Belasan tahun yang lalu saya melakukan perjalanan yang melelahkan sehari penuh. Berangkat siang hari dari Tulungagung, menginjakkan kaki siang lagi di Bandung esok harinya. Itu adalah perjalanan pertama saya menuju Bandung. Meski pun capek tetap semangat. Lha wong baru diterima sebagai mahasiswa ITB!
Dalam kondisi capek dan lapar, sambil membawa tas besat berisi bekal pakaian dan lain-lain saya menemukan warung. Tertulis besar di dinding warung itu: sedia soto Bandung. Saya pikir akan sangat nikmat sekali makan soto di siang hari seperti ini. Saya telah membayangkan kuning kuah soto, aroma sedap santannya, segarnya cambah pendek dan lain-lain.
”Saya pesan soto, kok dikasih ini?”
”Itu sotonya. Sesuai yang dipesan Cep,” kata penjual soto.
Saya kecewa. Masak soto seperti ini? Saya merasa tertipu. Karena lapar, saya makan juga soto Bandung itu. Rasanya tidak enak. Saya semakin kecewa.
Sejak saat itu saya selalu merasa bahwa soto Bandung itu tidak enak. Bahkan itu hanya tipuan. Bukan soto kok disebut soto. Tetapi saya pikir, ini merugikan saya sendiri. Saya tinggal di Bandung tetapi tidak dapat menikmati makanan khas Bandung. Beberapa tahun berlalu dalam kondisi seperti ini.
Saya pernah belajar bahwa pikiran mempunyai kekuatan menakjubkan. Saya ingin memanfaatkan kekuatan pikiran untuk mengubah situasi. Saat itu saya diundang teman menghadiri pertemuan di jalan Laswi.
”Mas, makan siang dulu yuk…”
”Ayo…”
”Menunya soto Bandung. Nikmat sekali lho!” kata teman saya itu.
Saya langsug memusatkan pikiran. Benar yang dikatakan teman saya bahwa soto Bandung nikmat sekali. Orang-orang Bandung telah bertahun-tahun menikmati soto Bandung. Kini giliran saya untuk ikut menikmati soto Bandung.
Tiba saatnya saya menyantap soto Bandung itu. Pikiran saya masih saya penuhi dengan pikiran positif betapa nikmatnya soto Bandung. Hasilnya?
Mak nyussss….pemirsa. Soto Bandung memang nikmat. Sejak saat itu saya selalu membayangkan peristiwa di jalan Laswi bila akan menyantap soto Bandung. Hasilnya selalu nikmat. Terima kasih soto Bandung!
3 tanggapan so far ↓
gajahkurus // April 10, 2008 pada 6:10 am |
Bagaimana dengan mojang Bandung?
jagrag // April 10, 2008 pada 2:05 pm |
pak, makin banyak nanti pendatang ke bandung
Harjo // April 12, 2008 pada 6:52 am |
Kekuatan pikiran memang luar biasa. Saya ada pengalaman, ketika hendak menyeberang di sebuah zebra cross beberapa waktu yang lalu. Saat itu, ada sebuah kendaraan yang hendak melintasi, tetapi tidak mengurangi kecepatannya. Akhirnya saya pusatkan pikiran saya ke supir tersebut. Ajaib, tiba-tiba bemper mobil tersebut tiba-tiba jatuh dan ditabrak oleh kendaraan itu sendiri. Sudah tentu mobil itu tidak mampu melindas bempernya sendiri, karena ukurannya cukup besar. Yang ada suaranya saja yang keras. Begitu pengalaman saya, mengenai kekuatan pikiran ini Mas, dan masih banyak lagi contoh-contoh lain. Adakah buku yang menjelaskan fenomena seperti itu Mas?