Anak-anak saya sangat senang bermain-main di Alun-alun Tulungagung. Tentu cuaca di Tulungagung jauh lebih panas dari cuaca di Bandung Jawa Barat tempat kami tinggal sehari-hari. Oleh karena itu alun-alun Tulungagung menjadi tempat sejuk untuk bermain anak-anak. Banyak pepohonan rimbun. Kolam ikan dan beberapa air mancur mengalirkan kesejukan. Fasilitas jalan kaki – bahkan pijat refleksi dengan kerikil – banyak tersedia.
Ketika beberapa hari kemudian kami melewati alun-alun Pati, anak-anak kagum lagi. Di alun-alun Pati banyak sekali orang berjualan – berjualan mainan anak-anak. Alun-alun Pati mirip dengan pasar malam yang tentu sangat menggembirakan bagi anak-anak.
Lalu spontan terpikir di benak anak-anak,
“Kalau alun-alun Bandung di mana ya? Apakah Bandung tidak punya alun-alun?”
Bagi kami jelas. Bandung punya alun-alun. Bahkan anak-anak sering kami ajak ke alun-alun Bandung. Tetapi tampaknya alun-alun Bandung tidak begitu mengesankan bagi anak-anak kami. Sehingga mereka tidak ingat sama sekali dengan alun-alun Bandung. Mengapa bisa begitu?
“Bandung juga punya alun-alun. Kita sering ke alun-alun Bandung. Nanti setibanya di Bandung kita ke alun-alun Bandung, OK?”
“Asyik…”
Pagi tadi, habis subuh kami meluncur ke alun-alun Bandung. Diiringi dengan suasana sejuk khas Bandung. Jalan-jalan di Bandung masih lancar bebas hambatan sepagi itu. Matahari pagi mulai memancarkan cahaya kehangatan.
Saya pikir alun-alun Bandung akan lebih menakjubkan bagi anak-anak dari alun-alun Tulungagung mau pun Pati. Wajar, Bandung kan ibu kota provinsi Jawa Barat.
“Jelek ya alun-alun Bandung?” komentar anak-anak.
Saya berusaha memgkompensasi kekecewaan mereka dengan mengajak mereka bermain badminton di alun-alun Bandung. Asyik. Mereka bergembira. Tetapi masih terbesit di wajah mereka bahwa mereka tidak kagum dengan alun-alun Bandung.
“Oooo… ini alun-alun Bandung. Sudah pernah kita ke sini. Bau ya?”
Kali ini saya tidak ingin banyak membela diri. Biarlah sementara anak-anak menilai dengan jujur alun-alun ibu kota provinsi Jawa Barat itu.
Menurut saya ada dua hal yang setidaknya membuat alun-alun Bandung tidak nyaman. Pertama, sampah. Meski kita tidak melihat fisik sampah tersebut tetapi bau sampah tercium dari pojok alun-alun.
Kedua, yang lebih berbahaya, gelandangan. Habis subuh, beberapa tempat duduk yang mestinya nyaman untuk berjemur hangat matahari pagi menjadi menjijikkan karena dipakai oleh gelandangan untuk menjemur pakaian mereka. Belum terlalu banyak sih gelandangan yang menjemur cuciannya di alun-alun Bandung. Tetapi jika tidak ada tindakan segera dari yang berwenang titik api ini, jemuran pakaian gelandangan, akan menjadi kobaran api yang sulit dipadamkan.
Sebelum terjadi kebakaran yang membahayakan, semoga yang berwenang segera tanggap. Memadamkan titik api yang baru kecil jauh lebih mudah dan ringan dari memadamkan kebakaran hutan.
Tentu bila yang berwenang dapat membina para gelandangan itu akan menjadi lebih baik. Masyarakat juga akan turut mendukung program pembinaan itu. Kami sendiri di APIQ siap membantu pihak berwenang untuk membina anak-anak gelandangan tersebut. Tentu saja, kemampuan kami adalah hanya di bidang pendidikan khususnya matematika kreatif.
Mari kita bangun negeri tercinta kita malalui cara unik kita masing-masing.
Selamat berkarya.
Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)
3 tanggapan so far ↓
Ardianto // Oktober 10, 2008 pada 12:59 am |
Alun-alun bandung memang tak begitu menarik…
Eh, dari alun-alun Pati, berarti pulangnya lewat Kudus dong…
Alun-alunnya lumayan lo..
yudhistira31 // Oktober 10, 2008 pada 7:06 am |
sepertinya alun2 di daerah tk II memang sesuatu yg amat sangat menarik anak-anak…semua teman saya juga berpendapat demikian…
apiqquantum // Oktober 10, 2008 pada 8:25 am |
yup,
lewat Kudus. seringnya memilih ring road Kudus lancar dan sederhana. Trims Ardianto.
@yudhistira31
Hmmm…
aku harus cara alun2 daerah tk II kota madya Bandung nih.
Di mana ya?