APIQ: Matematika Kreatif Aritmetika Quantum

(Bagian 2) Strategi Model Pembelajaran Unggul: Model Ko-Kreasi dalam Interaksi Pembelajaran

Juni 17, 2008 · 1 Komentar

Pada akhirnya ujung tombak paling menentukan dalam proses pembelajaran adalah interaksi siswa, guru, dan materi pembelajaran. Kita akan mendiskusikan tiga model interaksi. Kemudian kita dapat menganalisis model yang mana yang paling berpeluang untuk mendorong terjadinya MESTAKUNG.

Model 1: subyek dominan, guru menyampaikan kepada siswa. Dengan perencanaan dan persiapan yang matang, subyek – materi ajar -  telah tersusun rapi. Guru tinggal menyampaikan, menjelaskan, atau sedikit membantu siswa untuk memahaminya. Keunggulan model ini adalah kurikulum tersusun rapi, beban guru ringan, mudah menetapkan standar, dan terkendali.

Contoh paling sukes pendekatan model 1 ini adalah lembaga pendidikan matematika Kumon. Seorang guru di Kumon, dengan disiplin mengikuti prosedur yang telah diatur dengan rapi. Siswa menerima lembaran-lembaran kerja yang telah tersusun dengan urut. Metode Kumon banyak membantu anak-anak belajar matematika. Kumon termasuk lembaga pendidikan paling sukses di Indonesia bahkan di dunia. Kumon telah membuka cabang di puluhan negara.

Apakah metode Kumon dapat kita implementasi untuk sistem pendidikan secara umum? Ada beberapa keuntungan bila kita meniru metode Kumon. Di antaranya, kita akan melatih insan pendidikan kita untuk mempersiapkan perencanaan pendidikan dengan rapi. Jika ini berhasil, ini merupakan kemajuan besar dalam pendidikan kita. Kita jadi lebih mudah untuk memanage pendidikan kita. Tentu saja, kita juga menjadi lebih mudah untuk meningkatkan kualitas pendidikan kita.

Tetapi beberapa kesulitan juga tidak mudah kita selesaikan. Sudah siapkah insan pendidikan kita menyusun rencana yang matang? Rintangan yang lebih serius adalah bagaimana kita dapat menumbuhkan kreativitas siswa-siswi bila semuanya telah ditetapkan dengan pasti?

Model 2: guru dominan, memilihkan subyek untuk siswa. Dalam model ini guru memiliki keleluasaan untuk menyelenggarakan pembelajaran. Model ini memacu guru untuk terus belajar, menemukan inovasi-inovasi, dan bertanggung jawab terhadap hasil lulusan.

Contoh sukses yang menerapkan model ini adalah ITB ( Institut Teknologi Bandung), secara umum. Dosen-dosen di ITB memiliki keleluasaan bagaimana menyelenggarakan perkuliahan. Bahkan kadang nyaris bebas. Seperti kita ketahui ITB menjadi salah satu lembaga pendidikan terbaik yang dimiliki Indonesia. Tampaknya, kurikulum kita saat ini menuju ke model 2 ini. KTSP memberikan keleluasaan penuh pada setiap satuan pendidikan. Pada gilirannya satuan pendidikan akan menyerahkan tanggung jawab ini kepada para guru.

Apakah model 2 ini akan berhasil untuk pendidikan di Indonesia? Semoga! ITB berhasil dengan model 2 ini juga karena ITB telah memiliki sejarah yang panjang. Dosen ITB sebagian besar pernah kuliah di luar negeri. Mereka tetap menjalin hubungan dengan luar negeri. Bahkan beberapa dosen terjun langsung ke dunia industri. Mereka terus mempelajari sains dan teknologi mutakhir. Sehingga materi yang dipilihkan oleh para dosen hampir selalu materi yang paling mutakhir.

Bila kita mencermati kondisi pendidikan Indonesia secara umum, kita temukan variasi yang sangat beragam. Ada sekolah yang guru-gurunya lulusan dari universitas-universitas besar dunia. Namun ada juga sekolah yang guru-gurunya tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi. Jadi, tampaknya akan banyak kesulitan di lapangan bila kita mengimplementasikan model 2 ini. Tetapi bukankah kita harus terus berjuang, pantang menyerah, berani menghadapi segala kesulitan agar terjadi MESTAKUNG?

Model 3: interaksi siswa dan subyek adalah utama, guru memfasilitasi. Dalam model ini kualitas interaksi siswa dengan subyek menjadi paling penting. Sebenarnya kualitas interaksi guru dan siswa juga penting. Yang jelas, model ini sangat memperhatikan kualitas dari interaksi itu sendiri.

Dalam model 3 ini perlu persiapan yang matang dan rapi mengenai subyek yang akan diajarkan. Sekolah juga telah mengondisikan agar siswa-siswanya mau berperan aktif dalam pembelajaran. Guru berperan ”sekedar” sebagai fasilitator. Siswa dengan antusias akan mendalami pembelajaran secara mandiri dengan sedikit bantuan guru.

Contoh sukses model 3 ini adalah Stanford University terutama pada disiplin sains komputer. Mahasiswa belajar dari kuliah yang sudah disiapkan dengan rapi oleh para dosen. Mahasiswa juga mendapat kesempatan untuk bertatap muka langsung dengan para wirausahawan Silicon Valey. Biasanya mahasiswa menjadi sangat aktif dengan kuliah itu. Dan dosen memfasilitasi interaksi-interaksi itu serta menjamin kualitas interaksinya. Dari kampus ini sering dilahirkan inovasi-inovasi baru dalam teknologi terdepan. Bahkan Bill Gates – pimpinan Microsoft – memiliki gedung khusus di kampus untuk menampung mahasiswa-mahasiswa berbakat. Dua mahasiswa Stanford beberapa tahun lalu mendirikan perusahaan internet yang sangat sukses yaitu Google.

APIQ mengadopsi model 3 ini. Para guru dan tim APIQ telah menyiapkan materi ajar yang rapi. Tujuan persiapan ini adalah untuk memicu interaksi kreatif antara guru, siswa, dan materi ajar yang berkualitas. Karena kualitas interaksi menjadi fokus utama dalam pembelajaran APIQ maka improvement menjadi sebuah keharusan. Jadi, tidak ada kata sempurna dalam pembelajaran. Selalu ada peluang untuk perbaikan.

Apakah model 3 ini akan sesuai untuk pendidikan Indonesia? Ada banyak keunggulan bila kita menerapkan model 3 ini. Model 3 ini menuntut agar insan pendidikan kita melakukan perencanaan yang matang dan rapi. Tetapi perencanaan yang matang ini berbeda dengan perencanaan yang disiapkan model 1. Model 3 ini meskipun sudah memiliki perencanaan yang matang tetap fleksibel dalam implementasinya. Karena yang paling utama dalam model 3 ini adalah kualitas interaksi antara siswa, subyek, dan guru. Jadi, perencanaan berperan untuk memicu terjadinya interaksi berkualitas. Interaksi berkualitas inilah yang mengarah ke ko-kereasi: kreasi bersama guru dan siswa.

Dalam interaksi ini berpeluang muncul inovasi-inovasi baru baik dari siswa mau pun dari guru. Mungkin juga terjadi masalah-masalah baru karena interaksi ini. Hal ini dapat mengantarkan pada kondisi kritis. Bila benar-benar kita pantang menyerah untuk terus maju, kondisi kritis ini akan mengantar pada MESTAKUNG.

Dari tiga model yang kita diskusikan di sini, model 3 yang paling berpeluang untuk mengantarkan peningkatan kualitas pendidikan kita. Bahkan model 3 dapat mengundang terjadinya MESTAKUNG. Tetapi tidak mudah. Bukankah pendidikan kita pernah menerapkan model 3 ini? Dan ternyata gagal, CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif).

CBSA memang mengarah ke model 3 ini. Tetapi kenyataan di lapangan CBSA sangat berbeda dengan model 3. Perbedaan utamanya adalah model 3 menuntut persiapan yang matang dari guru dan lembaga pendidikan sehingga terpicu interaksi yang berkualitas berupa ko-kreasi. Siswa dan guru bersama-sama aktif. Meskipun peran aktif guru terutama sebagai fasilitator. Sedangkan CBSA, kenyataan di lapangan, mengarah pada memindahkan tanggung jawab pembelajaran kepada siswa. Peran guru dan lembaga pendidikan tampak masih kurang untuk menciptakan lingkungan yang memicu ko-kreasi.

Belajar dari pengalaman kita dan teori yang terus berkembang, kita dapat optimis bahwa kualitas pendidikan kita akan terus bertambah unggul. Model 3 juga menjanjikan bahwa kita dapat melahirkan inovasi-inovasi baru dalam pendidikan. Semoga!

Bagaimana pendapat Anda?

Semoga bermanfaat…

Salam hangat…

(angger: agus Nggermanto; Pendiri APIQ)

Kategori: Inovasi Pembelajaran
Tagged: , , , , , , ,

1 response so far ↓

  • eti // Juli 12, 2008 pada 1:38 pm | Balas

    Subhanallah! luas dan lugas pembahasannya. Terima kasih, ini merupakan masukan yang sangat berarti untuk saya di tahun ajaran baru dan di tempat mengajar yang baru. Saya jadi tertantang untuk dapat melakukan inovasi pembelajaran.

Tinggalkan sebuah Komentar