Sabtu ini saya tidak bisa main badminton seperti biasanya. Lapangan badminton yang di dekat rumah sedang ada perbaikan. Mungkin perlu satu bulan untuk menyelesaikan perbaikan itu. Saya mencari tempat badminton yang sedikit lebih jauh. Lapangannya sangat bagus. Terdiri 3 lapang, ada kantin sederhana, ada fasilitas fitness lagi. Terbebas dari asap rokok. Untuk merokok disediakan tempat tersendiri. Toiletnya bersih dan banyak. Terletak di kawasan Bandung utara, sangat sejuk. Wahai BadMan, kapan-kapan datanglah ke sana. Puas habis. Mau??? Sekalian ajak teman-teman Indocisc! (BadMan: Badminton Man of Sharing Vision).
Saya tertarik dengan lapangan sebelah saya main. Ada 2 anak kecil kira-kira umurnya 10 tahunan. Dengan seorang pelatih berpengalaman bersamanya. Dua anak itu kemampuannya masih biasa-biasa saja. Setingkat dengan para BadManlah kira-kira. Tapi saya yakin, 3 bulan ke depan, 2 anak 10an tahun itu akan bisa mengalahkan para BadMan. Mengapa?
Mereka disiplin berlatih dengan bimbingan pelatih berpengalaman. Pelatih membawa 20 kok (suttle cock) mengumpan ke anak itu. Anak itu memukul dengan lob (clear) panjang ke belakang. Dia melakukannya terus sampai 20 kok habis. Kemudian pelatih mengambil 20 kok lagi. Mengumpan lagi. Sampai kira-kira 100 pukulan lob terjadi. Di sela-sela pukulan itu pelatih sesekali memberi instruksi cara memukul yang benar. Setelah itu mereka beralih ke latihan pukulan smash. Caranya mirip. Pelatih mengumpan sampai kira-kira 100 kali. Si anak latihan memukul smash. Pelatih memberi beberapa instruksi perbaikan.
Saya yakin 3 bulan ke depan, 2 anak itu akan meraih kemajuan pesat. Mereka dapat melampaui kemampuan para BadMan. Wah…jangan-jangan ada yang baca tulisan ini dari Tim Indocisc? Dengan cara berlatih begini, nanti mereka bisa mengalahkan kita di badminton seperti main futsal. Ah…jangan sampai terjadi.
Mengapa saya yakin 2 anak yang 10an tahun itu akan berkembang pesat?
Orang bijak mengatakan bahwa siapa yang paham why maka ia akan menemukan how. Siapa saja yang memahami alasan inti dari suatu masalah, ia akan menemukan cara menyelesaikan masalah itu. Menurut saya ini hanya berlaku bagi orang-orang yang sudah berpengalaman dalam bidang tertentu. Hal ini tidak berlaku bagi pemula atau seseorang yang belajar sesuatu.
Saya ingin membalik pendapat di atas menjadi siapa yang banyak melakukan how maka ia akan memahami why. Barang siapa yang banyak berlatih tahap demi tahap maka ia akan mudah memahami filosofi dari latihan itu.
Sistem pembelajaran dan pendidikan kita umumnya tidak memahami ini. Mereka kurang memberi latihan yang bertahap kepada para anak didiknya. Sehingga anak didik sulit memahami arti dari sebuah disiplin ilmu.
Kursus matematika sempoa, Kumon, dan APIQ menangkap peluang itu dengan baik. Sempoa mengajari siswa melalui latihan tahap demi tahap. Siswa – yang umumnya anak-anak kecil – sekedar berlatih berulang-ulang. Setelah berkali-berkali para siswa menguasai teknik berhitung sempoa bahkan sampai mental aritmetika. Sayangnya kursus sempoa sering tidak mengajarkan filosofi sempoa setelah para siswa menguasai sempoa. Jika kursus sempoa menanamkan filosofi sempoa ke siswanya hal ini akan memberi dampak jauh lebih positif dari yang ada saat ini.
Kumon juga mengajarkan matematika bertahap. Misalnya siswa akan berlatih penjumlahan (pertambahan) dengan bilangan 4 secara berulang-ulang. Guru Kumon tidak perlu repot-repot berpanjang lebar menjelaskan konsep penjumlahan 4. Cukup siswa berlatih dan berlatih. Akhirnya siswa menguasai pernjumlahan 4. Setelah itu, Kumon berkesempatan menanamkan filosofi matematika. Apakah Kumon melakukannya? Saya tidak tahu pasti. Yang jelas di kelas Kumon harus terjaga keheningan suasana.
APIQ menyusun strategi yang sama dengan sempoa dan Kumon. APIQ menyusun pembelajaran secara bertahap. Memang siswa APIQ lebih mudah menguasai matematika dengan pendekatan bertahap di APIQ. Bagaimana dengan menanamkan filosofi matematika? Ini menjadi tantangan tersendiri. Tidak mudah memang. APIQ menyusun latihan soal cerita untuk para siswa. Soal cerita ini membingkai matematika dengan konteks dan filosofi yang relevan. Anak-anak ternyata sangat menyukai soal cerita. Para siswa sudah kecanduan soal cerita – meminjam istilah dari seorang guru APIQ.
APIQ juga berusaha menanamkan filosofi matematika melalui beragam mainan – alat peraga – edukatif. Beberapa mainan yang saya sukai adalah Onde Mileneum dan Super Marble. Onde Milenium membekali anak tentang teori nilai tempat dan operasi aritmetika sederhana. Sedangkan Super Marble mengajari anak penjumlahan dan pengurangan dengan cepat, nilai tempat, dan kesabaran.
Latihan bertahap dan berulang adalah kunci kemajuan. Jika para BadMan latihan disiplin pukulan smash misalnya, pasti tim Indocisc sudah keder duluan. Hidup BadMan! Selamat berlatih…Semoga sukses!
Salam provokasi…
(agus Nggermanto; pendiri APIQ)
APIQ: Inovasi Pembelajaran Matematika. APIQ membuka program kursus matematika kreatif yang mengembangkan kecerdasan anak dengan cara fun, gembira, dan mengasyikkan serta lebih cepat. APIQ menumbuhkan motivasi belajar anak dengan pendekatan Quantum Learning, Quantum Quotient, dan Experiential Learning. Berbeda dengan pendekatan metode pendidikan atau pembelajaran matematika yang pada umumnya menempatkan aljabar sebagai fundamental, APIQ justru menempatkan aritmetika sebagai fundamental utama matematika. Pendekatan aritmetika menjadikan matematika lebih konkret tidak abstrak seperti aljabar. APIQ mempelajari matematika secara utuh dari aritmetika, aljabar, geometri, statistik, kalkulus, dan lain-lain. APIQ menyiapkan program untuk anak usia 4 tahun (TK), SD, SMP, SMA, sampai lulus SMA (preuniversity). APIQ membuka peluang bagi Anda yang berminat membuka cabang franchise. Anda dapat menghubungi APIQ di apiq.wordpress.com atau (022) 2008621 atau 0818 22 0898 atau quantumyes@yahoo.com . APIQ berasal dari kata Aritmetika Plus Inteligensi Quantum.
4 tanggapan so far ↓
intan // Februari 25, 2008 pada 2:58 am |
kalo gitu intan mau ikutan dilatih bareng anak-anak yang 10 tahun itu ah……
apiqquantum // Februari 25, 2008 pada 3:05 am |
Boleh Bu Intan,
Nanti bareng anak-anak saya yang 5 tahun juga deh…
Budi Sulistyo // Februari 25, 2008 pada 4:21 pm |
Kemarin menang satu set lawan M Angger. Set kedua: gempor. Lumayan
apiqquantum // Februari 26, 2008 pada 4:02 am |
Kemenangan yang bagus untuk Mas Budi.
Mungkin karena lapangannya bagus, Mas Budi bisa menang.
Tapi kalau lapangannya jelek, kayaknya bakal menang aku terus.
Hidup BadMan!!!