APIQ: Matematika Kreatif Aritmetika Quantum

Manfaat Belajar (Kursus) Matematika Kreatif APIQ

April 23, 2008 · 2 Komentar

Ketika di Jakarta beberapa hari lalu, saya bertemu dengan seorang profesional. Profesional itu menangani berbagai macam desain termasuk desain perangko di Indonesia.

”Saya kagum dengan Seni Rupa ITB,” katanya.
”Mengapa?”
”Orang-orang Seni Rupa ITB memiliki sudut pandang yang unik. Pernah kami akan mendesain sebuah perangko yang bertema Piala Dunia (sepak bola, FIFA world cup). Kami kebingungan bagaimana memasukkan foto tim kesebelasan dalam perangko yang ukurannya sangat kecil. Tentu nanti gambar para pemain menjadi sangat kecil. Tidak jelas.”
”Lalu?”
”Datanglah orang Seni Rupa ITB. Ia membuat desain sederhana yang terdiri dari pojok lapangan sepak bola, kaki pemain sepak bola, dan bola itu sendiri. Selesai sudah semua yang kami butuhkan.”

Belum lama ini saya bertemu dengan orang Seni Rupa ITB yang sudah senior dan berpengalaman.

”Bakat seni, tidak dapat ditumbuhkan hanya ketika waktu kuliah. Itu adalah waktu yang sudah sangat terlambat.”
”Mengapa begitu?”
”Saya dari Seni Rupa ITB. Saya dan saudara-saudara saya memiliki bakat dalam bidang seni rupa. Itu bukan terjadi begitu saja. Sejak kanak-kanak kami sudah belajar seni rupa dari guru seni yang mumpuni. Belajar seni tidak cukup hanya dengan ’menggambar bebas’. Kita harus disiplin menjalankan teori-teori seni tertentu sejak kecil.”

Saya tercenung. Saya hanya membayangkan betapa berat tanggung jawab seorang guru SD. Beliau harus menguasai psikologi anak, teori seni rupa, seni musik, sains, matematika, dan lain-lain.

Sebelumnya, saya sempat berpikir bahwa kita memerlukan guru SD bidang studi khusus matematika. Dia guru khusus matematika seperti guru khusus olah raga atau guru khusus agama. Saya berpikir begitu karena pengalaman saya di APIQ menunjukkan bahwa matematika memerlukan pendekatan spesial. Apalagi matematika untuk anak-anak usia dini.

Jika tanggung jawab ini kita serahkan kepada guru SD yang umumnya, saya merasa itu terlampau berat.

Bagaimana jika kita serahkan kepada guru matematika SMP?
Bukankah mereka memang guru bidang studi matematika?
  
Saya pernah berpikir begitu. Tetapi mengajar matematika SD (apalagi TK) jauh berbeda dengan mengajar matematika SMP. Ketika mengajar matematika SMP, kita boleh berasumsi bahwa para siswa sudah menguasai matematika SD. Kita tinggal melanjutkan ke matematika SMP. (Asumsi ini sering salah. Banyak siswa SMP yang belum menguasai konsep matematika SD).

Sedangkan ketika kita akan mengajar anak SD, kita tidak boleh berasumsi bahwa para siswa telah menguasai konsep matematika tertentu. Justru kita harus berasumsi bahwa kita perlu mengajarkan matematika untuk anak SD mulai dari konsep yang paling dasar sekali.

Apa itu konsep paling dasar dalam matematika?
Bagaimana cara mengajarkan konsep dasar matematika ke anak usia dini?

Sangat berat bila tanggung jawab ini harus dipikul oleh guru SD umum. Pun ini juga bukan tanggung jawab guru matematika SMP.

Siapa harus bertanggung jawab?

APIQ mencoba mengambil tanggung jawab ini – sekedarnya. APIQ baru kecil. Belum mampu menjangkau secara luas. APIQ juga masih perlu lulus dari ujian ketahanan waktu. Tetapi kami berusaha untuk membantu – sekedar kami mampu. APIQ juga membutuhkan bantuan dari banyak pihak lain. Terima kasih atas bantuan teman-teman selama ini kepada APIQ.

Jadi, apa manfaat belajar (kursus) matematika kreatif APIQ?

(Bersambung…)
 

 

(aNgger: agus Nggermanto; Pendiri APIQ)

 

Kategori: Inovasi Pembelajaran
Tagged: , , , ,

2 tanggapan so far ↓

Tinggalkan sebuah Komentar