Orang sekaliber BR (http://rahard.wordpress.com) tidak kebal terhadap kritik. Blog menyediakan ruang kritik yang bebas, bisa anonim tanpa nama. Tetapi BR tetap berlapang dada terhadap berbagai kritik. BR membiarkan kritik itu mengalir. Meskipun BR dapat membendung atau menghapus kritik, BR tidak melakukannya.
Saya (http://apiqquantum.wordpress.com) meneladani BR. Saya membuka pintu untuk berbagai komentar. Kadang ada yang memuji. Kadang ada yang mencaci. Awalnya saya takut menghadapi berbagai komentar blog yang bebas sebebas-bebasnya itu. Akhirnya saya menyadari, ini adalah moment pembelajaran yang sangat berarti.
Ketika blog saya, APIQ, menempati urutan pertama dalam BOTD wordpress, terdapat ribuan mata yang membaca blog APIQ tiap hari. Sangat mungkin tulisan saya menyinggung perasaan para pembaca. Tolong maafkan saya, saya tidak bermaksud menyinggung perasaan siapa pun.
Pelajaran penting yang saya ambil dari BR dan KU (Khairul Ummah, http://khairulu.com) adalah jangan menilai pihak lain. Jangan mengevaluasi. Jangan men-judge. Tetapi bila kita memiliki sebuah opini sampaikanlah secara asertif. “Saya memiliki pemikiran begini, begini…. Bagaimana menurut Anda?”
Sampaikanlah pikiran Anda, opini Anda, analisis Anda melalui blog. Tetapi bukan penilaian Anda terhadap pihak lain. Itulah asertif yang baik.
Bagaimana pendapat Anda?
2 tanggapan so far ↓
devi // Mei 27, 2008 pada 4:07 am |
…hehehe…bener juga, keseringan berkunjung ke sini, saya kok jadi ikut-ikutan tanpa sadar selalu menuliskan bagaimana…yang menanyakan pendapat pembaca….^_^
bagaimana pendapat anda?
juansuandi // Mei 27, 2008 pada 11:33 am |
salam kenal dulu… tulisan yang bagus. keep blogging