Mengapa semakin banyak kasus bunuh diri?
Mengapa semakin makmur negara, seperti Amerika dan Jepang, tetap tinggi angka bunuh diri?
Apakah karena tingkat stress yang meningkat?
Apa pun pilihan Anda, bila ada yang hendak bunuh diri, lakukan dengan cara yang indah. Berikut ini cara bunuh diri terindah yang pernah saya ketahui.
Ruseli lahir di lingkungan yang taat beragama. Sejak kecil ia sudah hidup dan menganut agama secara taat bahkan ketat. Tetapi Ruseli muak dengan perilaku ibadat keagamaan yang begitu-begitu saja. Ia ingin memberontak.
Ketika remaja, ia sudah mulai tidak betah dengan hidup yang hampa. Ibadah keagamaan yang hampa sudah menghacurkan hidup Ruseli. Ia mengambil keputusan berani: bunuh diri.
Tibalah malam yang telah direncakan Ruseli untuk bunuh diri. Menunggu tengah malam, Ruseli merasa bosan. Dari pada bosan menunggu tengah malam untuk bunuh diri, Ruseli mengisi waktunya dengan mengerjakan beberapa soal matematika.
Ruseli melirik ke arah jam. Barangkali sudah waktunya ia bunuh diri. Ia gosok-gosok matanya. Tidak percaya dengan yang ia lihat.
”Kok jam 6? Jam 6 apaan?” Ruseli bertanya pada diri sendiri.
Ruseli melihat ke arah luar. Cahaya matahari mulai bersinar. Pagi telah datang. Gagal. Ruseli gagal bunuh diri yang sudah ia rencanakan akan dilakukan tengah malam.
”Ya sudah, tidak apa-apa. Kan masih bisa besok malam. Lagi pula masih ada soal matematika yang belum saya selesaikan,” kata Ruseli dalam hati.
Malam kedua, Ruseli bersiap-siap untuk bunuh diri. Seperti biasa ia bosan menunggu tengah malam. Ia mencoba mengerjakan soal matematika. Tetapi dia tidak mau gagal untuk yang kedua kalinya. Sebentar-sebentar ia melirik ke arah jam.
“Ah…masih jam 9…”
“Ah …masih jam 10…”
“Ah…masih jam ….? Jam?”
Ruseli menggosok-gosok matanya lagi. Tidap percaya yang ia lihat.
“Masa sudah jam 5? Tidak mungkin!”
Ruseli melongok ke luar. Fajar sudah mulai kelihatan.
“Memang benar, pagi mulai datang. Tidak apa-apa. Kan masih bisa saya coba malam berikutnya,” Ruseli pantang menyerah.
Ruseli menyusun rencana bunuh diri lagi yang lebih rapi. Tetapi gagal lagi karena ia keasyikan mengerjakan matematika. Semakin sering ia mencoba, semakin sering ia gagal.
”Mengapa aku harus memaksa untuk bunuh diri? Toh mengerjakan matematika juga asyik!”
Akhirnya, Ruseli membatalkan niatnya untuk bunuh diri. Ia berpindah memfokuskan pikiran untuk mendalami matematika.
Catatan sejarah menunjukkan, Ruseli menjadi seorang ahli matematika terbesar di dunia. Bukan hanya ahli matematika saja. Ruseli juga dikenal sebagai ahli filsafat dan logika. Bahkan ia dikenal sebagai Bapak filsafat dan logika matematika.
Ruseli bukan nama sebenarnya. Nama sebenarnya adalah Russell, lengkapnya Bertrand Russell.
Matematika adalah alat paling indah untuk bunuh diri. Cara bunuh diri terindah adalah dengan meraih prestasi dalam sisa hidup kita.
Bagaimana pendapat Anda?
(aNgger: agus Nggermanto; Pendiri APIQ)
10 tanggapan so far ↓
bank_al // April 18, 2008 pada 10:56 am |
hmm.. ide bagus tuh. Kapan2 saya akan rencanakan untuk bunuh diri deh.
jagrag // April 18, 2008 pada 4:05 pm |
Baik, akan dicoba!!!
*melongok groundfloor dari lantai lima
insansains // April 19, 2008 pada 12:01 pm |
Ok.. saya akan rencanakan bunuh diri.
Pilihan yang akan diambil
1. Terjun dari tempat yang tinggi
Berarti, hukum yang digunakan adalah hukum gerak jatuh bebas, dengan gaya yang akan saya terima ketika jatuh adalah (F) = m.g.h
Jika massa saya adalah 60 kg, gravitasi adalah 9.8 m/s2. Maka saya tinggal menentukan pada ketinggian berapa jika saya ingin jatuh dengan gaya 1001 N. Kenapa 1001? Pengen aja! Tapi beberapa efek lain, mungkin akan mempengaruhi, posisi ketika terjun, sepatu yang saya pakai,dll. Nah.. efek-efek itu nanti bikin gayanya gak tepat 1001 N. So.. nanti saya hitung dulu pengaruh efek tsb, supaya gaya yang saya terima pas 1001 ^_^ dan tentunya supaya gak kerasa, dan dapet gaya impuls.
2. Berdiri di rel ditambrak kereta
(dah ah.. kepanjangan nanti komentarnya)
3. Tenggelam dilaut
(dah ah.. kepanjangan nanti komentarnya) ^_^
Thx ulasannya.
chiell // April 20, 2008 pada 4:47 am |
Kalo gitu mungkin saya sudah mati dari dulu-dulu. Mungkin pas mengerjakan soal UAN Matematika SMA.
!.GO // April 20, 2008 pada 7:58 pm |
Kalo aku rencanakan bunuh diri dg matematika, wah.. udah pasti deh aku mati konyol, soalnya aku gabisa matematik sih, rumit ah.! lagian aku msh pengen hidup
nedz // Juli 15, 2008 pada 4:55 pm |
Wahh musti diajarin 2 ke smw org yg rencana mw bunuh diri. Tp kyknya g smw org co2k d!!hiks..Tp MET COBA BUNUH DIRI YA!!
cuman ne satu2nya cara bnh diri yg ADA PELUANG MASUK SURGA…
klw aq c g perlu niru Russell.Cz q ska math n q g mw bunuh diri.
Kawaii Neko // Juli 21, 2008 pada 10:57 pm |
Huahaha… Malah matematika yang bikin aq pgn bunuh diri :b diganti bhs inggris tetep afdol g?
apiqquantum // Juli 21, 2008 pada 11:15 pm |
he3x…
macam2 pengalaman orang!
yoan // Maret 27, 2009 pada 5:55 am |
hhooo…
berarti beberapa hari ini saya terserang insomnia rupa2nya hanya agar saya bisa menyusun rencana bunuh diri…
saya suka matematika, tapi tak pernah bisa mngerjakan soal2nya…
jadi saya mungkin pakai cara lain saja…
hha…
Tuhan memang sungguh amat sangat lucu sekali…
sanjisan // Juni 28, 2009 pada 7:13 pm |
Nggak jadi mati dong ~_~