APIQ: Matematika Kreatif Aritmetika Quantum

Menyelamatkan Kecerdasan Logika Matematika Anak dari Kursus Matematika

September 16, 2008 · & Komentar

Ironis!
Bukankah kursus matematika seharusnya menumbuh-kembangkan kecerdasan, logika, dan nalar matematika anak kita?

Mengapa kita harus menyelamatkan kecerdasan, logika, dan nalar matematika putra-putri kita?

Ketika masa jayanya kursus sempoa, saya diskusi dengan sahabat saya yang mahasiswa ITB.

“Saya tidak akan memasukkan anak saya ke kursus sempoa!”
“Mengapa? Bukankah anak-anak jadi dapat berhitung cepat?” saya bertanya.
“Tidak ada gunanya anak dapat berhitung cepat. Cukup dengan uang 5 ribu rupiah, anak saya sudah dapat berhitung lebih cepat dari itu.”
“Bagaimana caranya?”
“Saya belikan saja kalkulator di Gasibu seharga 5 ribu rupiah. Beres semuanya!”

Teman saya itu menganalisis kursus matematika sempoa dengan sangat kritis. Saya pikir ia benar dengan pandangannya seperti itu. Ketika matematika direduksi tinggal aritmetika, kemudian direduksi tinggal berhitung dasar, kemudian direduksi lagi menjadi proses mekanis belaka, maka hilanglah kecerdasan matematika.

“Menurut kamu apakah APIQ juga setara dengan kalkulator dari Gasibu?”
“Tidak. APIQ kan juga memperkenalkan konsep geometri, aljabar, statistik, dan lain-lain. Bahkan semua dikemas dalam suasana permainan kreatif. Jadi APIQ dapat mengembangkan kecerdasan, logika, dan nalar anak kita.”

Memang kita perlu hati-hati mengajarkan sempoa ke anak-anak kita. Sempoa memang bagus. Tetapi bila tepat pemanfaatannya. Sempoa adalah sekedar alat bantu hitung dasar penjumlahan dan pengurangan khusus untuk bilangan bulat positif. Untuk perkalian dan pembagian sudah bukan keunggulan alami dari sempoa. Apalagi kuadrat atau pangkat yang lebih tinggi!

“Bagaimana dengan jarimatika?”
“Sama saja dengan sempoa!”
“Tapi kan jarimatika tidak perlu alat bantu! Hanya menggunakan jari. Jadi kamu tidak bisa membandingkannya dengan kalkulator dari Gasibu itu!”
“Lalu bila dengan jari apakah bisa untuk geometri, aljabar, kalkulus?”
“Memang tidak bisa sih… Tapi jarimatika kan produk dalam negeri. Banyak memberdayakan kaum ibu!”
“Saya setuju itu. Memajukan produk dalam negeri. Memajukan kaum ibu. Wirausaha. Itu semua bagus. Tapi juga harus sekaligus memberi nilai tambah bagi kecerdasan matematika anak kita!”

“Ah…kamu terlalu kritis saja hari ini. Aku tidak mau diskusi lagi dengan kamu. Jika aku tanya lagi tentang Kumon, Sakamoto, Bimbingan Belajar atau lainnya pasti kami sewot lagi.”
“Aku memang kritis tapi tidak sewot,” jawabnya dengan sewot.
“Mari kita ganti topik diskusi aja. Bagaimana pendapat kamu tentang kemajuan demokrasi di Indonesia?”
….???….

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Kategori: Inovasi Pembelajaran
Ditandai: , , , , , , , , , , , , , ,

3 tanggapan so far ↓

  • devi yudhistira // September 17, 2008 pada 7:43 am | Balas

    Yang terpenting adalah benar2 memahami “konsep” dan bagi anak-anak memang kemasannya lebih oke kalo dilakukan dengan bermain namun demikian permasalahannya bagaimana jika dikejar target kurikulum, sementara ‘konsep’ saja masih belum matang???
    apakah salah jika saya ingin mematangkan konsep lebih dahulu? tentu saja konsekuensinya adalah ‘nilai’. Bagaimana menurut pak angger?

  • mama ariq // Oktober 8, 2008 pada 7:50 am | Balas

    saya juga seorang ibu yang memasukkan anak ke kumon sejak umur 4 th, sebenarnya tujuan utama saya untuk memberikan kesibukan saja kepada anak saya, karena dia sangat aktif , tidak bisa diam, sehingga sayang juga kalau energinya terbuang percuma. Dia sangat semangat sekali mengikuti les kumonnya, walaupun untuk buat PR masih sering malas dan menunda2, tapi dia tetap mau lanjut les kumonnya sampai sekarang. Bagi saya, setuju kalau usia dini, asal anaknya mau, bukan kita yang memaksa, anak dikenalkan dengan ilmu matematika.

  • apiqquantum // Oktober 8, 2008 pada 8:07 am | Balas

    Terima kasih mama ariq,
    saya setuju, mari kita dukung anak kita selama anak kita menyukainya.

    Terima kasih devi yudhistira,
    memang bila harus memilih salah satunya, konsep lebih penting dari sekedar nilai ulangan.

    Tetapi kami di APIQ berusaha menyelaraskan keduanya.

    Syukur, sejauh ini banyak yang berhasil. Semakin awal anak belajar matematika kreatif semakin harmonis dan tinggi manfaat yang ia peroleh.

Tinggalkan sebuah Komentar