APIQ: Matematika Kreatif Aritmetika Quantum

Kartini Matematika: Mengenang Kartini Secara Matematis

April 21, 2008 · 1 Komentar

Istri saya adalah seorang Kartini. Lebih tepatnya tetangga Kartini. Istri saya terlahir di tengah-tengah antara Rembang dan Jepara. Ketika liburan, kami sekeluarga sering berkunjung ke Pantai Kartini dan Taman Bermain Kartini.

Habis Gelap Terbitlah Terang.

Kartini sosok wanita Indonesia yang visioner. Kartini mengajak teman-temannya, para wanita, untuk belajar. Saat itu materi pembelajaran yang paling penting bagi seorang wanita adalah belajar membaca – tidak buta huruf. Dengan lancar membaca, wanita Indonesia dapat terus mengembangkan ilmu pengetahuan.

Tetapi Kartini, kita kenang bukan hanya karena ia mengajarkan baca-tulis kepada wanita Indonesia. Kartini memiliki kepedulian yang tulus kepada rakyat. Ini yang patut kita contoh. Tidak peduli kita wanita atau laki-laki, kita perlu mencontoh kepedulian Kartini kepada rakyat.

Saya mencoba mencari-cari kaitan Kartini dengan matematika. Tetapi sampai sekarang saya belum menemukan kaitan eksplisit antara Kartini dan Matematika. Padahal saya sudah terlanjur memberi judul tulisan ini sebagai ”Kartini Matematika”. Jadi, saya harus menemukannya. Pasti bisa. Dan saya berhasil menemukan beberapa Kartini Matematika.

Istri saya, itulah Kartini Matematika. Ia secara aktif mengembangkan APIQ. Mulai dari mengembangkan berbagai macam permainan matematika sampai ke konsep belajar matematika kreatif. Permainan Aljabar merupakan salah satu permainan favorit istri saya dengan para siswa APIQ. Ia juga menggagas cara memfasilitasi anak-anak dengan beragam jenis buku yang memancing kreativitas anak.

Ibu guru di kursus Kumon dapat kita masukkan sebagai Kartini Matematika. Unik juga, Kumon mempersyaratkan jenis kelamin perempuan untuk menjadi guru. Jadi kita punya puluhan atau ratusan guru Kumon di Indonesia. Para Kartini Matematika.

Bu Septi – pendiri Jarimatika – juga bisa kita masukkan sebagai Kartini Matematika. Dia merintis kursus Jarimatika dan pemberdayaan perempuan. Jarimatika – kabarnya – telah tersebar di puluhan wilayah Indonesia. Yang menarik, Jarimatika tidak mengklaim sebagai kursus matematika. Jarimatika justru mengembangkan calistung. Hal itu justru lebih tepat menurut saya. Jarimatika adalah kursus untuk anak-anak. Jarimatika dapat belajar banyak dari pengalaman sempoa.

Masih banyak Kartini-Kartini Matematika yang lain. Saya yakin itu.

”Ah…kan hanya membaca dan berhitung. Apa hebatnya?”
”Memang itu hebatnya! Membaca dan berhitung itu adalah yang paling hebat.”
Sesuatu yang sederhana dapat menjadi sangat berguna. Coba kita renungkan kasus berikut ini.

Seorang guru mengajarkan konsep pembagian (matematika) kepada siswa kelas 3 SD.

12 : 3 = …?

Sesuai dengan panduan dalam buku, guru itu mengajarkan cara menghitungnya sebagai berikut:

12 – 3 – 3 – 3 – 3 = 0
Jadi 12 : 3 = 4

Beberapa anak mengerti dengan cara di atas. Beberapa anak yang lain tidak mengerti – bahkan sebagian besarnya tidak mengerti.

Seorang siswa mengerjakan dengan cara berbeda:

12 = … + … + …. = 4 + 4 + 4
Jadi 12 : 3 = 4

Secara matematis jawaban di atas benar. Tetapi tidak sesuai dengan buku panduan. Jadi, jawaban siswa di atas dianggap salah. Sepele, tetapi menjatuhkan motivasi siswa – masalah besar.

Kami di APIQ mencoba untuk menerima berbagai macam pendekatan. Siswa APIQ kami dorong untuk kreatif. Kami mendorong agar siswa bangga dengan caranya sendiri.

Bagaimanapun, jasa Kartini sangat besar bagi Indonesia, bagi wanita, dan bagi kemanusiaan.

Sungguh besar cita-citanya…untuk Indonesia…

Bagaimana pendapat Anda? 

Salam hangat…

 (aNgger: agus Nggermanto; Pendiri APIQ)

Kategori: Inovasi Pembelajaran · Inspirasi
Tagged: , , , ,

1 response so far ↓

Tinggalkan sebuah Komentar