APIQ: Matematika Kreatif Aritmetika Quantum

Masukan dari Maret 2008

Lompatan Iqra

Maret 31, 2008 · & Komentar

Beberapa bulan lalu, anak-anak saya belajar baca AlQuran di TPA (Taman Pendidikan AlQuran) dekat rumah. Entah karena apa, TPA itu tutup, tidak berlanjut. Kemudian kami mengundang Ustadzah untuk mengajari baca Quran di rumah setiap Sabtu dan Minggu. Anak-anak senang belajar Iqra. Tidak lama kemudian Ustadzah itu minta ijin untuk berhenti. Ia akan segera menikah dan pergi merantau bersama suaminya. (Ngomong-ngomong mereka berjodoh melalui internet blogging lho…)

Wah… bagaimana cara mengajari anak-anak saya baca Quran ya? Saya ingat waktu di Tulungagung dulu belajar baca Quran itu setiap habis magrib. Tapi siapa yang akan mengajar?

Saya putuskan anak-anak untuk belajar Iqra setiap habis magrib bersama bapaknya. Di luar dugaan, anak-anak malah senang dapat Ustadz baru itu. Saya benar-benar kagum dengan metode Iqra. Bahkan anak saya yang masih 5 tahun sudah sampai Iqra 5. Terima kasih dan salam kepada KH. As’ad Humam – penemu Iqra.

Mengajari anak setiap hari baca Iqra menjadi tanggung jawab tersendiri bagi bapaknya. Belum lagi bapaknya kadang-kadang belum sampai rumah di saat magrib. Bagaimana cara mengatasinya? Bagaimana menurut Anda?

Kategori: Inspirasi · parenting
Ditandai: , , , , , , , , , , ,

Terima Kasih untuk Fitna The Movie

Maret 31, 2008 · & Komentar

Saya sampaikan banyak terima kasih kepada Fitna The Movie karena:

1. Memberitahu kita kualitas diri pembuatnya (Geert: orang Belanda). Kita jadi paham bagaimana mereka memandang Islam. Sehingga kita dapat merespon lebih baik sejak saat itu.
2. Memberitahu kita bagaimana masyarakat masih sering saling curiga satu sama lain. Mereka curiga kepada Islam. Apakah Islam tidak berhak balik curiga kepada mereka?
3. Menggeser tema diskusi dalam dunia blogging. Sebelum Fitna The Movie mencuat, blogging didominasi isu-isu pornografi. Saat ini bergeser pada diskusi pemikiran dan saling menasihati.

Apakah perlu nonton Fitna The Movie?
TIDAK PERLU!!!
Fitna The Movie hanya perlu ditonton oleh para pemimpin. Masyarakat luas tidak perlu menontonnya. Film itu hanya sampah. Bila masuk ke pikiran masyarakat dapat mengotori. Biarkan para pemimpin yang menontonnya. Para pemimpin mampu mengolah sampah menjadi kompos.

Tolong para pemimpin mencermatinya dengan baik. Kemudian menuntut keadilan kepada orang-orang yang telah berbuat dzalim itu. Setidaknya, tuntut mereka untuk minta maaf bahwa mereka telah melukai jiwa banyak orang. Mereka harus sadar bahwa setiap kebebasan menyatu dengan tanggung jawab dan konsekuensi.

Saya salut dengan ummat Islam yang merespon Fitna The Movie dengan SABAR dan TENANG. Mari saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran.

Bagaimana pendapat Anda?

Kategori: Isu
Ditandai: , , , , , , , ,

Bocoran Soal UN 2008 Itu… Akhirnya Bocor Juga

Maret 30, 2008 · & Komentar

Tahun 2008, soal UN bocor lagi. Tahun 2007 dan tahun-tahun sebelumnya, seperti kita tahu dari media massa, soal UN bocor. Bukan hanya soal UN yang bocor tetapi kunci jawabannya. Seorang siswa sempat bingung mendapat sms yang isinya: AABBACDAE… Ternyata itu adalah kunci jawaban soal UN. Yang lebih menarik lagi, kunci jawaban itu tidak 100% benar. Ada sedikit kunci yang sengaja dibuat salah. Jadi bila seorang siswa mengikuti kunci itu, ia tidak akan memperoleh nilai UN 10 bulat tetapi 9 koma. Tahun 2008 tidak tampak perbedaannya.

Beberapa hari lalu saya bertemu dengan orang yang ahli menangani dokumen rahasia. Dia mengatakan bahwa pengamanan dokumen rahasia sangat mahal. Jika UN 2008 ingin lebih aman, tidak bocor, maka diperlukan biaya lima kali lipat dibanding dengan biaya cetak naskah UN sekarang ini. Sementara anggaran pendidikan kita kan terbatas. Akhirnya naskah UN 2008 akan dicetak seperti biasa, dengan anggaran seperti biasa, dengan titik-titik rawan kebocoran seperti biasa.

Tahun lalu fenomena blogging belum segencar sekarang. Saat ini blog dapat menyediakan informasi apa saja dengan penyedia sumbernya anonim (tidak dikenali). Jika terjadi kebocoran UN 2008 maka blog akan memperbesar dampak kebocoran itu. Toh, penulis blog dapat tetap bersembunyi di balik anonimitas. Belum lagi, sekarang banyak tersedia handphone canggih yang dapat mengakses internet. Lebih dahsyat lagi dampaknya.

Saya sendiri tidak setuju dengan bocoran curang. Saya menganjurkan agar para siswa dan guru mencari bocoran cerdik. Bahkan bocoran cerdik ini penting untuk sukses UN, SPMB, dan UMPTN 2008. Untuk mengenali bocoran cerdik atau curang silakan mengunjungi tulisan saya di http://apiqquantum.wordpress.com/2008/03/13/mendapatkan-bocoran-soal-un-2008-spmb-2008-umptn-2008-curang-atau-cerdik/

Saya usul agar pihak yang berwenang (Diknas?) membocorkan soal UN 2008 secara legal dan cerdik. Bocoran legal ini akan mengurangi peluang bocoran curang yang ilegal.

Bukankah bocoran adalah pembodohan? Benar, bila dilakukan secara bodoh.

Tetapi bocoran adalah inti pembelajaran atau pendidikan itu sendiri bila dilakukan dengan benar. Bukankah kita perlu “mencuri” rahasia sukses dari setiap orang yang sukses? Bukankah itu bocoran cerdik? Jepang dapat mengejar kemajuan Amerika dan Eropa dengan cara mencari (lebih tepatnya mencuri) bocoran dari mereka.

Bagaimana cara Diknas agar dapat membocorkan UN 2008 secara cerdik dan legal?

Sampai batas tertentu, Diknas telah membocorkan UN 2008 dengan menyediakan download kisi-kisi dan contoh soal UN. Menurut saya, ini positif. Saya setuju. Diknas perlu melangkah lebih jauh lagi. Bocorkan sekalian soal UN 2008 yang aslinya!?

Misalnya, untuk matematika IPA SMA terdiri dari 40 soal. Bocorkan soal sebanyak 10 kali dari soal itu. Bocorkan 400 soal matematika IPA SMA. Dari 400 soal ini akan dikeluarkan dalam UN 2008, 20 soal sama persis dan 20 soal lagi sedikit bervariasi angkanya.

Siswa akan mati-matian mempelajari 400 soal ini beserta variasinya. Mereka akan belajar sungguh-sungguh. Inilah salah satu bocoran cerdik. Dalam bocoran soal itu tidak perlu dicantumkan opsi pilihan jawaban A, B, C, D, atau E. Sehingga siswa dan guru akan kreatif mencari solusinya sendiri. Mereka juga tidak dapat menghafal kunci jawaban. Satuan atau bentuk akhir jawaban tetap dirahasiakan. Misalnya, jawaban bisa berupa 25% atau ¼ atau 0,25 atau 1:4 atau variasi yang lain. Tampaknya akan menjadi sangat seru!

Bagaimana pendapat Anda?

Salam hangat…
(agus Nggermanto; Pendiri APIQ)

Kategori: SPMB · Ujian (UN
Ditandai: , , , , , , ,

Uang yang Mengganggu

Maret 30, 2008 · & Komentar

Beberapa waktu yang lalu aku bertemu dengan temannya temanku yang sudah sukses.

”Kamu akan memperoleh keuntungan bersih sekitar tiga juta rupiah per bulan.”
”Aku tidak mau uang itu.”
”Mengapa?”
”Hanya akan merepotkanku.”
”Maksudmu?”
”Uang itu tidak seberapa tapi aku harus menghitungnya tiap bulan. Sangat merepotkan.”

Aku tidak mengerti pada awalnya. Tetapi setelah diskusi agak lama, aku mulai paham. Temannya temanku itu punya deposito sekitar 10 milyard rupiah. Jika bunga deposito ½ persen per bulan, maka ia mendapat 50 juta rupiah per bulan hanya dari bunganya saja. Uang tiga juta rupiah per bulan memang hanya akan merepotkannya.

Sedangkan banyak orang di tempat lain yang sangat membutuhkan uang sejumlah itu.

Bagaimana menurutmu ?

Kategori: Inspirasi
Ditandai: , ,

Aku Iri Padamu

Maret 29, 2008 · & Komentar

Saat ini anak-anak menjadi sangat mudah belajar membaca AlQuran. Itu karena ditemukannya metode belajar membaca AlQuran yang sangat bagus: IQRA. Anak-anak sudah lancar membaca AlQuran sejak TK atau awal-awal SD.

Sungguh besar jasamu wahai penemu IQRA. Semoga pahala dariNya selalu mengalir untukmu. Aku iri padamu. Aku iri atas kebaikanmu kepada putra-putri kami. Thanks abis!

Kategori: Inspirasi
Ditandai: , , ,

Mitos-mitos Cara Berhitung Cepat Matematika yang Berguna untuk UN, SPMB, UMPTN

Maret 29, 2008 · & Komentar

Mitos selalu megagumkan. Jika tidak mengagumkan mengapa disebut mitos? Mitos cara berhitung cepat matematika adalah salah satu kesukaan saya.

Seorang guru SD yang mengajar matematika merasa ngantuk. Karena semalaman ia tidak tidur nonton bola sampai pagi. Otaknya berjalan. Mencari cara agar bisa tidur tapi harus mengajar matematika kelas 3 SD.

”Anak-anak, sekarang kita belajar berhitung. Hitunglah berapa hasil penjumlahan bilangan 1 + 2 + 3 + 4 + ….. sampai + 2000?”

Dengan hati senang guru itu berpikir, ”Kreatif juga ya saya ya!”
Guru itu duduk. Pura-pura baca buku. Lalu tidur. Satu jam pelajaran tidak mungkin ada anak yang dapat menyelesaikan tugas itu.

Baru satu menit berlalu, seorang siswa mengacungkan tangan,
“Saya sudah selesai Pak!”
“Ah…masak?”

Guru itu tidak percaya. Tanpa kalkulator, tanpa sempoa, tanpa komputer mana mungkin bisa menghitung secepat itu? Bahkan dengan alat bantu pun masih perlu waktu cuku lama.

“Coba tunjukkan mana hasilnya?”
“2.001.000”
“Bagaimana caranya?”

Tentu jika kita menghitung dengan cara biasa, satu jam juga tidak akan selesai. Mungkin malah salah hitung. Siswa kecil itu menghitung dengan cara memasangkan bilangan pertama dan terakhir.

1 + 2000 = 2001
2 + 1999 = 2001
3 + 1998 = 2001

dan seterusnya…jumlah setiap pasangan awal dan akhir selalu = 2001. Kemudian siswa itu berpikir, ” Dari 2000 bilangan, dipasang-pasangkan terbentuk 1000 pasang bilangan. Jadi kita peroleh jumlah seluruhnya adalah 2001 x 1000.”

2001 x 1000 = 2.001.000 (Selesai).

Guru itu heran, kagum, tidak jadi tidur. Stress…malahan.

Kabarnya, siswa kecil itu bernama Gauss. Tokoh besar matematika sepanjang jaman asal Jerman. Orang meragukan apakah cerita di atas benar-benar terjadi pada Gauss atau hanya mitos tentang Gauss. Meski pun seandainya hanya mitos, kisah di atas banyak memberi inspirasi.

Orang-orang yang mendengar cerita itu dari saya sering mengatakan bahwa anak kecil itu bukan bernama Gauss tapi Agus. Agak mirip memang. Mitos baru lagi!

Saya sendiri mendengar cerita di atas pertama kali dari guru matematika SMP 2 Tulungagung: Pak EKO, Mr X. Pak Eko adalah guru matematika yang hebat. Ia dapat menjelaskan matematika SMP dengan sederhana dan akrab dengan para siswa. Tetapi masalah PR, Pak Eko tidak akan kompromi.

Biasanya, Pak Eko memberi PR untuk mengerjakan soal nomor 50 sampai 70. Jam pelajaran matematika dimulai. Semua anak merasa tegang karena Pak Eko akan memeriksa PR yang nomor 50 sampai 70 itu. Pemeriksaan dimulai dari bangku paling depan.

Siswa yang tertangkap basah tidak mengerjakan PR akan mendapat hukuman. Dicubit tangannya atau telinganya atau lainnya. Sakit sekali rasanya, meski pun hukuman itu sambil bercanda.

Saya aman karena duduk di bangku belakang. Tetapi saya belum mengerjakan PR itu. Hanya menunggu waktu, Pak Eko pasti mendekati bangku saya dan….hukuman itu menimpaku.

Sebelum Pak Eko mendekat, saya buru-buru mengerjakan PR nomor 69 – tidak yakin benar atau salah. Kemudian segera mengerjakan nomor 70 – tidak tahu benar atau salah. Langsung saya lanjutkan nomor 71 – saya yakin nomor ini benar. Ketika saya mulai mengerjakan nomor 72, Pak Eko sudah mendekat ke bangkuku.

”Pak, nomor 72 begini ya, cara mengerjakannya?”
”Coba saya lihat….”

Pak Eko tampak mengangguk-anggukkan kepala. Dengan bangga Pak Eko mengatakan,
”Hai kalian, anak-anak! Contohlah Angger ini! PR hanya sampai nomor 70 tapi ia sudah menyelesaikan sampai nomor 72.”

Setelah kejadian itu tersebar mitos bahwa Angger rajin mengerjakan PR matematika. Itu memang hanya mitos. Tetapi mitos itu membuat saya harus membuktikannya. Akhirnya setiap ada PR saya selalu mengerjakannya dengan baik. Terima kasih Pak EKO, Mr X.

Saya belum pernah menceritakan rahasia ini kepada Pak Eko secara langsung. Paling saya menceritakan hanya ke beberapa teman SMP2 Tulungagung. Semoga Pak Eko tidak marah dan memaafkanku atas kejadian waktu itu. Doa ku untukmu Pak Eko, guru matematika terbaikku.

Mitos bisa berguna lebih dari keabsahan mitos itu. Mari kembali kepada Gauss. Pemahaman cara berhitung deret cara Gauss ini sangat membantu untuk menyelesaikan soal UN, SPMB, dan UMPTN.

Contoh soal:
Seorang ibu membagikan permen kepada 8 anak-anaknya sesuai dengan aturan deret aritmetika. Anak paling muda memperoleh permen paling banyak. Jika anak kedua mendapat 7 permen dan anak ketujuh mendapat 27 permen, berapa banyak seluruh permen yang dibagikan oleh ibu itu kepada 8 anaknya?

Pertama, kita buat deretan bilangan-bilangan yang mungkin:

…, 7, … …. …27, ….

Dengan cara coba-coba kita akan berhasil menemukan barisan bilangan yang tepat – bila beruntung. Setelah itu, jumlahkan seluruh bilangan tersebut. Kita akan memperoleh barisan berikut:
3, 7, 11, 15, 19, 23, 27, 31
Jumlahkan seluruh bilangan di atas.

Kedua, gunakan rumus deret aritmetika.
Suku ke-2 = 7 = a + b. 
Suku ke-7 = 27 = a + 6b
Dengan dua persamaan di atas kita peoleh nilai a dan b. Lalu hitung jumlah 8 suku pertama.

Ketiga, gunakan cara Gauss di atas. Pasangkan awal dan akhir.
(7 + 27) x 4 = 136 (Selesai)

Latihlah beberapa alternatif cara penyelesaian. Pasti kita akan memperoleh banyak kemajuan. Semoga sukses UN, SPMB, dan UMPTN. Selamat berjuang!

Salam hangat…
agus Nggermanto

Kategori: Inovasi Pembelajaran · SPMB · Ujian (UN
Ditandai: , , , , , , , , , , ,

Etos Kerja Berhitung Matematika Cepat

Maret 28, 2008 · & Komentar

Kami kagum dengan orang-orang Indonesia yang beretos kerja tinggi. Saya dan tim – Pak AAA dan Frans – kemarin berdiskusi banyak dengan teman-teman dari BCA. Kesan yang kami tangkap, orang-orang BCA memiliki etos kerja yang tinggi. Pantas BCA banyak meraih sukses.

Indonesia memerlukan masih banyak orang-orang beretos kerja tinggi. Kami juga melihat beberapa teman di tempat lain juga beretos kerja tinggi. Termasuk di Bank Niaga, Bank Indonesia, Indosat. Saya banyak berharap, orang-orang beretos kerja tinggi ini akan memberi kontribusi besar bagi kemajuan Indonesia. ITB juga kumpulan banyak orang beretos kerja tinggi, SMA 3 bandung juga beretos kerja tinggi. Saya yakin lebih banyak lagi orang-orang Indonesia yang beretos kerja tinggi.

Etos kerja itu tercermin juga dalam berhitung cepat – kok bisa ya?

Saya munculkan soal semacam ini

54×54 = ….

55×55 = ….

Mereka dengan sigap dan cepat menjawab.

Kemudian saya munculkan soal:

104×104 = ….

105×105 = ….

106×106 = ….

Mereka dengan semangat berlomba berhitung cepat. Tanpa saya mengajarkan, mereka menemukan sendiri cara menghitung cepatnya. Cobalah, Anda pasti juga bisa.

106×106 = 112 36

107×107 = 114 49

108×108 = …. ….

109×109 = …. ….

103×103 = …. ….

Selamat menikmati….

Kategori: Inovasi Pembelajaran
Ditandai: , , , ,

Hidupku yang Indah

Maret 28, 2008 · & Komentar

Hidup ini indah. Kematian lebih indah lagi. Tapi aku baru mengalami yang pertama, yang kedua belum. Semoga memang lebih indah. Hidup terasa sangat indah ketika kita jatuh sakit. Betapa sehat memang berharga. Mengapa harus menunggu sakit untum menikmati hidup?

Aku mengembangkan indikator baru untuk mengukur keindahan hidup. Badminton adalah olah raga permainan yang kusukai. Asyik sekali bermain badminton. Untuk menikmati dan menjaga kesehatan, aku menetapkan indikator bahwa badminton yang indah adalah 2 sampai 3 kali dalam seminggu. Itulah kehidupan indah, badminton 2 atau 3 kali dalam seminggu.

Minggu ini aku nyaris hanya sempat main badminton 1 kali dalam seminggu karena sibuknya bekerja. Tapi, hidup jadi kurang indah atau tidak ya? Karena jadwal badminton berkurang sedangkan bonus uang bertambah. Atau itu yang disebut keindahan hidup sebenarnya?

Kategori: Badminton · Inspirasi
Ditandai: , , ,

Blogger Terbaik Ditutup

Maret 28, 2008 · & Komentar

”Hanya dalam bulan Februari saja, blog saya dikunjungi oleh 1 juta 200 ribu pengunjung. Tetapi mereka sekarang tidak dapat mengunjungi blog saya. Mereka tidak dapat membaca tulisan-tulisan saya. Mereka juga tidak dapat berdiskusi dengan saya melalui blog.” Itulah ungkapan Sanchez, blogger paling favorit dari Kuba.

Blog Sanchez menjadi hebat karena ia mengungkapkan pengalaman nyata kehidupan rakyat Kuba. Sanchez menyuarakan hati rakyat. Meneriakkan derita rakyat kecil. Rakyat kecil merasa terwakili oleh blog Sanchez. Mereka mendukung Sanchez. Tetapi pemerintah Kuba khawatir. Pemerintah menutup blog Sanchez dari akses umum.

Blog Indonesia paling favorit juga akan ditutup oleh yang berwenang. Mengapa?

Karena blog itu banyak memuat pornografi. Lihat saja cewek bugil, telanjang, foto hot, dan isu-isu porno lain yang silih berganti.

Malu atau bangga?
Bagaimana pendapat Anda?

Kategori: Inspirasi · Isu
Ditandai: , , , ,

Kebebasan Diri

Maret 27, 2008 · & Komentar

Seorang anak miskin berjuang hidup dengan menjadi tukang loper koran. Setiap pagi ia mengantar koran ke rumah orang kaya. Dengan sopan, anak kecil itu mengantarkan koran ke tuan kaya. Tuan kaya itu mengambilnya dengan kasar. Tuan kaya itu bahkan melempar uang koran melewati pagar.

Anak kecil itu mengambil uang di tanah. Dengan sopan ia mengucapkan terima kasih ke tuan kaya.

Esok hari, anak kecil itu mengantar koran lagi. Si Tuan kaya melempar uangnya dengan kasar. Anak kecil itu mengambil, dengan sopan mengucapkan terima kasih.

Pembantu tuan kaya penasaran,
”Hai…tukang koran! Mengapa kamu tetap berterima kasih padahal tuanku telah memperlakukanmu dengan kasar?”
Anak kecil itu menjawab,
”Aku tidak akan mengijinkan perilaku kasar tuanmu mendikte perilakuku. Meski tuanmu telah berlaku kasar, aku bebas untuk membalasnya dengan perilaku kasar atau membalasnya dengan perilaku sopan.”

Bagaimana pendapat Anda?

Kategori: Inspirasi
Ditandai: , ,