APIQ: Matematika Kreatif Aritmetika Quantum

Kursus Matematika Kreatif

Februari 13, 2008 · 31 Tanggapan

”Lebih baik mendaftarkan anak ke kursus matematika atau kursus kreativitas?”

”Sebaiknya daftarkan anak Anda ke kursus matematika yang kreatif!”

”Mana ada kursus matematika yang kreatif?” 

Sampai di situ saya tercenung. Adakah kursus matematika yang kreatif? Saya coba membuka memori saya untuk menemukan kursus matematika kreatif. Satu menit berlalu, 2 menit berlalu, saya tidak menemukan kursus matematika kreatif. Satu jam berlalu, 2 jam berlalu pun menghasilkan ketiadaan jawaban. 

Mestinya saya langsung menjawab,” Ada. Kursus matematika kreatif memang ada. Yaitu kursus matematika kreatif APIQ.” Tadinya saya tidak ingin menjawab seperti di atas. Tetapi terpaksa saya mengatakan hanya itu jawaban saya. Kursus matematika kreatif adalah APIQ. 

Lebih jauh lagi orang tua ingin tahu seperti apa kursus matematika yang ada sekarang. Mereka ingin tahu kelebihan dan kekurangan Kumon. Mereka juga ingin tahu manfaat belajar sempoa. Mereka juga bertanya-tanya tentang Sakamoto. Saya bahkan menambahkan dengan Mathmagic. Dan yang terpenting kursus matematika kreatif APIQ. Dari yang kita sebut di atas, memang tidak ada yang menempatkan diri sebagai kursus matematika kreatif kecuali hanya APIQ.

Sempoa mengatakan bahwa belajar sempoa melatih kreativitas otak kanan. Dengan menggerak-gerakkan biji sempoa merangsang otak kanan anak. Ya, mungkin itu benar. Toh kalau itu memang benar, sempoa tetap bukanlah matematika. Sempoa hanya mengajarkan sebagian kecil aritmetika. Sedangkan matematika terdiri dari aljabar, aritmetika, geometri, kalkulus, statistik, peluang dan lain-lain. Bukan hanya aritmetika. Banyak orang yang terlibat dalam kursus sempoa bukanlah orang yang menekuni matematika. Bagaimana memecahkan pertidaksamaan trigonometri, misalnya, tidak akan pernah dibahas oleh sempoa. Apalagi memecahkan kasus kalkulus integral. Sempoa memang bukan matematika. Sempoa adalah alat alternatif untuk membantu aritmetika.  

Sempoa lebih tepat bila kita posisikan mirip dengan kalkulator. Sempoa terbukti sangat praktis untuk para penjaga toko. Misalnya ada orang belanja beras 2 kg, gula 1kg, krupuk 5 kg, minyak 3 kg, dan seterusnya. Kita dapat menghitung penjumlahan dari seluruh harga belanjaan itu dengan mudah memakai sempoa. Mestinya, setelah anak mengenal sempoa anak akan kagum terhadap kehebatan matematika. Karena matematika dapat diwujudkan menjadi sebuah benda nyata seperti sempoa. Untuk kasus matematika yang lain, tidak harus pakai sempoa. Mungkin lebih tepat pakai kertas pensil, kalkulator, atau komputer. 

Kumon lebih luas dari sempoa. Kumon mencoba menggarap matematika lebih lengkap. Kumon memilih pendekatan setahap demi setahap. Terbukti langkah ini banyak membantu siswa. Tetapi siswa yang kreatif akan kesulitan jika dipaksa harus mengikuti tahapan yang sama. Seorang anak usia 6 tahun masuk uji coba di Kumon. Berdasar tes uji coba, anak itu harus masuk level paling bawah di Kumon.  Tetapi anak yang 6 tahun itu sangat kreatif. Dia tidak mau masuk dari level terbawah yang baru berkenalan dengan angka dan bilangan dasar. Meski 6 tahun, anak itu sudah menguasai matematika cukup hebat. Ia sudah bisa berhitung perkalian dan pembagian dengan lancar. Bahkan ia bisa menghitung kuadrat, misalnya 23 kuadrat sama dengan berapa. Ia dapat menghitung dengan cepat dan tepat. 

Orang tua dari anak itu bertanya kepada Kumon, apakah memungkinkan jika anaknya ikut Kumon langsung dari level tengah. Kumon tidak mengijinkan waktu itu. Akhirnya anak itu tidak jadi ikut kursus Kumon. 

Persoalan dari siswa yang ikut Kumon adalah waktu. Dengan metode bertahap, diperlukan waktu yang cukup lama untuk mengejar ketertinggalan kurikulum di sekolah. Di sekolah, pelajaran matematika sudah cukup jauh. Di Kumon masih tahap demi tahap dari bawah. Mungkin di masa yang akan datang, Kumon akan menyempurnakan pendekatan setahap demi setahap agar dapat mengakomodasi siswa yang kreatif. 

Satu hal lagi yang sering menyulitkan anak dalam belajar matematika adalah ”soal cerita”. Saya tidak melihat kursus-kursus matematika menggarap soal cerita ini dengan tekun. Tetapi di APIQ, kami menggembangkan metode khusus untuk menguasai soal cerita ini. Hasilnya, anak—anak siswa APIQ justru kecanduan ingin belajar soal cerita terus- menerus. Soal cerita sangat penting bagi matematika. Soal cerita memberi konteks bagi sebuah teori matematika. 

Demi terus menumbuhkan kreativitas dalam matematika, APIQ terus-menerus melakukan riset inovasi pembelajaran matematika. Akhir-akhir ini kami menemukan permainan (game) matematika yang sangat asyik: super marble. Permainan ini menggunakan kelereng sekaligus memantapkan teori matematika. APIQ juga berusaha membuat terobosan pembelajaran matematika berbantuan komputer. APIQ memang menempatkan diri sebagai kursus matematika kreatif. 

Beberapa hari lalu saya baca di internet terjadi diskusi menarik tentang kursus matematika. Penanya mengawali dengan pertanyaan ke kursus matematika apa sebaiknya ia mendaftarkan anaknya. Beberapa peserta diskusi menyarankan untuk memasukkan anaknya ke sempoa saja. Ada salah satu peserta mengatakan,”Masukkan anak Anda ke kursus Kusase. Dijamin anak Anda akan kehilangan masa kanak-kanaknya. Kusase = kumon sakamoto sempoa. Ngapain sih repot-repot?” 

Saya pikir itu adalah kritik yang sangat pedas bagi para penyelenggara kursus matematika termasuk saya. Dari situ juga saya lebih berhati-hati. Di APIQ, harus lebih banyak memajukan kreativitas anak bukan hanya dogma matematika. Berdasarkan pengalaman saya, matematika adalah medan kreativitas tanpa batas. Mari kita arungi. Semoga sukses untuk Anda dan anak-anak Anda!  

 (agus Nggermanto; pendiri APIQ) 

APIQ: Inovasi Pembelajaran Matematika. APIQ membuka program kursus matematika kreatif yang mengembangkan kecerdasan anak dengan cara fun, gembira, dan mengasyikkan serta lebih cepat. APIQ menumbuhkan motivasi belajar anak dengan pendekatan Quantum Learning, Quantum Quotient, dan Experiential Learning. Berbeda dengan pendekatan metode pendidikan atau pembelajaran matematika yang pada umumnya menempatkan aljabar sebagai fundamental, APIQ justru menempatkan aritmetika sebagai fundamental utama matematika. Pendekatan aritmetika menjadikan matematika lebih konkret tidak abstrak seperti aljabar. APIQ mempelajari matematika secara utuh dari aritmetika, aljabar, geometri, statistik, kalkulus, dan lain-lain. APIQ menyiapkan program untuk anak usia 4 tahun (TK), SD, SMP, SMA, sampai lulus SMA (preuniversity). APIQ berasal dari kata Aritmetika Plus Inteligensi Quantum.

Kategori: Inovasi Pembelajaran · Peluang Bisnis
Ditandai: , , , , , , , , , ,

31 tanggapan so far ↓

Tinggalkan sebuah Komentar