Bejo sangat beruntung mendapat guru yang sangat bijak. Meski sang guru sangat pandai, tak pernah ia menyombongkan diri. Beliau tampil dengan rendah hati. Cara mengajarnya pun tidak konvensional.
“Bejo, ini ada 20 kg beras. Tolong bagikan ke 1 orang penduduk miskin di sana!” perintah sang guru.
“Baik Guru!” jawab Bejo sigap.
Setelah membagikan beras 20 kg itu ke 1 orang penduduk, Bejo kembali menemui gurunya.
“Berapa kg beras yang diterima oleh 1 orang penduduk miskin itu?” tanya sang guru.
“20 kg beras,” jawab Bejo.
“Ini bagi kan lagi 20 kg beras kepada 2 orang miskin!”
“Baik guru!”
Setelah Bejo selesai membagikan beras itu, guru bertanya,
“Berapa kg beras yang diterima oleh masing-masing orang miskin itu?”
“10 kg.”
“Bagikan lagi, ini 20 kg beras kepada 4 orang miskin!”
“Siap Guru!”
Bejo tidak paham benar apa maksud gurunya memerintahkan dirinya membagikan 20 kg beras kepada penduduk miskin dengan berulang-ulang begitu. Tapi Bejo tahu bahwa gurunya pasti punya maksud yang sangat baik. Pikiran Bejo mulai mencari-cari pelajaran apa yang akan ia peroleh dari pengalaman ini.
1. Kita perlu peduli dengan masyarakat di sekitar kita khususnya orang yang berkekurangan.
2. Kita perlu bertindak menolong orang-orang lemah tersebut.
3. Beras 20 kg cukup membantu bagi satu orang/keluarga. Tetapi bila dibagi 2 orang/keluarga, masing-masing hanya dapat 10 kg. Apalagi bila dibagi 4 orang/keluarga, masing-masing tinggal mendapat bagian 5 kg.
4. Dengan memanggul beras 20 kg berkali-kali badan menjadi lebih sehat, seperti olah raga.
Setelah selesai, Bejo kembali menghadap gurunya. Benar saja, sang guru memberi tugas lagi.
“Ini bagikan lagi 20 kg beras kepada 10 penduduk miskin!”
“Yang ini juga, 20 kg beras bagikan ke 20 penduduk miskin!”
Belum sempat Bejo berkata apa-apa,
“Sekalian ini, 20 kg beras bagikan ke 40 penduduk miskin!”
“Baik Guru!” hanya itu jawaban Bejo.
Memanggul 60 kg beras? Membagikannya kepada 70 penduduk miskin? Bukan tugas yang ringan. Bejo menjaga agar semangatnya terus tinggi.
Memang capek mengangkut beras sebanyak itu. Tetapi Bejo bersemangat lagi ketika menatap wajah orang miskin yang begitu berseri ketika menerima bantuan beras seadanya itu. Satu kilo atau 2 kilo beras sangat berarti bagi mereka. Mari berbagi!
(Bersambung…)
Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)
3 tanggapan so far ↓
doelsoehono // September 6, 2008 pada 10:10 pm |
Salam
ya kalau berbagi jangan di bulan Ramadhon aja pak Apiq
karena berbagi di ibaratkan orang mancing tidak terlalu berharap cuma keiklasan Hati kita aja insyaalloh akan tercatat di sananya ( kata guru saya pak )
apiqquantum // September 7, 2008 pada 2:11 am |
Setuju Pak Doel…
Selamat ber-LAILATUL QODAR!
Silaturahmi APIQ Hari ini « APIQ: Matematika Kreatif Aritmetika Quantum // Maret 20, 2009 pada 11:47 pm |
[...] Mengenal Aljabar. 2. Semakin dibagi semakin besar. 3. Aku cinta (aljabar) AlKhawaritzmi. 4. Produktif bersama Matematika. 5. Anak-anak Kecil Belajar [...]