APIQ: Matematika Kreatif Aritmetika Quantum

Dampak Aritmetika Jari, Sempoa, atau Jarimatika

September 23, 2008 · 15 Komentar

Saya selalu berusaha untuk berpikir positif dalam segala hal. Tetapi saya harus siap menghadapi suatu risiko dengan lambat. Kadang sangat terlambat. Tampaknya saya harus lebih waspada dan siaga. Berpikiran positif tetap penting, saya yakin itu.

Misalnya dalam menyikapi pengajaran aritmetika (aritmatika) dasar. Saya biasanya mengijinkan orang tua untuk mengajari anaknya apa saja asalkan anaknya fun, gembira, semangat tentangnya. Di belakang hari, masalah bisa muncul sewaktu-waktu.

“Mas, sebaiknya apakah anak saya, saya daftarkan ke sempoa?”

“Jika anaknya memang menyukainya silakan mendaftar. Bila tidak ya jangan. Menurut saya sih, sebaiknya jangan mendaftarkan anak Ibu ke sempoa. Tetapi terserah Ibu dan anaknya.”

Di belakang hari, ketika anak yang kursus sempoa itu mendapat masalah. Saya yang harus ikut membantu. Butuh perjuangan ekstra keras untuk membantunya. Mengapa?

Karena sempoa mengganti logika/nalar aritmetika (aritmatika) dasar menjadi sebuah proses mekanis menggerak-gerakkan biji sempoa. Akhirnya nalar aritmetika anak itu tidak berkembang. Meski anak itu pernah juara lomba sempoa – bisa berhitung penjumlahan dengan sangat cepat sampai ribuan – tetapi tidak menjamin adanya perkembangan nalar aritmetika.

Ketika ia menemui soal 8 + 3 = ….

dan ia lupa proses yang diperlukan untuk menggerakkan biji sempoa, mandeglah dia. Kita coba alternatif menghitung pakai jari pun tetap susah.

Bagaimana dengan Jarimatika?

Saya berharap banyak Jarimatika jauh lebih baik dari sempoa. Tetapi jika prinsip Jarimatika adalah menggantikan biji-biji sempoa dengan jari maka tidak akan banyak perbedaan dengan sempoa.

Kami di APIQ mengenalkan sempoa tangan – kami menamainya sebagai sempoa tangan sebelum mengenal istilah Jarimatika – kepada anak-anak yang sudah matang nalar aritmetikanya. Bagi mereka, sempoa tangan – atau jarimatika – menjadi sebuah alternatif alat hitung yang menarik. Sempoa tangan ini tidak pernah menggantika posisi nalar aritmetika. Apalagi nalar matematika. Seperti kita ketahui, matematika jauh lebih luas dari sekedar aritmetika.

Bahkan perhitungan pakai jari biasa pun, dapat memperlambat proses nalar aritmetika anak-anak.

“Berapa 4 + 3 ?”

4 di kepala, 3 di tangan. Habis 4? …5…6…7.

Sepertinya tidak ada yang salah kan?

Tapi saya menemukan banyak anak bermasalah dengan cara mengajar seperti itu. Bahkan ketika anak sudah mulai besar, sampai kelas 4 SD, masih tergantung dengan tangannya. Anak itu sudah lancar menghitung perkalian dan beragam penjumlahan. Tetapi bila ia bertemu hitungan 6 + 8, ia akan masih tergantung dengan jarinya.

Tugas saya lagi, tim APIQ maksud saya, untuk membantunya. Dengan pendekatan khusus dapat membantu anak itu untuk lebih mendaya-gunakan kekuatan imajinasi.

Apa solusi terbaik?

1. Gunakan lidi. Seperti kita waktu masih kecil dulu berhitung memanfaatkan lidi. Sejauh ini saya tidak menemukan efek negatif dari lidi. Mungkin, lidi kurang menarik karena monoton. Cobalah mewarnai lidi dengan warna-warna yang cemerlang. Saya yakin akan lebih menggugah minat anak.

2. Gunakan kelereng. Kelereng jauh lebih menarik.

3. Gunakan Onde Milenium. Tentu sangat menarik. Segaimana siswa-siswa APIQ memanfaatkannya. Bukan hanya untuk nalar aritmetika. Tetapi Onde Milenium juga mengajak anak-anak untuk kreatif.

4. Gunakan Dadu Milenium. Ini juga menakjubkan. Siswa-siswa APIQ mengidolakannya. Belajar konsep aritmetika dengan fun dan kreatif.

5. Dan lain-lain.

Salam hangat…

(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Lebih lanjut tentang logika aritmetika dan aritmetika jari silakan baca tulisan saya yang berjudul: Hebatnya Jarimatika.

Kategori: APIQ · Inovasi Pembelajaran
Tagged: , , , , , , , , , , , , , , ,

15 tanggapan so far ↓

Tinggalkan sebuah Komentar