Lebih penting kreatif?
Ataukah lebih penting disiplin?
Penting dua-duanya. Itu pilihan jawaban yang paling mudah. Dalam praktiknya tidak mudah untuk mendapatkan kedua-duanya. Mendapatkan satu saja sudah untung. Apa lagi dua-duanya. Siapa yang serakah malah kadang-kadang tidak mendapatkan kedua-duanya.
APIQ menghadapi dilema yang sama: pilih kreatif atau disiplin?
Kami merumuskan bahwa manfaat belajar matematika kreatif APIQ adalah:
”Kita (dan putra-putri kita) menjadi mencintai belajar matematika secara kreatif.”
Belajar matematika identik dengan disiplin. Tetapi APIQ sangat menghargai kreativitas – tanpa batas. APIQ ingin menggabungkan disiplin plus kreativitas. Sebuah perjalanan yang panjang – mungkin tanpa akhir.
Jika APIQ harus memilih mana yang nomor satu, kreatif atau disiplin, APIQ memberi kebebasan kepada siswa untuk menentukannya. APIQ hanya memfasilitasi agar anak dapat kreatif dalam matematika dan agar anak dapat disiplin dalam matematika. Selanjutnya siswa yang akan mengambil peran, mana yang lebih utama.
Fiki, siswa APIQ sejak TK, menurut saya lebih cenderung menempatkan kreativitas lebih tinggi di atas disiplin. Di sela-sela belajar APIQ, dia membuat gambar-gambar mobil yang indah, dia menyusun dadu-dadu milenium menjadi sebuah bentuk yang menarik. Dan banyak lagi kreativitas yang lain. Tentu saja Fiki juga menguasai berbagai macam konsep matematika.
Ahya, temannya Fiki, menurut saya lebih cenderung menempatkan disiplin lebih tinggi di atas kreativitas. Ahya tekun mengerjakan latihan-latihan matematika APIQ. Bahkan ketika Ahya kelas 1 SD sudah mampu menyelesaikan beberapa soal matematika tingkat kelas 5 SD. Tentu saja, Ahya juga tetap kreatif. Ahya menyelesaikan perhitungan kuadrat dengan visualisasi kreatif teknik bintang.
APIQ menyambut gembira para siswa yang kreatif. Pada saat yang sama APIQ juga menyambut gembira para siswa yang disiplin. APIQ berusaha memfasilitasi keduanya: kreatif dan disiplin. Matematika adalah media utamanya.
Manfaat belajar matematika kreatif APIQ:
”Kita (dan putra-putri kita) menjadi mencintai belajar matematika secara kreatif.”
Bagaimana pendapat Anda?
(Bersambung…)
(aNgger: agus Nggermanto; Pendiri APIQ)
5 responses so far ↓
intan // Mei 6, 2008 at 12:58 am
Kalo APIQ diajarkan ke TNI dan mahasiswa FSRD ITB, gimana hasilnya ya?
gajahkurus // Mei 6, 2008 at 4:09 am
Alhamdulillah, sudah muncul kembali. Beberapa hari ini saya cek blog Bapak belum ada update-an. Sibuk ya Pak?
kang4roo // Mei 6, 2008 at 8:25 am
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
KALO MAU BIKIN BLOG, JANGAN LUPA MASUK SITUS “Leoxa.com”
(Themenya Keren Abiss & Bisa Pake Adsense)
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
doelsoehono // Mei 6, 2008 at 1:57 pm
aduh pilih mana ya kaya ….Simala Kama aja ya pak
titikagus // Mei 6, 2008 at 11:02 pm
Sama2 penting pa…tp klo dsrh mlh kreatif dl br ddisiplinkan..
Leave a Comment