Rindu utk pulang
2 jam lagi
tiba di bandung
aman, amin.
Masukan dari Oktober 2008
2 JAM
Oktober 24, 2008 · 1 Komentar
Kategori: Inspirasi
Belajar Matematika Dengan Menyenangkan Kapan Saja di Mana Saja
Oktober 24, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar
Anak-anak menyukai belajar. Apalagi belajar matematika. Mereka menyuakai belajar matematika.
Nova, waktu itu masih TK, senang bermain onde milenium. Setelah beberapa bermain onde milenium Nova menguasai konsep berhitung sampai 10 dengan senang hati.
Ke mana pun Nova pergi, ia pertama kali akan menghitung. Ketika Nova tiba di sekolah. Turun dari motor,
“Satu…dua…tiga…empat…” Nova berpikir.
“Ibu! Motornya ada tujuh ya?”
“Betul Nova,” jawab ibunya sambil senyum.
Ketika masuk ruang tamu yang cukup besar, Nova menghitung banyaknya kursi.
Ketika ada beberapa ibu-ibu arisan, Nova menghitung banyaaknya sandal.
Di mana pun, kapan pun, Nova senang belajar matematika. Bagaimana dengan anak-anak Anda?
Tetapi ada seorang teman mengatakan,
“Ngger, namanya belajar itu memang susah. Kita harus mau menanggung kesulitan dalam belajar. Berjuang dulu. Baru nanti, di masa depan kita nikmati hasilnya. Jangan inginnya bersenang-senang saja!”
“Lha, kalau kita dapat belajar sambil bersenang-senang, mengapa tidak?”
“Kalau inginnya bersenang-senang, nanti menyesal di belakang hari.”
Bagaimana menurut Anda?
Kategori: Inovasi Pembelajaran
Ditandai: anak, belajar, belajar matematika, kursus, matematika, onde milenium
Belajar Matematika Pecahan dan Penerapannya
Oktober 23, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar
Waktu masih muda dulu saya senang belajar ilmu Faraid – ALFaraid, pembagian warisan menurut versi Islam dan AlQuran. Tampaknya banyak teman-teman yang kesulitan mempelajari Faraid. Mengapa?
Ya iyalah…mereka belum menguasai konsep aritmetika pecahan. Sedangkan Faraid selalu memanfaatkan konsep berhitung pecahan. Belum lagi banyak aturan-aturan khusus (if … then …). Bagus juga tampaknya jika dibuatkan program software khusus untuk hitung pecahan warisan ini.
Yang mengingatkan saya tentang Faraid ini adalah kabar minggu lalu atau kapan bahwa bintang film horor Indonesia, Susana (Suzana), telah meninggal. Mungkin memang sudah tua atau karena sakit atau karena hal yang lain. Tapi sore kemarin teman saya menyalakan tv tentang infotainment. Nah di situlah saya terbayang ilmu Faraid.
Dikabarkan dalam infotainment itu bahwa Suzana telah menulis wasiat bahwa putri kandungnya tidak berhak menerima warisan!?
Mana mungkin?
Jika menerapkan ilmu faraid mestinya, putri tunggal (?) Suzana itu pasti dapat bagian warisan.
Seingat saya nih…
Seseorang, misalnya Susana, berhak berwasiat. Tetapi besarnya wasiat ini maksimal adalah 1/3 dari total harta warisan tersebut.
Mari kita buat contoh soal sederha.
Misalnya Susi meninggal dengan banyak warisan. Susi memiliki satu putri tunggal saja. Susi berwasiat bahwa seluruh harta warisannya dihibahkan untuk kepentingan sosial.
Berapa bagiankah warisan yang diterima oleh putri tunggal Susi?
1. Jika kita berasumsi bahwa wasiat itu sah 100% maka maka seluruh harta akan dihibahkan dan sang putri tunggal tidak mendapat warisan sama sekali. Dalam hal ini kita tidak belajar matematika pecahan dong!
2. Mari sekarang kita asumsikan ilmu faraid berlaku.
a. Wasiat sah maksimal hanya 1/3 bagian.
b. Putri tunggal memperoleh hak waris 1/4 bagian dari sisa warisan (tolong dikoreksi ya…)
Maka:
Harta peninggalan = 1 bagian.
diwasiatkan 1/3 bagian
Sisa = 1 – 1/3 = 3/3 – 1/3 = 2/3 bagian
Sisa (2/3 bagian) inilah yang akan dibagikan ke ahli waris.
Putri tunggal berhak 1/4 bagian dari sisa =
1/4 x 2/3 = 2/12 = 1/6 bagian.
Jadi Putri tunggal memperoleh 1/6 bagian dari total harta warisan. (Lumayan)
Mari kita rangkum ulang perhitungan di atas:
Hibah = 1/3 bagian.
Putri tunggal = 1/6 bagian.
Total yang disalurkan=
1/3 + 1/6 = 2/6 + 1/6 = 3/6 = 1/2 bagian
Jadi masih ada 1/2 bagian yang tersisa?
Akan disalurkan ke mana sisa 1/2 bagian ini?
Bagaimana pendapat Anda?
Kategori: Inovasi Pembelajaran
Ditandai: belajar, belajar matematika, kursus, matematika, pecahan, susana, suzana, warisan
MENGAPA BLENDED LEARNING
Oktober 23, 2008 · 1 Komentar
Satu hari kemarin, banyak sekali orang mengujungi blog sy dg kata kunci di search engine “blended learning”.
mengapa bs begitu?
apakah ada yg sdg riset blended learning?
bagus kalau gitu!
Kategori: Inovasi Pembelajaran
Rahasia Sukses: Tidur Awal
Oktober 22, 2008 · & Komentar
Saya tidak menyangka. Hal sepele seperti itu pengaruhnya sangat besar. Rahasia untuk sukses adalah tidur awal dan bangun awal.
Ah…semua orang juga bisa melakukannya. Hanya tidur awal dan bangun awal saja.
Maksudnya, jam berapa awal itu?
Tidur awal adalah berangkat tidur sebelum jam 10 malam (sebelum jam 22). Bangun awal adalah bangun sebelum jan 6 pagi. Lebih bagusnya lagi adalah sebelum jam 4 dini hari.
Rata-rata orang dewasa membutuhkan tidur 6 jam sehari. Jadi jika berangkat tidur pukul 22.00, maka bangun awal adalah pukul o4.00.
Manfaat yang saya rasakan dari tidur awal dan bangun awal adalah badan lebih segar, sehat, dan bahagia. Sebelum memulai hari, kita memiliki berbagai macam pilihan untuk menyiapkan diri. Lha kita bangun jam 4 dini hari. Bebaskan mau mengerjakan apa dulu? Mau baca buku, silakan. Mau ngeblog, silakan. Mau menyiapkan pekerjaan hari itu, silakan.
Manfaat paling besar dari tidur awal dan bangun awal, menurut saya, adalah disiplin. Kita akan lebih mudah untuk mengatur diri. Lebih mudah manajemen waktu. Lebih mudah menepati janji.
Bagaimana dengan Anda?
Salam…
(angger: agus Nggermanto: Pendiri APIQ)
Kategori: Inspirasi
Ditandai: bahagia, disiplin, manajemen, sukses, tidur
TERBANG
Oktober 22, 2008 · & Komentar
sdh lama gak terbang
gak naik pesawat terbang
skrg baru mau terbang lagi
gmn rasanya ya?
mohon doanya ya…
trims.
Kategori: Inspirasi
Menghilangkan Sia-sia (waste, muda) dalam Belajar Matematika
Oktober 21, 2008 · & Komentar
Banyak hal sia-sia, tidak berguna, ketika kita mempelajari sesuatu. Karena sistem pendidikan dan pembelajaran yang tidak tepat banyak waktu putra-putri kita terbuang percuma begitu saja. Padahal bila kita memanfaatkan metode yang efektif untuk belajar niscaya hasilnya akan jauh lebih bagus.
DI bulan puasa kemarin, saya membeli minuman kotak di super market – Yogya Ciwalk. Karena buru-buru, saya langsung terima sebungkus plastik yang berisi selusinan minuman kotak setelah membayar di kasir. Ketika kami mau minum minuman kotak itu kami kebingungan.
“Kok tidak ada sedotannya?”
Sedotan biasa menempel di kemasan minuman. Tapi ternyata tidak ada. Lalu kami cari-cari terus dan ternyata memang sang kasir tampaknya lupa tidak memberi kami sedotan. Repot juga. Posisi sedang berkendara, mau minum, tidak ada sedotan.
Itulah contoh kesia-siaan, tidak berguna. Dalam istilah lean management kita kenal sebagai waste atau muda.
Saya membayangkan betapa sibuknya karyawan Griya melepas sedotan dari kemasan minuman kotak. Kemudian menyimpan sedotan itu di dekat kasir.
Kemudian mengingatkan kasir bahwa setiap pembelian minuman kotak perlu ia sertakan sedotan.
Kemudian kasir Griya lupa tidak menyertakan sedotan tersebut ke customer yang membeli minuman kotak.
Kemudian customer merepotkan diri mencari-cari sedotan di antara berbagai macam belanjaan.
Kemudian customer kecewa.
Kemudian customer tidak bisa minum minuman kotak dengan nyaman.
Hmmm… betapa banyak hal sia-sia dalam aktivitas di atas. Pernahkah Anda mengalami hal serupa?
Solusinya?
Sederhana saja. Karyawan Griya tidak perlu melakukan apa pun. Cukup membiarkan sedotan itu tetap menempel dalam kemasan minuman kotak. Selesai.
Dalam belajar matematika, saya sering melihat banyak hal sia-sia. Sebenarnya, dalam kehidupan juga sering kita temukan banyak hal sia-sia, tidak berguna.
Contoh dalam belajar matematika adalah anak-anak diminta mengerjakan soal dengan cara panjang.
235 = 200 + 30 + 5
142 = 100 + 40 + 2
———————-+
…….= 300 + 70 + 7
…….= 377
Anak wajib mengerjakan dengan cara panjang di atas. Apa yang terjadi pada anak-anak umumnya?
Anak-anak biasanya dapat menyelesaikan soal di atas tetapi kurang teliti sehingga salah hitung. Padahal bila anak mengerjakan dengan cara langsung seperti berikut ini pasti bisa. Di APIQ, kami mendorong anak-anak untuk menyelesaikan dengan cara sederhana ini.
235
142
——-+
377
Dan tidak akan salah hitung.
Lalu apa solusinya?
Sederhana saja. Kita tidak perlu melakukan apa-apa. Biarkan saja anak mengerjakan 235+142 dengan caranya sendiri yang paling sesuai. Selesai.
Tetapi bagaimana bila kita ingin memperkenalkan konsep ratusan dan puluhan serta satuan?
Pertanyaan yang bagus.
Cara yang benar adalah bukan memperumit sesuatu yang sederhana. Tetapi menyederhanakan sesuatu yang masih rumit. Jadi alternatif pendekatan kita, yang kami terapkan di APIQ, adalah:
100 + 30 + 5 = …..
200 + 40 + 1 = …..
———————- +
Ini adalah masalah yang panjang. Anak-anak akan berpikir untuk menyederhanakannya. Seorang anak mungkin akan mengerjakannya dengan menjumlahkan ke samping, lalu ke bawah. Atau anak-anak juga dapat mengerjakannya dengan cara menjumlahkannya ke bawah, lalu ke samping. Sama sah dan benarnya.
Mari kita sederhanakan segala sesuatu yang memang masih dapat kita sederhanakan.
Buanglah hal yang sia-sia. Setidaknya, kurangi hal yang sia-sia. Itulah kunci untu keraih kemajuan.
Majulah Indonesiaku tercinta!
Salam…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)
Kategori: APIQ · Inovasi Pembelajaran
Ditandai: anak, griya, kreatif, kursus, matematika, muda, sederhana, sedotan, sia-sia
Cara Mudah dan Asyik Belajar Matematika Pecahan
Oktober 20, 2008 · & Komentar
Berhitung pecahan dapat saja menjadi masalah berat bagi para siswa. Tetapi bila kita mengetahui cara yang tepat untuk mengajarkan pecahan maka pecahan akan menjadi materi pelajaran yang mengagumkan. Berikut ini adalah beberapa pengalaman kami di APIQ yang semoga dapat berguna bagi kita bersama.
1. Kenalkan konsep pecahan dengan bantuan visualisasi. Kami di APIQ mengenalkan pecahan dengan bantuan mainan lingkaran milenium. Mainan ini berupa lingkaran yang dipotong-potong menjadi pecahan 1/2, 1/3, 1/4 dan seterusnya. Kami juga memanfaatkan dadu milenium untuk mengenalkan pecahan. Lebih tepatnya, dadu milenium memperluas makna pecahan kepada perbandingan.
2. Jangan buru-buru mengenalkan konsep abstrak pecahan. Tetaplah santai dengan permainan pecahan dulu. Setelah kita yakin anak kita menguasai konsep pecahan melalui permainan secara alamiah mereka akan tertantang untuk belajar konsep abstrak tentang pecahan. Inilah waktu yang tepat mulai masuk ke notasi matematika pecahan.
3. Gunakan istilah pecahan yang memudahkan. Terima istilah apa saja yang memudahkan siswa. Misal 1/2 akan lebih bagus kita baca satu per dua bukan seperdua. Beberapa anak mungkin sudah akrab dengan menyebutnya setengah – tidak masalah. Sedangkan 1/3 sebaiknya kita baca satu per tiga bukan sepertiga. Kedua cara baca di atas sama benar. Tetapi membaca dengan sebutan “satu” lebih konsisten dari sebutan “se”. 1/4 adalah satu per empat, 1/5 adalah satu per lima, dan seterusnya.
Suasana belajar pecahan sambil bermain sudah pernah saya tuliskan beberapa waktu lalu. Silakan untuk membacanya lagi. Semoga memberi manfaat yang besar. Amin.
Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)
Kategori: Uncategorized
Anda Adalah Seorang CEO, Kata Peter Drucker
Oktober 19, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar
Saat ini saya sedang asyik membaca buku The Definitive Drucker. Sambil mengenang jasa almarhum Peter Drucker, saya merenungi kembali konsep-konsep manajemen dan kepemimpinan yang luar bisa dari Peter.
Di ujung akhir kehidupannya Drucker fokus pada tema peran CEO. Di dunia kompetisi yang semakin sengit, Peter mengatakan, peran CEO semakin kuat dalam memberi kepemimpinan bisnis, kempemimpinan moral, dan kepemimpinan keseimbangan.
Menarik bagi saya, Peter mengaskan bahwa kita semua adalah seorang CEO. Yang dimaksud kita semua adalah para knowledge worker. Karena Anda membaca tulisan saya ini, apalagi melalui internet, maka Anda adalah knowledge worker. Jada Anda termasuk knowledge worker.
Apa tugas terpenting bagi kita sebagai seorang CEO?
1. Memiliki pandangan yang luas, visi yang luas, dan pikiran terbuka. Buka pikiran lebar-lebar terhadap berbagai kesempatan. Nasihat ini sangat berguna bagi saya yang kadang-kadang merasa sebagai CEO APIQ. APIQ harus memiliki pemikiran terbuka. Melihat inovasi-inovasi baru dari segala bidang untuk memajukan pendidikan matematika kreatif di Indonesia dan dunia secara luas.
2. Brand CEO. Kenali diri kita sendiri secara teliti. Apa yang selalu menjadi gairah Anda? CEO perlu menyelesaikan pekerjaannya dengan penuh gairah. Dalam hal ini saya beruntung memang saya bergairah menekuni matematika kreatif khususnya di APIQ.
3. Pasang taruhan Anda. Meski keberuntungan datang tapi bila Anda tidak memasang taruhan, mana mungkin dapat menang? Maksudnya, kita sebagai CEO, harus berani mengambil keputusan dengan risiko yang sudah dipertimbangkan. Takut? Memang kadang kita merasa takut. Ragu-ragu? Biasa kita merasa ragu-ragu. Ambil keputusan untuk maju. Bila ternyata salah maka belajarlah dan perbaiki kesalahan itu. Siap lagi untuk maju lagi. Pesan ini menguatkan saya untuk mendorong APIQ lebih maju lagi.
Ayo….
semangat….
Maju terus Indonesia tercinta!
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)
Kategori: Inspirasi
Ditandai: CEO, manajemen, peter drucker, risiko, visi
Proses Yang Benar Memberikan Hasil Yang Benar
Oktober 19, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar
Itulah salah satu prinsip dalam Toyota Way.
Toyota berusaha menghilangkan waste (muda, sia-sia) dalam proses. Sehingg Toyota hanya mengerjakan sesuatu yang benar-benar bermanfaat bagi customernya. Gaya manajemen ini kita kenal sebagai lean management.
Proses yang benar memberi hasil yang benar. Benarkah begitu?
Saya mencoba menempuh proses yang benar. Olahraga rutin setidaknya dua kali dalam satu minggu. Saya pilih olah raga yang sekaligus jadi hobi: badminton. Saya terus badminton rutin. Hasilnya? Alhamdulilah sehat walafiat.
Ketika bulan puasa bagaimana?
Dengan sedikit modifikasi masih dapat olah raga rutin 2 kali seminggu.
Ketika musim mudik?
Ini masalahnya. Tidak mudah menjaga olah raga rutin dalam kondisi musafir – mudiker. Jadilah rutinitas olah raga agak kacau-balau.
Alhamdulilah setelah lebaran dapat kembali mulai rutin badminton 2 kali seminggu. Hasilnya?
Tidak sebugar sebelumnya. Badan malah terasa capek setelah badminton. Mengapa ya?
Kategori: Badminton
Ditandai: Badminton, konsisten, olah raga, rutin, sehat, toyota