menyebutnya “dogmatisme.”

Tema besar dari narasi ini adalah bahwa umat manusia sering berbuat kesalahan-kesalahan. Salah satu sifat dasar kita adalah berbuat salah. Kita tidak dapat melewatkan waktu tanpa berbuat satu kesalahan. Kita sangat mungkin keliru, dan makna inilah yang ada pada kata “jatuh” dalam kata-kata malaikat yang terjatuh. Makna dari malaikat adalah bahwa kita mampu mengoreksi kesalahan-kesalahan kita. Makna inilah yang menuntun kita untuk berjalan tanpa kesombongan atau dogmatisme, menuntun bahwa kita menerima sifat alamiah sebagai makhluk yang cenderung melakukan kesalahan.

Contoh yang paling eksplisit dan paling cerdas penyimpangan dari narasi malaikat yang terjatuh adalah narasi ilmu pengetahuan – di masa kini. Narasi ini hampir mencakup seluruh fakta yang ada dalam pikiran banyak orang. Di sekolah, ilmu pengetahuan tidak diajarkan sebagai suatu cara untuk mengoreksi kekeliruan-kekeliruan kita. Ia diajarkan sebagai sumber kebenaran akhir. Keyakinan semacam ini, adalah sebuah contoh tentang dosa kebanggan terhadap dirinya sendiri. Kenyataanya, tidak ada ilmuwan terhormat yang meyakini bahwa ilmu pengetahuan adalah sumber kebenaran akhir. Thomas pernah menulis, ”Metode ilmiah bukanlah apa-apa kecuali cara kerja biasa dari pikiran manusia.” Ketika pemikiran bekerja, saat itu juga pengoreksian terhadap kekeliruan-kekeliruannya dilakukan.

Berangkat dari sudut pandang ini, kita dapat menyimpulkan bahwa ilmu pengetahuan bukanlah fisika, biologi, atau kimia. Ilmu pengetahuan bukanlah sebuah “pokok bahasan” atau “mata pelajaran” tetapi ajaran moral yang penting sekali yang diturunkan dari narasi yang lebih besar, yaitu narasi yang memiliki tujuan untuk melakukan penyempurnaan prespektif, keseimbangan, dan kesederhanaan untuk belajar.

Maka, sebetulnya aneh ketika ada ilmuwan-ilmuwan yang mengesampingkan aspek ketidakpastian atau kenisbian dalam pokok bahasan mereka. Dalam doktrin sosial atau politik mereka adalah penganut-penganut yang sejati dan teguh. Masih ada yang lebih aneh lagi yaitu adanya individu-individu yang taat meskipun mereka benar-benar tahu akan kekeliruan mereka. Di sini terdapat sebuah misteri yang berujung pada pendidikan hati nurani.

Bagaimana seseorang dapat menyatakan bahwa hasil penelitiannya bersifat pasti, apabila hal ini dapat begitu mudah berubah menjadi sesuatu yang tak pantas, tidak pada tempatnya, dan seringkali menjadi dogmatisme mematikan? Pertanyaan ini adalah sesuatu yang diperjuangkan oleh John Dewey, juga Bertrand Russel dan para filosof modern. Ini adalah sebuah pertanyaan Jacob Bronowski yang disampaikan dalam sebuah proyek monumental, dalam seri siaran-siaran televisi maupun sebuah buku, yang disebut The Ascent Man. Bronowski menggunakan Prinsip Ketidakpastian Heisenberg sebagai narasi yang memberi makna bahwa semua pengetahuan manusia itu terbatas. Prinsip itu menyatakan bila seseorang mengetahui dengan pasti posisi suatu elektron, ia tidak dapat mengetahui kecepatan elektron secara pasti. Sebaliknya, jika seseorang ingin mengetahui kecepatan elektron dengan pasti, ia tidak dapat mengetahui posisi elektron dengan pasti. Ini bukan disebabkan keterbatasan teknologi alat ukur tetapi memang karena sifat partikel subatomik. Meskipun mengacu pada peristiwa subatomik, prinsip ini sering dipakai sebagai perumpamaan bagi ketidakpastian fundamental dari semua pengetahuan manusia. Akan tetapi Bronowski lebih suka mengungkapkannya dalam rumusan Prinsip Toleransi. Dia mengatakan, meskipun barangkali ada ilmu pengetahuan yang dapat dipastikan kebenarannya, ilmu pengetahuan itu sendiri akan selalu membatasi dirinya dengan sebuah toleransi. Artinya, dia memiliki beberapa keterbatasan pemaknaan hanya pada beberapa aspek terbatas.

Pada akhirnya, Bronowski menawarkan sebuah pelajaran: Kita harus menyembuhkan diri kita sendiri dari keinginan untuk menjadikan ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang mutlak. Bagaimana kita dapat melakukan ini? Di sinilah letak persoalannya. Kursus ilmiah atau keterampilan teknis bukanlah suatu jawaban. Menaikkan nilai rapor atau ijasah juga bukan jawaban. Akan tetapi, persoalan tersebut mengharuskan adanya tujuan dan idealisme sekolah yang berorientasi mengobati penyakit pemutlakan ilmu pengetahuan. Manusia adalah malaikat yang terjatuh !

Terus Berargumentasi. Sejarah mengijinkan kita untuk menyatakan bahwa pertanyaan dasar yang harus dihadapi oleh pengalaman Amerika adalah: Bisakah sebuah bangsa itu dibentuk, dipertahankan dan berlindung pada prisnsip argumentasi yang terus berkelanjutan? Pertanyaan ini sangat menekankan poin “keberlanjutan” yang sama pentingnya dengan penekanan poin “argumentasi.” Kita mengetahui apa yang terjadi ketika argumentasi berhenti – dan akan terjadi pertumpahan darah ketika kita berhenti saling bertukar pendapat dengan yang lainnya. Sebagaimana yang terjadi pada Perang Sipil di Amerika atau di beberapa perang lainnya. Perang telah menutup adanya argumentasi. Indonesia juga memiliki pengalaman tragedi yang mengerikan saat argumentasi berhenti. Penembakan mahasiswa Tri Sakti, dan Tragedi 11 Mei telah membakar Jakarta menjadi puing-puing. Kerusuhan menutup pintu argumentasi.

Tentu saja, semua argumen itu memiliki tema yang dimunculkan dalam urutan-urutan pertanyaan, yaitu: Apakah yang dimaksud dengan kemerdekaan? Apakah batasan-batasan pada kemerdekaan itu? Apakah umat manusia itu? Apa yang menjadi kewajiban-kewajiban bagi warga negara? Apakah yang dimaksud dengan demokrasi? Dan seterusnya. Untungnya, kita bukan yang pertama kali mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Hal ini berarti kita dapat menemukan jawaban-jawabannya, dan dapat terus menemukannya, di dalam ajaran-ajaran terdahulu seperti ajaran-ajaran Konfusius, ayat-ayat yang dibawa oleh Musa, dialog-dialog Plato, aforisme Yesus, ajaran-ajaran Quran, pidato-pidato Milton, drama-drama Shakespeare, esai-esai Voltaire, risalah-risalah Hegel, manifesto-manifesto Karl Marx, khotbah-khotbah Marthin Luther King Jr., dan sumber-sumber lain yang membahasnya dengan serius.

Akan tetapi, dari semua sumber-sumber itu, manakah yang dapat memberi jawaban-jawaban yang benar? Kesemuanya mengandung narasi-narasi indah, bermakna dan kontekstual. Begitu juga halnya dengan kita. Kita akan selalu berpendapat, mengalami, mengeluh, berduka cita, dan gembira. Kita akan terus berpendapat lagi, tanpa mengenal akhir. Semuanya mengalir dan pokok persoalan akan selalu berubah, menjadi argumen-argumen yang lebih baik, menjadi pengalaman-pengalaman di masa depan.

Ini merupakan satu cerita yang indah dan mulia yang akan memberikan satu pertimbangan sehat bagi pendidikan sekolah, yaitu: memberikan kaum muda kita ilmu pengetahuan dan keinginan untuk berperan serta dalam pengalaman yang agung; mengajarkan pada mereka bagaimana caranya berargumentasi, dan membantu mereka menemukan pertanyaan-pertanyaan yang berbobot. Serta memastikan bahwa para pelajar mengetahui apa yang terjadi ketika argumentasi-argumentasi itu berhenti. Setiap kelompok telah menciptakan argumentasi-argumentasi yang bagus, dan argumentasi-argumentasi yang buruk sekaligus. Semua sudut pandang itu diperbolehkan. Satu-satunya hal yang harus ditakutkan adalah bahwa seseorang akan memaksakan pendapatnya dalam sebuah tanda seru ketika kita belum berhenti dalam kehidupan ini, seperti yang terjadi di WTC 11 September lalu serta reaksi Bush kepada Afghanistan.

Hukum Keanekaragaman. Negara besar seperti Indonesia atau Amerika selalu menjadi bangsa yang terdiri dari berbagai kelompok. Sekolah kita selalu terdiri dari berbgai macam kultur. Akan tetapi para guru tidak selalu menekankan hal ini. Sebagian dikarenakan adanya sebuah kepercayaan bahwa melalui pendidikan di sekolah, sebuah kultur bersama dapat diciptakan. Sebagian yang lain menganggap kultur-kultur tertentu lebih rendash dari kultur yang lain. Pemikiran yang pertama tidak terlalu bermasalah, namun pemikiran yang kedua benar-benar memalukan.

Gagasan keragaman adalah suatu narasi kaya yang masih berserak, kekayaan inilah yang akan mengorganisir pendidikan di sekolah bagi kaum muda. Namun ada alasan yang tepat, ada pula alasan yang keliru untuk hal itu.Suatu contoh yang buruk adalah memanfaatkan fakta keragaman etnik untuk mengilhami sebuah kurikulum balas dendam. Kurikulum ini diperuntukkan bagi kelompok yang tertindas yang mencoba meratakan keadaan bagi kelompok lainnya. Meskipun dorongan untuk membalas dendam itu dapat dipahami, pandangan semacam itu akan menyebabkan kekeliruan-kekeliruan yang mengerikan, keterserakan, dan keterasingan.

Untungnya, kita memiliki narasi hukum keragaman yang teoritis maupun praktis. Komponen teoritis berasal dari ilmu pengetahuan, dilukiskan secara abstrak dalam Hukum Kedua Termodinamika. Hukum tersebut menceritakan kepada kita bahwa meskipun materi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan (Hukum Termodinamika Pertama, bandingkan dengan kesetaraan massa-energi ala Einstein), materi itu memiliki kecenderungan untuk mengarah kepada ketidakteraturan. Nama yang diberikan kepada kecenderungan ini adalah “entropi,” yang berarti bahwa segala sesuatu di alam raya ini bergerak secara pasti menuju kesamaan. Ketika materi mencapai suatu keadaan di mana tidak ada perbedaan, maka dalam keadaan ini tidak terdapat sebuah energi yang dapat dimanfaatkan. Keadaan ini akan benar-benar menyedihkan bila tidak ada kekuatan “negentropik” di alam raya, yaitu energi-energi yang memperlambat proses menuju kesamaan dan tetap menjaga segala sesuatu terus bergerak, teratur, dan – dilihat dari sudut pandang kemanusiaan – sangat bermanfaat.

Pelajaran yang ada di sini adalah bahwa keseragaman merupakan musuh dari kekuatan dan vitalitas. Dari sudut praktis, kita dapat melihat hal ini dalam setiap bidang aktivitas kemanusiaan. Kemandegan terjadi ketika tidak ada sesuatu yang baru dan tidak ada perbedaan yang datang dari luar sistem. Mengenai hal ini, bahasa Inggris adalah sebuah contoh yang hebat. Bahasa Inggris adalah sebuah bahasa yang relatif muda. Diperkirakan oleh Chauver berumur tidak lebih dari enam ratus tahun. Bahasa Inggris mengawali perjalannya sebagai logat Teutonik (Jerman), mengubah dirinya dengan mengakui bahasa Perancis, mengakui bahasa Italia, dan kemudian menerima kata-kata dan bentuk-bentuk baru karena para pemakai bahasa Inggris selalu bergerak ke mana pun di seluruh penjuru dunia. T.S. Elliot pernah mengatakan bahwa bahasa Inggris adalah bahasa yang terbaik untuk digunakan menulis puisi karena kandungan kata-katanya, irama-iramanya berasal dari banyak bahasa.

Kapan pun, ketika bentuk sebuah bahasa atau seni dibakukan dan tertutup rapat, bergerak hanya di atas sumber-sumber miliknya sendiri, maka bahasa itu akan tersiksa oleh entropi. Kapan pun, ketika perbedaan diperbolehkan, maka hasilnya adalah kekuatan dan pertumbuhan. Tidak ada satu bentuk seni yang berkembang di saat ini, atau yang pernah berkembang di masa lalu, yang tidak melakukannya dengan sayap-sayap keragaman.

Kita perlu mempelajari berbagai sejarah yang beragam dari berbagai wilayah. Kita perlu memikirkan ide-ide pemikir besar dari berbagai negara dan bidang kajian. Kita perlu mempelajari berbagai kebudayaan dan peradaban dari Mesir Kuno, Persia, India, Yunani, Romawi, Kristiani, Islam, Eropa, Amerika, dan dunia masa kini. Kita mempelajari semua ini karena dua alasan, yaitu: Pertama, karena mereka menunjukkan bagaimana vitalitas dan kreativitas kemanusiaan ternyata tergantung pada keragaman. Kedua, karena mereka menyusun standar-standar yang hingga saat ini dianut oleh orang-orang beradab. Dengan demikian, hukum keanekaragaman akan menciptakan manusia-manusia yang cerdas.

Penjalin kata-kata mencipta dunia. Pendidikan kita di sekolah perlu sekali mempertimbangkan penggunaan bahasa dengan tepat. Ini karena kita menggunakan bahasa untuk menciptakan dunia. Bahasa bukan hanya wahana atau kendaraan bagi pikiran, tetapi bahasa adalah – seperti dikatakan oleh Wittgenstein – juga merupakan pengemudi. Kita pergi ke suatu tempat yang ditunjukkan oleh kata-kata. Kita melihat dunia sebagaimana kata-kata membolehkan kita melihatnya. Tentu saja, ada sebuah dunia “tanpa kata-kata.” Akan tetapi, tidak seperti makhluk lain di planet ini, kita dapat mendapatkan dunia hanya melalui kata-kata. Kita sendiri menciptakan kata-kata dan terus menciptakannya.

Bahasa membolehkan kita menamai segala sesuatu. Tetapi lebih dari itu, bahasa juga mendorong perasaan-perasaan kita bahwa kita diharuskan bekerja sama dan bergabung dengan segala sesuatu yang kita namai. Bahkan lebih dari itu, bahasa juga mengontrol benda-benda yang akan kita namai, mengontrol hal-hal yang harus kita perhatikan. Bahasa bahkan menceritakan kepada kita apakah sesuatu itu adalah benda.

Dalam pendidikan, persoalannya bukan hanya bagaimana kita bersuara, tetapi bagaimana kita menyuarakan dunia. Sesuatu yang sangat penting diketahui adalah bagaimana bahasa mengontrol pemakaian kecerdasan-kecerdasan kita – dari sini dapat dikatakan, bagaimana gagasan-gagasan kita tentang gagasan telah diatur oleh bahasa. Pada kenyataannnya, Aristoteles meyakini bahwa dia tidak terlepas dari hukum-hukum berpikir universal, ketika semua hal yang telah ia lakukan harus dijelaskan dalam aturan-aturan logika tata kalimat bahasa Yunani. Barangkali apabila bahasa Yunani menaruh perhatian terhadap beragam bahasa lainnya, dia akan sampai pada kesimpulan-kesimpulan yang berbeda.

Semua uraian di atas hanyalah bagian kecil dari narasi besar tentang bagaimana umat manusia menggunakan bahasa untuk mengubah dunia. Pada gilirannya umat manusia diubah oleh apa yang mereka buat sendiri. Tentu saja, cerita ini tidak akan berakhir dengan pembuatan kata-kata. Pada kenyataannya cerita ini justru berawal dari pemahaman bahwa kata-katalah yang menjadikan kita sebagai manusia. Cerita ini terus berlanjut hingga membentang dengan putaran-putaran yang fantastis sebagaimana manusia membuat bahasa-bahasa pengganti. Bidang bahasa pengganti ini menjadi diperluas, yaitu: huruf-huruf gambar, tulisan fonetis, mesin cetak, telegraf, radio, filem, televisi, dan komputer. Semua perangkat itu telah mengubah dunia. Mengatakan bahwa semua perangkat tersebut hanyalah alat berarti mengabaikan maksud dari cerita ini.

Kita adalah pencipta dunia, penjalin kata-kata. Itulah yang membuat kita menjadi cerdas, atau dungu; bermoral atau tak bermoral; toleran atau keras kepala. Itulah yang menjadikan kita manusia. Mungkinkah menceritakan hal ini kepada kaum muda di sekolah? Mengajak mereka untuk meneliti bagaimana kita meningkatkan derajat kemanusiaan kita dengan mengontrol rumusan-rumusan bahasa. Dengan rumusan inilah kita membicarakan dunia, mengajak mereka untuk mempelajari apa yang terjadi ketika kita kehilangan kontrol atas apa-apa yang telah kita buat. Akselerasi Angger menawarkan rumusan bahasa yang sederhana dan efektif. Rumusan bahasa ini disebut dengan 4M5P – yang akan dibahas lebih detil pada bagian yang lain. Semua ini barangkali dapat menjadi narasi terbesar yang jumlahnya tak terhitung.

Keabadian Manusia. Sampai di sini kita telah menjelajahi lima narasi besar, yang diharapkan dapat menolong sekolah kita melaju di abad akselerasi dengan landasan metafisika yang kukuh. Kita perlu menambahkan – minimal – satu lagi narasi besar yang lebih bersifat intrinsik dibanding yang sudah. Narasi ini menukik ke kedalaman tersembunyi jiwa manusia. Kita menyebut narasi ini dengan narasi keabadian manusia. (Pembaca yang berminat berdiskusi lebih jauh - dari yang diuraikan di sini – mengenai narasi ini dapat merujuk ke buku kami : 5 Kunci Menjadi Manusia Bersejarah.)

Dalam batin manusia yang tercipta dari elemen-elemen dan tubuh-tubuh alami terdapat seorang Manusia jiwa, perantara antara dunia fisik dan alam intelegen murni, yang hidup secara hakiki – seorang Manusia yang seperti ini dalam seluruh organ-organnya, indera-inderanya, dan kekuatan-kekuatannya. Manusia ini ada dalam kesadaran waktu. Kehidupan-Nya tidak seperti kehidupan tubuh fisik ini, yang aksidental dan muncul kepadanya dari luar; namun, Dia memiliki kehidupan yang amat hakiki. Dan Manusia jiwa ini adalah suatu substansi yang menjadi dalam wujud antara manusia fisik dan Manusia Intelek (murni).

Manusia yang fana di dunia ini membentuk suatu spesies yang didefinisikan dalam satu definisi spesies: binatang dan differentia (pembeda) spesifik yang rasional (keberakalan); genusnya diambil dari bentuk fisik di alam materi, sedang differentianya diambil dari bentuk jiwa.

Tapi jiwa-jiwa manusia, setelah pada awalnya semua bermula dari satu spesies, akan menjadi berbeda dalam hakikat mereka – bandingkan dengan evolusi Darwinian – , sesuai dengan suatu modus keberadaan lain dan keadaan alami fundamental kedua – merujuk pada perkembangan unik kapasitas-kapasitas psikis kreatif intrinsik manusia, baik yang imajinal maupun yang intelektif. Mereka menjadi berbagai spesies yang berbeda, yang terdiri atas empat genera (jenis) umum. Ini karena jiwa, pada mula kehidupannya (dengan sebuah tubuh tertentu), secara aktual merupakan suatu bentuk kesempurnaan dari materi yang terindera. Tapi pada saat yang sama jiwa adalah seuatu hal spiritual dengan kapasitas untuk menerima dan bersatu dengan suatu bentuk intelektif – dalam hal ini muncul dari potensi kepada aktualitas – atau suatu bentuk Syaitani yang menyesatkan, atau binatang binatang yang memakan sesama binatang.

Maka, menurut kebiasaan-kebiasaan dan keadaan-keadaan karakter yang mendominasi jiwa manusia, ia akan bangkit dengan suatu bentuk tertentu. Taburlah pengetahuan tuailah tindakan; taburlah tindakan tuailah kebiasaan; taburlah kebiasaan tuailah karakter; taburlah karakter tuailah nasib, demikian menurut Stephen Covey.

Kategori: Inovasi Pembelajaran
Ditandai: , , , ,

TERPAKSA

November 12, 2008 · 1 Komentar

Bila terpaksa harus memilih, pilih mana?

terpaksa hrs olah raga agar badan sehat?

atau terpaksa tidak olah raga akibatnya badan kurang sehat?

Kategori: Inspirasi

Power Point Matematika UN (UNAS/ Ujian Nasional)

November 11, 2008 · & Komentar

Saat ini saya sedang menyiapkan power point matematika untuk membantu persiapan UN/UNAS atau ujian nasional SD. Power point ini saya siapkan untuk membantu siswa belajar matematika agar lebih mudah dan lebih asyik. Dengan power point, kita dapat menambahkan berbagai ilustrasi warna-warni dan animasi yang menarik.

Power ini dapat juga digunakan oleh guru atau orang tua yang ingin mengajar anaknya. Semoga memberi manfaat yang besar bagi kita semua.

Bagi Anda yang berminat, silakan memesan melalui email:

quantumyes@yahoo.com

Harga satu judul file power point adalah Rp 40.000,-

Selama masa promosi saat ini, harga kami diskon menjadi hanya Rp 5.000,- untuk satu file. Dengan pemesanan paket minimal 10 judul file power point.

Biaya dapat ditransfer ke rekening BNI Cabang ITB:

no: 01 392200 32

a.n: Cicik C

Kami akan segera mengirimkan file pesanan Anda langsung ke email Anda.

Sebelumnya, saya juga sudah membuat power point matematika untuk persiapan UN SMA. Yang terlewat adalah persiapan UN SMP. Semoga saya juga dapat segera merampungkan untuk tingkat SMP.

Salam hangat…

(angger: agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Kategori: Pembelajaran Mandiri · UN · Ujian (UN
Ditandai: , , , ,

Menulis

November 9, 2008 · 1 Komentar

“Mas, pekerjaan mu apa Mas?”

Bingung saya menjawabnya.

“Karyawan ya Mas?”

Ya. Saya memang seorang karyawan di sebuah perusahaan.

“Guru ya Mas?”

Ya. Saya memang mengajar anak-anak.

“Wirausaha ya Mas?”

Ya. Saya memang sedang membesarkan sebuah – beberapa – perusahaan.

“Dosen ya Mas?”

Ya. Saya memang mengajar di perguruan tinggi.

Dan masih banyak yang lain. Tapi ada satu jenis pekerjaan, yang setelah saya pikir-pikir, adalah paling cocok untuk saya. Meski begitu jarang orang menganggap saya sebagai pekerja itu. Pekerjaan tersebut adalah: MENULIS.

Setelah saya renungi, menulis terasa paling alami buat saya.

Bagaimana dengan Anda?

Kategori: Inspirasi
Ditandai: , ,

Ketertinggalan Sekolah Konvensional: Narasi “Akhir Pendidikan” di Abad Akselerasi

November 8, 2008 · 1 Komentar

Catatan pengantar: Saya coba membaca-baca file-file saya terdahulu. Ternyata asyik juga membaca tulisan-tulisan saya sendiri yang telah saya tulis beberapa tahun lalu. Dari pada hanya saya sendiri yang membaca lebih baik saya muat di blog saja tulisan tersebut. Agar ada orang lain yang ikut memperoleh manfaat. Dan silakan memberi masukan-masukan.

Salam… (angger: agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

#####

Pendidikan banyak diharapkan sebagai benteng pertahanan umat manusia namun, tampaknya, sekolah konvensional tak mampu mengimbangi akselerasi di berbagai sisi kehidupan. Benarkah pendidikan kini tengah mendekati suatu akhir ? Perlu suatu model baru bagi sekolah agar mampu maju dengan akselerasi. Model yang memiliki kecakapan teknis dan landasan filosofis kokoh.

Bateson telah mengajukan model pembelajaran komprehensif yang terdiri dari empat level pembelajaran. Namun empat level pembelajaran yang diajukan Bateson ini tidak mendapatkan pembahasan yang memadai. Dua level pertama – pembelajaran adaptasi obyek dan belajar cara belajar – yang bersifat teknis menjadi begitu kaku. Materi pembelajaran ditentukan dengan pasti dari pihak sekolah tanpa keterlibatan peserta didik. Teknik pembelajaran diseragamkan bagi seluruh peserta didik.

Neil Postman menyebut permasalahan ini sebagai persoalan teknis. Persoalan keahlian teknis, sebagaimana semua persoalan yang serupa, pada dasarnya merupakan persoalan keterampilan teknis. Hal ini merupakan persoalan tentang cara, dan dengan cara inilah kaum muda kita menjadi terpelajar. Persoalan cara ini membicarakan masalah-masalah tentang ‘di mana’, ‘kapan’ dan ‘bagaimana’ sesuatu pembelajaran akan dilaksanakan. Persoalan tersebut bukanlah sesuatu yang sederhana, dan buku yang mempunyai harga diri – termasuk Akselerasi Angger – harus menawarkan solusi-solusi terhadap persoalan ini.

Akan tetapi sesuatu yang sangat disayangkan adalah sering terjadi pengelolaan teknik belajar itu menyiratkan kesombongan. Sebenarnya menempatkan suatu teknik belajar tertentu sebagai yang paling penting, adalah hal yang tidak pada tempatnya. Seperti dikatakan oleh peribahasa lama, “Ada dua puluh satu cara untuk menyanyikan lagu-lagu daerah, dan dari semua itu semuanya benar.” Begitu juga halnya dengan belajar cara belajar. Tidak ada seorang pun yang dapat mengatakan bahwa satu cara ini atau cara itu merupakan cara terbaik untuk mengetahui segala hal, untuk melihat bermacam hal, dan menerapkan berbagai hal. Pada kenyataannya, upaya untuk membuat pernyataan seperti di atas adalah meremehkan proses belajar, mereduksinya menjadi sebuah keterampilan mekanik.

Tentu saja, ada beberapa cara belajar yang sangat memerlukan keterampilan mekanis, dan dalam hal-hal semacam itu, memang mungkin ada suatu cara yang paling baik. Akan tetapi untuk menjadi seorang pribadi yang berbeda karena sesuatu hal yang telah dipelajari – yang menyediakan wawasan, konsep, cara pandang, supaya dunia Anda berubah – itu adalah satu persoalan yang berbeda dengan keterampilan teknis. Agar hal-hal di atas dapat terwujud, kita membutuhkan sebuah pertimbangan dan alasan yang kuat. Dengan mendalami suatu pertimbangan dan alasan yang kuat, membuka peluang untuk terciptanya keterampilan teknis baru yang lebih efisien.

Akselerasi Angger mencoba menukik ke dasar paling dalam dari suatu keterampilan teknis atau learning how to learn. Dari dasar-dasar yang kokoh itu ditemukanlah suatu teknik baru yang efisien dan efektif untuk menyelenggarakan pembelajaran. Sebagai contoh, menghitung cepat, Akselerasi Angger menggali sampai akar terdalam yaitu rumusan Al-Khawaritzmi ( atau lebih dikenal dengan Algoritma). Dari pengkajian mendalam ini dihasilkan teknik berhitung cepat yang mudah dan alamiah. Bahkan teknik ini merangsang kreativitas untuk memunculkan temuan-temuan baru bagi siswa atau pembaca.

Contoh yang lainnya adalah teknik menghafal cepat. Akselerasi Angger mencoba menggali bagaimana otak dapat menyimpan memori dengan kuat dan dapat mengakses kembali secara cepat dan kreatif. Dari kajian ini menghasilkan teknik menghafal cepat yang sederhana, mudah, cepat, dan fleksibel dalam penerapannya. Yang lebih menarik lagi, dalam menghafal cepat, Akselerasi Angger mengaktifkan imajinasi kreatif. Jadi proses menghafal bukanlah suatu proses yang melulu mekanis namun juga dapat menjadi tantangan kreatif yang menyenangkan.

Kembali ke persoalan sekolah konvesional, Neil Postman menulis dalam bukunya Matinya Pendidikan bahwa sekolah konvensional kita mengalami problem yang lebih berat dibanding keterampilan teknis yaitu problem metafisika. Problem metafisika ini bersesuain dengan pengabaian dua level terakhir pembelajaran komprehensif menurut Bateson. Pertama, pembelajaran mengubah dan membangun paradigma. Dan kedua, pembelajaran mengubah dan membangun pandangan semesta. Jika problem metafisika ini tidak ditangani dengan baik maka dapat mengantar pendidikan ke titik akhir.

Neil Postman dengan keyakinanannya, mengusulkan suatu narasi agung bagi sekolah kita – akan dibahas pada bagian bawah. Narasi-narasi yang paling komprehensif tentu saja ditemukan dalam teks-teks seperti Kitab Perjanjian Lama, Kitab Perjanjian Baru, Qur’an, dan Bhagavad Gita. Akan tetapi sejak abad ke-16, setidak-tidaknya di Barat, mulai muncul narasi-narasi dengan jenis yang berbeda, dan memiliki kekuatan yang cukup untuk berfungsi sebagai tuhan-tuhan – atau narasi-narasi – alternatif. Di antara narasi besar yang paling dikenal adalah “pengetahuan induktif.” Dari jenis tuhan ini perlu diketahui bahwa pembicara-pembicara utamanya seperti Descartes, Bacon, Galileo, Kepler, dan Newton, tidak pernah berpikir bahwa cerita mereka bakal menjadi narasi pengganti bagi narasi besar Yahudi-Kristiani, tetapi lebih tepat sebagai perluasan darinya. Tentu saja narasi besar tentang ilmu pengetahuan bersama-sama dengan narasi-narasi besar agama menghasilkan sebuah gagasan bahwa ada sebuah tatanan untuk mengatur alam raya. Gagasan ini adalah asumsi dasar dari semua narasi-narasi penting.

Lebih jauh lagi, narasi ilmu pengetahuan melahirkan narasi baru yaitu tuhan teknologi yang diterima dengan senang hati. Narasi tentang teknologi adalah sebuah cerita yang menakjubkan dan enerjik, dengan kejelasan yang lebih nyata dari bapaknya – ilmu pengetahuan – menawarkan kita sebuah surga. Tuhan ilmu pengetahuan berbicara kepada kita mengenai pemahaman sekaligus kekuatan, sedangkan tuhan teknologi hanya berbicara tentang kekuatan dan siap mengundang kita hadir ke zona mabuk teknologi. Dan narasi-narasi ini gagal menjadi solusi bagi pendidikan di abad akselerasi – para pembaca dapat merujuk ke bagian Akselerasi High Tech dan Akselerasi Ilmu Pengetahuan.

Telah banyak narasi-narasi yang dimunculkan dan ternyata gagal – sebagaimana narasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Berikut ini adalah beberapa narasi yang lain. Darwin adalah salah seorang pembicara utama narasi evolusi. Kita dapat mengatakan bahwa Charles Darwin telah memulai serangan besar dengan mengungkapkan teorinya bahwa manusia bukan anak-anak Tuhan melainkan anak-anak monyet. Teorinya telah menyebabkan korban pada dirinya sendiri, dia menderita karena sakit perut dan sakit pada usus. Para dokter tidak mampu menolong dan gagal menemukan penyebabnya secara fisik. Meski demikian, Darwin tidak menyesal. Dia berharap banyak orang yang menemukan inspirasi, pelipur lara, dan kemajuan dari cerita besar teori evolusi. Akan tetapi ternyata tidaklah banyak orang yang memperolehnya. Bahkan trauma kejiwaan yang disebabkan olehnya terus berlanjut, hampir tidak dapat disembunyikan.

Narasi yang lain diusulkan Karl Marx, seseorang yang mengundang Darwin untuk menulis kata pengantar pada Das Kapital (Darwin menolak). Karl Marx mencabik-cabik tuhan Nasionalisme, memperlihatkan dengan teori-teori dan contoh-contoh yang tak terhitung, bagaimana kelas-kelas buruh telah ditipu untuk memihak pada penyiksa-penyiksa kapitalis mereka. Marx mengusulkan narasi indah komunisme dan terbukti gagal terutama ketika menjelang abad akselerasi.

Sigmund Freud, yang bekerja dengan sangat tekun di ruang konsultasinya di Bargasse 19. Wina, tampaknya menjadi perusak dunia yang paling kejam. Dia memperlihatkan bahwa tuhan besar dari Akal adalah penipuan besar meskipun memiliki otoritas yang telah disahkan oleh Abad Pencerahan. Akal itu terutama berfungsi untuk merasionalisasi dan menyembunyikan perintah-perintah pada hasrat kita yang paling primitif. Otak, sebagaimana adanya hanyalah budak dari Alat Kelamin. Sebuah gagasan yang orisinil, namun membakar jiwa. Dari semua ini belumlah cukup. Freud menghancurkan masa kanak-kanak yang tanpa dosa dan berpendapat bahwa kepercayaan kita kepada tuhan-tuhan adalah kekanak-kanakan dan ilusi neurotik. Narasi Freud ini bukannya memberi solusi tetapi justru memperparah situasi.

Bahkan Albert Einstein yang lemah lembut, memberikan andil bagi terjadinya kekecewaan secara umum, mendatangkan malapetaka bagi tuhan ilmu pengetahuan Isaac Newton. Paper-paper Einstein mengarah pada gagasan bahwa kita tidak melihat segala sesuatu itu sebagaimana mereka adanya tetapi seperti yang kita bayangkan terhadap mereka. Lebih jauh lagi, para pengikut Einstein telah menyimpulkan dan mempercayai apa yang telah mereka buktikan, bahwa ilmu pengetahuan yang sesungguhnya tidak dapat diraih – meskipun Einstein sendiri belum tentu sepakat dengan para pengikutnya ini. Bagaimanapun dan sebaik apa pun kita mencoba, kita tidak pernah mengetahui secara pasti segala hal. Bukan karena kita tidak memiliki kecerdasan, tetapi karena alam raya itu bersifat jahat.

Narasi lainnya, yang juga gagal, adalah narasi dekonstruksi. Narasi dekonstruksi telah banyak berjangkit di kalangan akademisi terutama di negara maju seperti Amerika. Secara populer dikenal dengan filsafat “dekonstruksi”, dibuat oleh simpatisan pembaharu Nazi, Paul de Man. Rumusan dekonstruksi mengatakan bahwa makna kata-kata selalu tidak tetap. Kata-kata merupakan realitas yang lebih sedikit dibanding realitas yang dilukiskan oleh kata-kata lainnya. Pencarian terhadap makna yang pasti di dalam sebuah kata adalah pencarian yang tidak berarti, karena tidak ada apa-apa untuk ditemukan.

Bagaimanapun juga, tidak ada filsafat dekonstruksi yang dapat menyembunyikan krisis dalam narasi, kemunduran dari tuhan-tuhan yang pernah jaya. Pengikisan penggunaan simbol-simbol suci, pemusnahan perbedaan antara yang suci dan profan, adalah kepedihan yang dapat kita lihat. Kita tengah mengarah kepada kesimpulan bahwa saat ini bukanlah waktu yang baik bagi tuhan-tuhan dan simbol-simbolnya. Karena itu, ini adalah saat yang buruk bagi lembaga sosial yang memperoleh kekuatannya dari sumber-sumber metafisikal.

Pada akhirnya, hal ini akan mengarahkan kita pada pertanyaan, apakah makna semua narasi-narasi ini di dalam usaha untuk melakukan pendidikan di sekolah?

Jawaban yang muncul sangat sederhana dan menyebalkan akal kita. Kebanyakan pendidik bahkan telah mengabaikan pertanyaan. Mereka memusatkan perhatiannya pada pengolahan belajar. Jurnal-jurnal mereka dipenuhi dengan laporan tentang penelitian yang memperlihatkan cara pengolahan pendidikan atau memperlihatkan cara yang lebih baik untuk mengajarkan membaca, matematika, dan studi-studi sosial. Keunggulan satu metode terhadap metode lain diungkapkan dengan bukti-bukti statistik abstrak, yang anehnya diacu sebagai bukti yang kuat. Jurnal-jurnal ini menerangkan bagaimana suatu kemajuan ini dapat dicapai, dan kadang-kadang memberikan suatu khayalan yang hebat. Dan tentu saja khayalan-khayalan ini tidak dapat dipraktikkan di lapangan.

Tentu saja, ada banyak kesalahan yang terjadi pada semua hal di atas. Hal ini membelokkan perhatian dari hal-hal yang lebih penting. Seperti ditulis oleh Theodore Roszak: “Terlalu banyak alat-alat, seperti banyaknya birokrasi, hanya menghambat aliran alamiah proses belajar-mengajar. Dialog yang bebas, pencarian kecerdasan yang memenuhi otak, terletak pada hati nurani pendidikan. Apabila seorang guru tidak mempunyai waktu, motivasi, atau akal untuk memberikan hati nuraninya; dan murid-murid mengalami dekadensi moral, bosan, tidak mampu menggerakkan perhatian guru, ini adalah problem pendidikan yang harus diselesaikan.”

Sementara itu, narasi-narasi baru mulai menyapa para orang tua. Banyak orang tua – secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi – yang memiliki narasi sederhana – narasi kemanfaatan ekonomi. Orang tua cenderung menyukai gagasan bahwa sekolah sebagai media pelatihan dasar untuk meraih pekerjaan di masa depan, sebagai pegawai negeri atau karyawan kantoran. Karena itulah mengapa cerita tentang kemanfaatan ekonomi dibicarakan kembali dalam iklan-iklan televisi dan pidato politik sebagai alasan mengapa seorang anak pergi ke sekolah.

Akan tetapi untuk semua popularitasnya yang menyebar luas, tuhan kemanfaatan ekonomi tidak mampu menciptakan alasan yang memuaskan bagi pendidikan di sekolah. Asumsi bahwa produktivitas dan pendidikan saling bergandengan tangan, dan janji memberikan pekerjaan yang menarik adalah berlebihan. Tidak ada suatu bukti yang kuat untuk mempercayai bahwa gaji yang tinggi, pekerjaan yang menarik akan tersedia setelah mereka lulus dari sekolah. Bahkan sekarang, semakin banyak tenaga terdidik – lulusan sekolah – yang menganggur. Satu sistem pendidikan yang sangat menekankan keutamaan kemanfaatan ekonomi itu sangat terbatas untuk diterapkan, bahkan berarti merendahkan peradaban dunia dan melecehkan kemanusiaan seseorang. Atau paling sedikit, hal itu akan merendahkan gagasan tentang apa yang disebut pelajar yang baik.

Sebetulnya ini adalah suatu kenyataan yang sangat menyedihkan. Para pemimpin bangsa di negara maju dan terbelakang menempatkan tuhan ekonomi di atas segala-galanya dalam pendidikan. Bahkan hal ini didukung oleh para guru atau penyelenggara pendidikan. Tuhan ekonomi ini sangat kuat, persiapan untuk memperoleh penghidupan, diberi posisi metafisik yang sangat tinggi. Tampaknya tuhan kemanfaatan ekonomi ini memiliki pasangan yang menggairahkan dan selalu tersenyum : narasi konsumerisme.

Tuhan konsumerisme memiliki aksioma dasar moral yang dinyatakan dalam slogan ”Siapa pun yang mati dengan mainan yang paling banyak, dia adalah orang yang menang.” Dari pepatah ini dapat dikatakan bahwa, kebaikan itu melekat kepada orang-orang yang membeli segala sesuatu, sedangkan kejahatan itu berada pada orang-orang yang tidak dapat membelinya. Tuhan konsumerisme sangat mirip dengan tuhan kemanfaatan ekonomi namun ada perbedaan: kemanfaatan ekonomi merumuskan bahwa anda adalah apa yang kamu perbuat untuk mendapatkan penghidupan; sedangkan konsumerisme merumuskan bahwa anda adalah apa yang bisa kamu kumpulkan.

Penyembahan terhadap tuhan konsumerisme, secara mudah menjadi dasar metafisik dari pendidikan di sekolah – meskipun sering tidak diakui secara terang-terangan. Ini karena konsumerisme telah ditekankan kepada para kaum muda di awal kehidupan mereka. Sejak kecil mereka telah dijejali dan diajari oleh perindustrian iklan-iklan konsumerisme. Di Amerika, sebagai contoh, media periklanan yang utama adalah televisi. Televisi mulai dilihat anak saat usia 8 bulan dan mulai dilihat secara serius pada usia 3 tahun. Pada usia ini anak-anak mulai menanyakan tentang produk-produk yang diiklankan dan menyanyikan jingle-jingle (lagu dalam iklan) yang mengiringinya. Antara umur 3 sampai 8 tahun, kaum muda Amerika rata-rata telah melihat 500.000 iklan di televisi. Ini berarti bahwa iklan di televisi merupakan suatu sumber nilai yang paling subtansial dan anak-anak itu tidak mendapat perlindugan dari semua ini. Iklan-iklan di televisi ini menunjukkan bahwa tuhan konsumerisme memiliki hubungan yang sangat dekat dengan narasi teknologi. Bahkan pesan-pesan televisi yang menyampaikan tentang konsumsi dan teknologi telah sampai dalam bentuk cerita perumpamaan yang bernuansa keagamaan.

Terangkatnya tuhan kemanfaatan ekonomi, konsumerisme, dan teknologi ke tingkat ajaran metafisik, merupakan kemunduran kemanusiaan. Bahkan dapat dikatakan bahwa kita telah sampai pada batas ambang kecerdasan kita – atau lebih buruk lagi, yaitu batas ambang dari kebijaksanaan kita.

Lalu, narasi macam apakah yang dapat menolong sebagai pedoman di abad akselerasi? Neil Postman mengusulkan narasi-narasi: planet Bumi sebagai kendaraan ruang angkasa, malaikat yang terjatuh, terus berargumentasi sebagaimana pengalaman di Amerika, hukum keanekaragaman, dan penjalin kata-kata mencipta dunia. Kita perlu melengkapi satu lagi narasi yaitu kemanusiaan abadi.

Setiap kepercayaan adalah bagian dari sebuah narasi khas yang mnceritakan tentang makna menjadi seorang manusia, makna menjadi seorang warga negara, dan makna menjadi seorang cendekiawan. Dan narasi-narasi ini dapat ditemukan dalam berbagai tradisi suatu bangsa. Seorang penggagas barangkali memikirkan penting sebuah upaya menentukan suatu prioritas dari beberapa narasi. Mengapa satu narasi lebih tinggi atau lebih rendah dibanding narasi lain, tergantung pada apa yang kelihatannya menjadi kebutuhan pada waktu tertentu.

Akselerasi Angger bermaksud menawarkan suatu solusi yang terdiri dari enam narasi. Satu per satu atau bersama-sama, narasi ini diharapkan memiliki gaung dan kekuatan yang cukup untuk dijadikan landasan bagi pelaksanaan pendidikan di sekolah. (Bagi pembaca yang berminat berdiskusi lebih jauh mengenai narasi-narasi ini dapat merujuk pada buku kami : 5 Kunci Menjadi Manusia Bersejarah). Saya yakin, narasi-narasi tersebut menawarkan petunjuk moral, pemikiran yang berkelanjutan, penjelasan-penjelasan tentang masa lalu, kejelasan tentang saat ini, dan harapan untuk meraih masa depan. Mereka sangat dekat dengan pemikiran transendensi seperti yang dapat dibayangkan dalam konteks pelaksanaan pendidikan di sekolah.

(bersambung…)

Kategori: Inovasi Pembelajaran
Ditandai: , , , , , ,

HEIJUNKA

November 7, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Syarat dasar untuk dapat memanage sgl sesuatu:

heijunka

apa maksud heijunka?

heijunka .= leveling = stabil = istiqomah = ajeg.

sudahkah anda heijunka?

Kategori: Inspirasi

BAIK ATAU ADIL

November 7, 2008 · & Komentar

Pilih salah satu,
lebih penting mana,
baik atau adil?

mengapa?

Kategori: Inspirasi

INVESTASI

November 4, 2008 · & Komentar

Pikirkan
ketika anda
berusia 60 tahun,
70 tahun,
dan 80 tahun.

apa yg anda banggakan?
apa yg anda sesali?

berinvestasilah hari ini.

Kategori: Inspirasi

MENDAKI

November 4, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Melelahkan
berat
rintangan
ujian

begitulah
mendaki

komitmen
tangguh
ulet
pantang menyerah

mendakilah
ke puncak prestasi
puncak keunggulan
puncak kebaikan

Kategori: Inspirasi