Mengerikan!
Kata pertama yang terlintas dalam pikiran saya ketika membaca berita tentang kekejaman Geng Nero: kelompok pelajar putri yang brutal.
Sadis!
Setelah menyaksikan tayangan penyiksaan oleh Geng Nero.
Mengapa bisa terjadi seperti itu? Brutal, Kejam, Ngawur lagi!
Bila kita runut dari akar masalahnya mungkin banyak sekali penyebabnya: kurang perhatian orang tua, pendidikan yang tidak mendidik, kelainan jiwa, arus informasi yang tidak karuan dan lain-lain.
Saya semakin ngeri karena kejadian itu terjadi di Juwana, Pati, Jawa Tengah. Anak-anak saya adalah cucu dari orang Pati di sana. Saya membayangkan betapa berat tantangan anak saya bila hidup bersama neneknya di Pati.
1. Yang berwenang sudah bertindak tepat dengan menangkap dan mengejar para pelaku. Tindakan di atas sudah masuk dalam kriminal.
2. Perlu upaya pencegahan secara sistematis. Pendidikan yang benar-benar mendidik harus jadi pertimbangan utama. Tidak sekedar mengejar lulus UN – ujian nasional – dengan menghalalkan kecurangan.
3. Informasi terpilih. Tayangan oleh TV atau youtube tentang kekerasan geng nero itu sendiri sudah berbahaya. Anak yang menonton jadi memiliki sebuah ide bahwa kekerasan itu mungkin saja dilakukan oleh pelajar putri atau yang lain-lain. Pemberitaan media cetak mungkin relatif lebih aman.
4. Teladan orang dewasa. Sebagai orang dewasa kita perlu terus-terus menerus memberi teladan kepada putra-putri kita cara hidup yang baik, saling menghargai, dan saling membantu.
5. Doa terus-menerus demi kebaikan bersama.
Tuhan, bimbinglah kami semua menuju jalanMu yang lurus…
13 tanggapan so far ↓
awaludin // Juni 17, 2008 pada 5:12 am |
Geng apa sih Mas Ngger?
Di Indonesia kayaknya sudah biasa melestarikan sesuatu yang sudah dinyatakan bersalah. Misalnya dari dulu LDII sudah diminta dihapuskan sampai sekarang masih ada. Ahmadiyah, kemungkinan besar juga akan tetap ada. Sinetron yang banyak diprotes malah di re-run. Jualan kaki lima juga dibiarkan.
Mungkin masih ada yang diuntungkan dari keberadaan mereka ya.
zao // Juni 18, 2008 pada 5:36 am |
1 kata ttg geng nero: sadis..
bwt masuk geng motor pake diplonco sesadis itu, mendingan ga usah ikutan geng motor..
semoga sodara sepupu yg tinggal di pati ntar klo ud gede ga ikut”an yg kek gini..
btw, salam kenal^^
nenyok // Juni 18, 2008 pada 7:56 am |
salam
kasihan sebenarnya, mereka itu anak2 yang kurang didikan atau arahan atau mungkin salah asuh jadi bukan sepenuhnya salah mereka kan?
antokoe // Juni 18, 2008 pada 5:38 pm |
mungkin ortu sekarang sudah gak telaten ngopeni anaknya, sehingga anak cari informasi dari luar tanpa filter. soalnya filter (ortu) sibuk dengan bagaimana mempertahankan hidup. perhatian kurang, jadi cari perhatian diluar.
Puada // Juni 19, 2008 pada 9:53 am |
Point 2: Sebagian besar pendidikan sekolah hanya mengembangkan kultur yang hanya mengejar nilai dan kelulusan, sementara membentuk kepribadian, karakter, tujuan anak belum terbayangkan karena masih menganggap kekuatan otak itu lebih penting dari pada kekuatan watak. menurut saya belajar sama pak angger dia ahlinya
doelsoehono // Juni 19, 2008 pada 6:08 pm |
saya rasa memeng ortu-ortu sekarang sepertinya kurang dalam mengawasi anak-anaknya di karenakan kesibukan yang begitu harus di jalani dan anak -anak sekarang lebih agresif dan lihae untuk mengelabuhi ortunya .
pendidikan sekarang sepertinya kurang dalam menanamkan kepribadian dan aklak budi pekerti yang luhur .
dan anak-anak sekarang sudah banyak yang menghilangkan adat Ketimurannya ……
dan lebih membanggakan kebarat-barattannya …
Kreatif: Kere dan Aktif..? « Mas Kopdang // Juni 20, 2008 pada 3:34 am |
[...] enaknya kita gosip apaan nih, Mas..? Geng Nero? Atau kekerasan STPDN yang menular ke [...]
Engguh P.F // Juni 20, 2008 pada 5:37 pm |
makanya pilih pemimpin yang paham tentang budaya.atau kalo perlu angkat jendral dari orang yang paham dengan ajaran cinta kasih. selain itu
Teater Gong di Gabusan Pati jangan di campuri dengan kampanye dunk.
genk Nero terbentuk kan bukan karena smoth kriminalnya bocah nom.. tapi mang udah jadi trend of trend centernya anak muda INA yang suka dengan budaya latah.
Engguh P.F // Juni 20, 2008 pada 5:41 pm |
Ortu…Ortu lagi jadi kambing hitam…
ingat pren.. Orang Tua sudah memenuhi tanggung jawabnya u/ menjaga titipan Gusti. sekarang dunianya cah nom…Ortu hanya melihat kita dari pinggir lapangan dan men suport kita.
ecca // Juni 20, 2008 pada 7:05 pm |
lebih baik gabungin aja ma geng motor di bandung biar tambah gilaaaaaaaaaaa !!!!!!!!!!!
natiq // Juni 27, 2008 pada 10:30 am |
untuk menguji kelihaian polisi dalam menangani masalah sekecil apapun.
bisa g ya….
gatot // Juli 25, 2008 pada 12:49 am |
benar kok klo mereka dibiarkan aja malah asik buat tontonan itung2 nonton bioskop gratis,daripada nonton yang di TV banyak bohangnya kalau mereka kan apa adanya gitu.bravo geng nero hajar terus.
kopdang » Pangantar Indistri Kreatif Indonesia // September 8, 2008 pada 3:47 am |
[...] enaknya kita gosip apaan nih, Mas..? Geng Nero? Atau kekerasan STPDN yang menular ke [...]