Beberapa saat setelah pilkada Jabar usai, hasil perolehan suara sudah dapat kita baca. Hasil perolehan suara ini bukan prediksi. Bukan pula hasil sementara. Tetapi ini adalah hasil perhitungan sebenarnya dengan toleransi kesalahan hanya 1%. Metode perhitungan ini kita kenal dengan quick count – hitung cepat. Dalam istilah matematika (statistik) metode ini sering dikenal sebagai metode sampling – berbeda dengan sensus .
Akurasi quick count memang mengagumkan. Penghematan biaya juga sangat besar. Bandingkan dengan perhitungan manual. Pagi ini, dua hari telah berlalu dari pilkada Jabar, panitia baru berhasil menghitung sampai 20% data pemilih. Diperkirakan perhitungan selesai 23 April – 10 hari setelah pelaksanaan pilkada. Sedangkan quick count hanya butuh beberapa jam dengan akurasi tidak kalah tepat.
Penyelenggaraan UN (ujian nasional) mestinya juga bisa menggunakan quick count. Tidak harus setiap siswa mengikuti UN untuk menentukan kelulusannya. Cukup hanya memilih 400 siswa secara random, kita sudah dapat mengetahui kualitas pendidikan kita. Hanya 400 siswa ini saja yang mengikuti UN sebagai sampel. Tidak perlu menghabiskan dana 250 milyard seperti UN sekarang. Pun juga tidak membuat stress para siswa dan sekolah di berbagai daerah.
Tetapi apakah kita dapat percaya dengan hasil quick count UN itu? Secara ilmiah – matematis – dapat kita buktikan bahwa quick count UN itu sah. Masalahnya, apakah para pengambil kebijakan di negeri kita ini percaya dengan matematika?
Dasar dari semua quick count adalah ilmu probabilitas dan statistik. Dalam UN dan SPMB sering diujikan materi statistik. Tentu saja materi yang dasar-dasar saja. Mari kita diskusikan soal yang sering muncul dalam UN, SPMB (UMPTN, SNM PTN).
Contoh soal:
Di kelas A terdiri dari 40 siswa memperoleh nilai rata-rata matematika 65. Sedangkan kelas B yang terdiri dari 35 siswa memperoleh nilai rata-rata 80. Berapakah nilai rata-rata gabungan kelas A dan kelas B?
Pertama; Untuk menghitung rata-rata kita perlu mengetahui total seluruh nilai dibagi dengan total seluruh siswa.
Total nilai kelas A =
= rata-rata kelas A x banyaknya siswa A
= 65 x 40 = 2600
Total nilai kelas B =
= rata-rata kelas B x banyaknya siswa B
= 80 x 35 = 2800
Total seluruh nilai = N
= total nilai kelas A + total nilai kelas B
= 2600 + 2800
= 5400
Sedangkan total seluruh siswa = S
= siswa kelas A + siswa kelas B
= 40 + 35 = 75
Kita peroleh, rata-rata gabungan =
= Total seluruh nilai / total seluruh siswa
= N/S
= 5400/75
= 72 (Selesai)
Adakah cara lain yang lebih sederhana?
Tentu ada. Gunakan pergeseran data. Misalnya, geser 65 menjadi 0.
Kedua; Geser 65 menjadi 0. Dan 80 menjadi 15.
Rata-rata =
= ([0 x 40] + [15 x 35]) / 75
= 7
Rata-rata sebenarnya = 7 + 65 = 72 (Selesai).
Bagaimana pendapat Anda?
Selamat berjuang kawan… semoga sukses!
Salam hangat…
(agus Nggermanto; Pendiri APIQ)
16 tanggapan so far ↓
Ahmad Hariyadi // April 15, 2008 pada 8:06 am |
Luar biasa, hebat, cemerlang, dan kreatif. Inovasi tiada henti…
jaulah // April 16, 2008 pada 1:49 am |
hebat banget akayak mathemagicnya ariesandi
syant // April 16, 2008 pada 5:21 am |
Penyelenggaraan UN (ujian nasional) mestinya juga bisa menggunakan quick count. Tidak harus setiap siswa mengikuti UN untuk menentukan kelulusannya. Cukup hanya memilih 400 siswa secara random???
kelulusan bukannya individual? quick count kan untuk perkiraan dan ramalan, kalau nggak semua siswa ikut UN, berarti diwakilkan gitu? Menyerahkan nasib pada jagoan kita maksudnya? wow….
kevlannietzsche // April 16, 2008 pada 12:19 pm |
ouwww, kaya gitu ya cara penghitungannya…. boleh juga tuh…
hafidzi // April 16, 2008 pada 1:39 pm |
mantaaaap…ni dia yang saya cari2…..thanks a lot yaaa….
salam knl*,*
nadlirun // April 16, 2008 pada 4:50 pm |
Dalam sebuah penelitian apapun,pada umumnya menggunakan approuch(pendekatan) secara kwalitatif atau kwantitatif dalam pencapaian penilaian finalnya,kedua pendekatan ini sama-sama punya kelebihan dan keterbatasan masing-masing pada metodenya serta ketepatan dalam mendekati kebenaran.Namun dalam menggunakan pendekatan-pendekatan tadi tidak asal memakai, ada jenis kasus yang hanya bisa didekati secara kwalitatif atau sebaliknya dan ada yang bisa memakai keduanya. Disamping melihat jenis perkaranya jupa hal ini bisa dilihat dan didasarkan pada tujuan dari penelitian itu. Pilkada berbeda dengan UN dalam pencapaian tujuannya, so.. metode quikc count kurang tepat untuk di gunakan dalam penilaian hasil belajar yang mengarah pada pencapaian kwalitatif dan kwantitatif.
syant // April 17, 2008 pada 6:44 am |
makanya aneh dan janggal sekali mendengarnya. quick count untuk UN? kemampuan individual kan berbeda-beda bahkan penyebarannya pun demikian.
MIFTAH // April 18, 2008 pada 12:52 am |
SAYA MINTA JAWABAN UN SECEPATNYA.SEBELUM HARI SENIN
yanti // April 21, 2008 pada 8:40 am |
thank’s ya bagus banget
nadlirun // April 21, 2008 pada 11:53 pm |
Apanya yang bagus,mbak yanti?
UN dan Quick Count « Republic of Cesar // April 22, 2008 pada 7:56 am |
[...] 22, 2008 · No Comments Sebuah blog memuat judul artikel yang menarik perhatian saya. Artikel itu berjudul “Cara Cepat Matematika [...]
ZUHDI DI DESA // Juni 11, 2008 pada 3:14 pm |
APAKAH SEMUA CARA HITUNGANNYA BISA SEPERTI ITU………..!KENAPA KUOTA SNMPTN HANYA 5% KENAPAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!1
T. Zulfikar // Juni 23, 2008 pada 4:34 am |
Boleh juga
Adam // Agustus 19, 2008 pada 2:36 pm |
Wow saya tertarik dengan perhitungan quick count,aku minta tolong donk,aku diberi tutorial perhitungan suara quick count,masalahnya saya akan membuat tugas akhir dengan metode ini.. Bisa kirim (badwave30@yahoo.com) contoh perhitungannya ga?? Hehehe
Terima kasih sebelumnya
apiqquantum // Agustus 19, 2008 pada 11:01 pm |
Terima kasih Adam,
untuk memperoleh quick count silakan mengunjungi teman saya yang ahlinya.
smanda // Mei 28, 2009 pada 12:23 am |
bagaimana cara’y mengubah 65 menjadi 0 ???????
aduhhhh…..BINGUNG…..!!!!!