APIQ: Matematika Kreatif Aritmetika Quantum

Masukan dari Februari 2008

Apa Tujuan Anda Menilai ?

Februari 28, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

”Waduh, susah sekali soalnya!”
”Susah bagaimana?” saya tanya.
”Saya tidak punya ide sama sekali untuk menyelesaikannya.”

Saya lihat soal matematika untuk siswa SMA kelas 1 di Bandung. Memang soal itu termasuk sulit untuk ukuran kelas 1 SMA. Soal itu tergolong semacam soal SPMB. Beberapa malah soal kalkulus tingkat I di ITB.

”Bagus dong, kamu latihan soal semacam ini sejak awal,” saya memberi dukungan.
”Bagus sih bagus Pak. Tapi eskpresi gurunya itu…”
”Memang ada apa?”
”Gurunya itu ngasih soal ini untuk menunjukkan bahwa kami tidak akan mampu menyelesaikannya. Wajah guru itu tampak sangat puas bila kami tidak mampu menyelesaikannya.”

”Apakah ada guru yang ingin siswanya tidak mampu menyelesaikan suatu masalah?” saya bertanya dalam hati.

Saya ingat-ingat ketika saya SMA di Tulungagung. Tidak ada guru yang ingin siswa gagal menyelesaikan soal latihan. SMP dan SD di Tulungagung juga tidak ada guru yang begitu. Tetapi itulah bedanya dengan Bandung. Bandung adalah kota besar. Tulungagung hanya kota kecil.

Kemarin, saya dengar di Bandung, ada juga guru SD yang tidak menginginkan siswanya 100% dapat nilai 100. Guru itu ingin banyak siswa yang tidak mampu menyelesaikan soal. Malahan guru itu bingung kalau semua siswa dapat nilai 100. Itu mencerminkan bahwa soal yang diberikan oleh guru tidak berkualitas. Bila banyak soal tak terpecahkan maka menunjukkan bahwa soal itu berbobot.

Apa tujuan guru memberi soal?
Apa tujuan guru menilai?

Bagi saya dan teman-teman di APIQ, memberi soal latihan adalah untuk membimbing siswa menguasai konsep matematika tertentu. Bila seorang siswa mampu menyelesaikan soal latihan itu, justru kami bahagia. Misalnya, untuk memperkenalkan konsep dasar geometri, APIQ menyiapkan soal latihan sederhana tentang luas. Sambil memainkan dadu milenium, anak-anak (TK dan SD) akan berusaha menyelesaikan soal latihan itu. Dengan selesainya soal latihan itu, siswa sudah menguasai konsep geometri tertentu.

Dengan demikian, bila semua siswa menyelesaikan semua soal latihan maka kami telah berhasil memperkenalkan konsep geometri. Hal ini tidak menunjukkan bahwa soal latihan kami tidak berkualitas. Justru hal ini menunjukkan bahwa soal latihan APIQ berhasil mengantarkan siswa menguasai konsep geometri. Kami senang.

Bila sebaliknya yang terjadi, maksud saya, banyak siswa yang tidak dapat menyelesaikan soal latihan, itu menjadi feedback. Apakah ada yang salah dengan cara belajar siswa? Apa ada yang salah dengan cara guru mengajar? Apa ada yang salah dengan sususan latihan soal APIQ? Masukan-masukan ini mengajak kami untuk menemukan improvement-improvement baru. Bukan hanya siswa yang disalahkan bila ada masalah. Setiap masalah adalah peluang untuk improvement – mudah dikatakan, sulit dijalankan.

Sedangkan konsep APIQ dalam memberi nilai adalah untuk membangun rasa percaya diri siswa. Siswa mendapat support agar selalu berhasil meraih nilai 100 dalam setiap latihan. Ketika seorang siswa belum meraih nilai 100, guru akan membantu agar siswa itu mempertimbangkan konsep-konsep matematika tertentu. Tentunya dengan cara yang menyenangkan. Terutama menggunakan bermacam-macam alat peraga seperti Onde Milenium, Dadu Milenium, Super Marble dan lain-lain.

Bahkan pengalaman saya menunjukkan bahwa rasa percaya diri siswa lebih penting dari pada penguasaan materi itu sendiri. Siswa yang percaya diri akan terus berusaha mencari solusi, meski sulit. Tetapi siswa yang ragu-ragu sering menolak untuk berusaha. Bagaimana mungkin ia akan berhasil? Jika untuk mencoba saja sudah malas.

Dalam menentukan benar atau salah, APIQ menghargai keragaman. Meski matematika adalah ilmu pasti, matematika tidak kaku. Untuk menyelesaikan soal yang sama, beberapa anak mungkin saja akan menempuh cara yang berbeda-beda. APIQ mengapresiasi perbedaan ini. Bahkan bukan hanya caranya saja yang berbeda. APIQ juga menghargai hasil akhir yang berbeda. Apakah mungkin matematika memberikan hasil akhir yang berbeda untuk soal yang sama?

Mungkin saja!

Seorang siswa, setelah melakukan perhitungan yang teliti, memperoleh hasil akhir luas daerah = 1 meter persegi. Ia sangat yakin benar.

Siswa yang lain, juga melakukan perhitungan dengan tekun, memperoleh hasil akhir luas daerah tersebut = 10000 cm persegi, untuk soal yang sama. Ia juga sangat yakin benar.

APIQ akan memberi nilai sama benar untuk dua jawaban di atas. Mengapa? Ini justru sebagai peluang pembelajaran baru. Kita bisa banyak belajar dari keragaman.

Memaksakan keseragaman berpikir membawa dampak mengerikan.
Mari kreatif! Mari menyikapi perbedaan dengan arif!

Salam hangat…

(agus Nggermanto; pendiri APIQ)

APIQ: Inovasi Pembelajaran Matematika. APIQ membuka program kursus matematika kreatif yang mengembangkan kecerdasan anak dengan cara fun, gembira, dan mengasyikkan serta lebih cepat. APIQ menumbuhkan motivasi belajar anak dengan pendekatan Quantum Learning, Quantum Quotient, dan Experiential Learning. Berbeda dengan pendekatan metode pendidikan atau pembelajaran matematika yang pada umumnya menempatkan aljabar sebagai fundamental, APIQ justru menempatkan aritmetika sebagai fundamental utama matematika. Pendekatan aritmetika menjadikan matematika lebih konkret tidak abstrak seperti aljabar. APIQ mempelajari matematika secara utuh dari aritmetika, aljabar, geometri, statistik, kalkulus, dan lain-lain. APIQ menyiapkan program untuk anak usia 4 tahun (TK), SD, SMP, SMA, sampai lulus SMA (preuniversity). APIQ membuka peluang bagi Anda yang berminat membuka cabang franchise. Anda dapat menghubungi APIQ di apiq.wordpress.com atau (022) 2008621 atau 0818 22 0898 atau quantumyes@yahoo.com . APIQ berasal dari kata Aritmetika Plus Inteligensi Quantum.

Kategori: Inovasi Pembelajaran · Peluang Bisnis
Ditandai: , , , , , , , ,

UN Menyapamu, Siapkah Kamu Menyambutnya?

Februari 28, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

UN Menyapamu, Siapkah Kamu Menyambutnya?

Tiara berdebar-debar hatinya. Apakah aku akan lulus UN? Bila gagal UN, itu berarti aku juga gagal masuk perguruan tinggi. Tiara sudah berhari-hari menantikan pengumuman hasil UN. Hari ini adalah hari pengumuman kelulusan UN.

Tiara menangis menerima pengumuman hasil UN-nya. Perjuangannya belajar di bangku SMA selama 3 tahun kini usai sudah. Ibunya, bapaknya juga ikut menangis. Mereka saling berpelukan. Air mata tak tertahankan. Tiara lulus UN! Bukan hanya lulus saja. Nilai UN Tiara sangat tinggi. Lebih tinggi dari yang diperkirakan semua orang. Air mata bahagia untuk Tiara dan keluarga. Pintu masuk ke perguruan tinggi terbuka lebar bagi Tiara.

Di tempat lain, air mata juga mengalir deras menyambut pengumuman hasil UN. Air mata bahagia bagi mereka yang lulus. Air mata sedih bagi mereka yang tidak lulus UN. Bukan hanya tidak lulus UN. Pintu perguruan tinggi pun seakan tidak mau menerima mereka. Masa depan juga tampak suram bagi mereka yang gagal, tidak lulus UN. Kasihan!

Bagaimana dengan kamu?
Sudah siapkah kamu menyambut UN?
Bersiaplah, saatnya akan segera tiba.

Sukses UN Tergantung Pilihanmu

Pada sebuah seminar, seorang anak siswa SMA berdiri. Ia mengajukan pertanyaan kepada seorang nara sumber yang sudah tua dan sangat berpengalaman.
”Wahai Kakek tua yang arif! Tolong jawab pertanyaanku. Burung dalam genggamanku ini, hidup atau mati?”

Bila kakek itu menjawab mati, anak itu akan melepaskan burung itu hidup bebas. Tapi bila kakek menjawab hidup, anak itu akan meremas burung dalam tangannya sampai mati.

Kakek itu berpikir sejenak lalu menjawab.
”Wahai anak muda! Hidup atau mati itu bergantung kepada pilihanmu. Bila engkau memilih mati maka matilah burung itu. Tetapi bila engkau memilih hidup maka hiduplah burung itu.”

Apakah kamu akan lulus UN?
”Wahai anak muda! Lulus UN itu bergantung kepada pilihanmu. Bila kamu memilih lulus maka kamu akan lulus.”

Karena kamu telah membaca tulisan ini, saya yakin kamu pasti ingin lulus UN. Dan saya yakin pasti kamu juga memilih untuk lulus UN. Itu pilihan bagus. Memutuskan agar diri lulus UN adalah langkah pertama bagi kamu untuk benar-benar dapat lulus UN. Langkah-langkah berikutya untuk lulus UN akan kita diskusikan pada bagian bawah ini.

Buah Simalakama UN

Bacalah koran, ikutilah berita di TV, baca opini di internet, kamu akan kebingungan menyikapi UN. Banyak pro dan kontra terhadap UN. UN menjadi bagaikan buah simalakama!

Bagi yang pro UN menyatakan bahwa UN harus diselenggarakan di Indonesia untuk meningkatkan mutu pendidikan. Persyaratan lulus UN di Indonesia juga masih tergolong rendah dibanding negara tetangga. Hanya dengan nilai rata-rata 4,5 seorang siswa dapat lulus UN. Bukankah nilai 4,5 itu berarti kemampuan siswa masih di bawah 50%? Tidakkah kita ingin memiliki lulusan yang nilanya di atas 50%?

Jika UN ditiadakan, dengan ukuran apa seorang siswa dinyatakan lulus? Apakah ukuran kelulusan ditentukan oleh masing-masing sekolah? Pasti setiap sekolah akan meluluskan siswanya, seburuk apa pun prestasi siswa tersebut. Mutu pendidikan tidak akan lagi terjamin. Jadi, UN memang harus diselenggarakan!

Bagi yang kontra UN menyatakan penyelenggaraan UN tidak adil. Ketika mutu pendidikan Indonesia rendah, mengapa hanya siswa yang harus bertanggung jawab? Beberapa siswa mendapat nilai buruk dalam UN sehingga tidak lulus. Ini mencerminkan mutu pendidikan kita masih rendah. Tetapi yang terkena dampaknya hanya siswa itu: ia tidak lulus. Bukankah mutu pendidikan adalah tanggung jawab kita bersama? Bukankah mutu pendidikan adalah tanggung jawab masyarakat, tanggung jawab keluarga, tanggung jawab sekolah, tanggung jawab guru, tanggung jawab Diknas, tanggung jawab menteri, tanggung jawab presiden (dan wakilnya), tanggung jawab siswa juga? Tetapi mengapa hanya siswa yang harus bertanggung jawab, menanggung beban tidak lulus? UN memang tidak adil. Jadi UN harus dibatalkan.

Masih banyak lagi diskusi tentang pro dan kontra UN.
Bagaimana dengan kamu?
Apakah kamu pro UN?
Atau kamu kontra UN?

Bagi kamu yang duduk di bangku kelas tiga, pro dan kontra UN tidak lagi penting. Apakah kamu pro atau kontra, UN tetap akan datang menghampirimu. Jadi yang terpenting untuk kamu yang kelas 3, bersiaplah menyambut UN! Luluskan dirimu dari UN! Bahagiakan dirimu dengan kelulusan, bahagiakan orang tua, dan bahagiakan Indonesia! Ukirlah prestasimu!

Bagi kamu yang duduk di bangku kelas satu atau dua, pro dan kontra UN menjadi sangat penting. Buatlah forum yang membahas tentang UN baik dari yang pro dan kontra. Buatlah tulisan tentang UN. Mungkin kamu juga bisa mengadakan pagelaran musik untuk mendukung atau menentang UN. Lakukanlah kegiatan positif yang membahas UN. Kegiatan ini akan memberi kamu pengalaman sangat berharga untuk masa depan.

Seorang pelaut ulung memberi nasihat,” Kamu tidak akan bisa mengubah arah angin tapi kamu bisa mengubah arah layarmu.” Kamu juga tidak bisa mengubah keputusan para pejabat negara yang telah menetapkan UN. Tapi kamu bisa mengubah sikapmu menyambut UN. Dengan sikap yang tepat, kamu pasti dapat lulus UN dengan membanggakan!

Strategi Lulus UN

Tibalah sekarang kita akan membahas strategi agar lulus UN. Strategi yang tepat dapat membuat kamu lulus UN dengan gembira. Tidak harus belajar ngebut sepanjang malam tanpa tidur. Kamu tetap bisa mengatur kapan waktu belajar, tidur cukup, olah raga, bahkan ngeband juga bisa kalau memang suka. Inilah strategi untuk lulus UN.

Pertama, bulatkan tekad. Kuatkan tekad kita bahwa kita memang ingin lulus UN. Apa pun halangannya akan kita atasi. Tekad ini, plus keyakinan, adalah modal utama untuk lulus UN.

Dalam sejarah olah raga lari cepat ada sebuah kepercayaan bahwa untuk lari menempuh jarak 1 mil tidak bisa lebih cepat dari 4 detik. Saat itu rekor dunia sprint adalah sekitar 4, 05 detik. Telah berpuluh-puluh tahun rekor sprint mendekati 4 detik tetapi tetap tidak dapat lebih cepat dari 4 detik. Muncul kepercayaan bahwa jantung manusia akan pecah bila lari 1 mil dengan waktu lebih cepat dari 4 detik.

Pada paruh kedua abad ke-20, ada seorang pelari yang meyakini bahwa ia akan mampu lari 1 mil dengan waktu lebih cepat dari 4 detik. Pelari kulit hitam ini membulatkan tekad bahwa ia akan berhasil lari lebih cepat dari 4 detik. Ia berlatih dengan rajin. Ia pertaruhkan jantungnya dengan lari secepat itu.

Pada akhirnya, lelaki kulit hitam itu memang berhasil. Ia mampu lari menempuh 4 mil, dengan catatan waktu 3,59 detik. Jantungnya? Apakah pecah? Syukurlah, jantungnya tetap utuh. Berita ini tersebar luas ke seluruh dunia. Yang menarik adalah, beberapa bulan kemudian ada orang lain yang dapat lari 1 mil dengan waktu 3,57 detik. Kemudian ada orang lain lagi yang dapat lari lebih cepat lagi. Dan sekarang semakin banyak pelari yang mampu lari lebih cepat lagi.

Keyakinan yang salah telah membelenggu para atlit dunia sehingga tidak bisa melampaui waktu lebih cepat dari 4 detik. Setelah mengubah keyakinan dan membulatkan tekad, ternyata mereka bisa lari lebih cepat dari waktu 4 detik. Bahkan banyak yang bisa melakukannya.

Bagaimana keyakinanmu dan tekadmu terhadap UN? Bila kamu yakin dapat lulus dan membulatkan tekad untuk lulus, pasti kamu akan lulus. Lihatlah memang jauh lebih banyak siswa yang lulus UN dari pada yang gagal. Dan kamu pasti bisa termasuk salah satu yang lulus UN dengan prestasi gemilang.

Kedua, cerdik mengelola waktu. UN masih jauh, akan dilaksanakan satu tahun lagi. Jika ingin lulus, bersiaplah dari sekarang. Rencanakan belajarmu selama satu tahun ini. Jangan tunda lagi. Siswa yang gagal, biasa menunda belajar sampai waktu UN tinggal sebulan lagi. Kalau pun mereka dapat lulus mereka akan kecapekan belajar sebulan penuh. Sebaliknya belajar mulai hari ini, dengan santai saja. Pasti hasilnya akan jauh lebih baik dan prosesnya pun mengasyikkan.

Ketiga, manfaatkan seluruh kemampuanmu dari sisi karakter mau pun kompetensi. Ringkasnya manfaatkan seluruh kecerdasanmu meliputi kecerdasan SEPIA. S adalah kecerdasan spiritual, E adalah kecerdasan emosi, P adalah kecerdasan power, I adalah kecerdasan Intelektual dan A adalah kecerdasan aspirasi. Untuk uraian lebih lengkap mengenai SEPIA, silahkan membaca buku SEPIA yang telah saya tulis bersama Dr Dimitri dan Ir Khairul Ummah MT.

Keempat, jaga momentum. Siapkan hal-hal sederhana yang dapat membuat kamu terus termotivasi. Misalnya, setiap pagi bacalah buku motivasi cukup satu halaman saja. Siang hari baca majalah yang membuat kamu semangat. Malam hari dengarkan musik kecintaanmu yang membuat kamu terus mood. Juga jaga kesehatan. Olah raga yang baik, tidur yang cukup, makan yang bergizi.

Kelima, berdoalah. Dengan berdoa, Tuhan akan membantumu. Alam semesta juga akan mendukungmu. Mintalah dukungan dari orang tua, dari guru, dan dari teman-teman.

Dengan menerapkan lima langkah di atas, tidak ada alasan untuk tidak lulus UN. Bila kamu menerapkan lima langkah ini secara konsisten mulai bulan Juli atau Agustus, kamu akan lulus UN. Tidak sekedar lulus, tetapi dapat meraih prestasi gemilang dalam UN. Dan dapat melanjutkan belajar di perguruan tinggi impian. Semoga berhasil!

*** agus NGGERmanto

Kategori: Inovasi Pembelajaran · SPMB · Ujian (UN · Uncategorized

SPMB: Menang Kalah Pertempuran Meraih Sukses

Februari 27, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Saat ini semakin sulit untuk lulus SPMB. Mengapa? Karena banyak jurusan (fakultas) favorit di perguruan tinggi yang telah mengisi kursi mahasiswa baru mereka melalui tes seleksi khusus. ITB, UI, UGM, dan lain-lain telah menerima mahasiswa baru jauh hari sebelum SPMB membuka pendaftaran. Mahasiswa baru ini telah mengambil kursi yang dulunya diperebutkan melalui SPMB. Jadi persaingan SPMB semakin ketat saja.

Ketika jumlah kursi yang diperebutkan semakin berkurang, peminat SPMB nyaris tidak berkurang. Bagaimana caranya agar kita dapat memenangkan ”pertempuran” SPMB ini? Tidak mudah memang. Tahun 2007 ini jumlah peserta SPMB diperkirakan sekitar 400 ribu orang. Sedangkan daya tampung perguruan tinggi hanya 100 ribu mahasiswa baru minus yang sudah diisi oleh mahasiswa baru dari tes masuk khusus. Jadi akan ada 300 ribu peserta SPMB yang pasti tidak lulus. SPMB memang sebuah ”pertempuran”.

Berbeda dengan UN. Meski kita tahu bahwa ada ribuan siswa yang tidak lulus UN, tetapi UN bukanlah ”pertempuran”. Bisa saja semua peserta UN lulus 100% asalkan nilai mereka di atas nilai standar kelulusan ( tahun 2007, nilai UN harus di atas 5). Tetapi peserta SPMB tidak mungkin dapat lulus 100%. Andai kata 400 ribu peserta SPMB memperoleh nilai di atas passing grade, tetap saja perguruan tinggi tidak akan mampu menerimanya. Perguruan tinggi hanya akan memilih 100 ribu nilai tertinggi. Jadi, dalam SPMB pasti akan ada yang ”menang” dan ada yang ”kalah”. Untungnya ada cara agar kita selalu mampu menang dalam SPMB. Inilah cara meraih kemenangan dalam kancah pertempuran SPMB itu, bersiaplah!

Rahasia Waktu Ketepatan waktu – timing- adalah aspek terpenting untuk memenangkan segala permainan, termasuk SPMB. Mengapa David Beckham memiliki tendangan bola yang menakjubkan? Karena waktu. Tendangan bola Beckham melaju lebih cepat seper sekian detik dari gerakan keeper. Terjadilah goal yang menakjubkan. Masih ingat petinju legendaris Mike Tyson? Mengapa Tyson dapat memukul KO lawan-lawannya di masa jayanya? Karena waktu. Pukulan Tyson lebih cepat seper sekian detik dari lawan. Terjadilah KO. Bagaimana cara memanfaatkan waktu untuk kemenangan SPMB kamu?

Mencuri start. Siapa yang start lebih awal mempersiapkan SPMB, mereka lebih diuntungkan. Jika kamu mempersiapkan diri untuk SPMB sejak SMP itu lebih bagus. Peter Drucker – Bapak Manajemen Dunia – menegaskan bahwa kita perlu waktu 5 tahun untuk mendapatkan perubahan besar dalam hidup. Bila kita mencermati soal-soal SPMB, ternyata beberapa di antaranya sudah kita pelajari ketika SMP. Misalnya bagian trigonometri, fungsi kuadrat, dan lain-lain. Atau paling tidak bila kamu telah mempersiapkan SPMB sejak SMA kelas 1 atau kelas 2, itu merupakan keuntungan besar untuk meraih kemengan SPMB. Kenyataannya soal-soal SPMB lebih banyak dari materi kelas 2 SMA. Atau paling akhir, awal kelas 3 SMA kamu harus telah memulai mempersiapkan diri untuk SPMB.

Tetapi bila seorang siswa baru mempersiapkan SPMB pertengahan kelas 3 SMA – atau lebih lambat lagi – , ini bukan merupakan keunggulan. Mengapa? Karena siswa yang lain, umumnya, juga mempersiapkan SPMB pada waktu seperti itu. Jadi tidak ada nilai lebih dalam hal seperti itu. Tidakkah akan menjadi bosan bila kita belajar SPMB terlalu awal? Tidak akan. Kamu tidak akan bosan bila benar-benar mempelajari soal SPMB. Soal-soal SPMB dipersiapkan oleh para pakar dengan pertimbangan yang matang. Setiap soal SPMB memiliki kualitas yang sangat tinggi. Justru semakin sering mempelajari soal SPMB akan membuat kamu semakin suka kepada SPMB. Cobalah start lebih awal!

Strategi Belajar Tono anak yang rajin belajar. Mungkin dia anak yang paling rajin belajar di sekolahnya. Tetapi Tono tida lulus SPMB. Nilai UN-pun nyaris tidak lolos. Mengapa bisa seperti itu? Belajar bukan sekedar urusan kuantitas saja, tapi kualitas juga sangat penting. Pilih strategi belajar sesuai tipe kamu. Setiap anak memiliki cara-belajar yang berbeda-beda. Ketahui cara mana yang paling cocok buat kamu. Ada anak yang cocok belajar dengan banyak gambar, anak yang lain lebih suka dengan rumus-rumus, ada juga yang lebih menyukai simulasi atau praktikum. Ada anak yang efektif bila belajar dengan menyendiri, sepi. Tetapi ada anak yang efektif belajar bersama-sama dengan kelompok, sambil diskusi, dan saling mengajari. Ada juga anak yang senang belajar dengan mempelajari buku sendiri, anak yang lain lebih suka dibimbing oleh guru dengan mengikuti semacam program bimbingan belajar. Jika kamu telah menemukan strategi belajar yang tepat, tidak ada yang dapat menghalangimu meraih sukses. Semoga!

Penetapan Tujuan Tujuan besar apa yang sebenarnya ingin kamu capai? Lulus SPMB! Ah… itu masih kurang besar. Setelah lulus SPMB, kamu ingin apa? Ingin kuliah di perguruan tinggi favorit. Terus ingin apa lagi? Ingin jadi dokter, ingin jadi insinyur, ingin jadi pengusaha, ingin jadi presiden…Setelah kamu menjadi seperti yang kamu inginkan, lalu apa yang kamu inginkan lagi? Terus buat pertanyaan semacam ini dan temukan jawabannya dengan jelas. Jawaban yang tegas dari pertanyaan-pertanyaan ini akan menjadi tujuan hidup kamu atau misi yang akan kita raih.

Buat plan rangkap. Ternyata SPMB hanyalah sebuah jalan untuk meraih tujuan yang lebih tinggi. Tidak masuk akal bila tujuan yang lebih tinggi itu hanya bergantung pada kemenangan ”pertempuran” SPMB. Buatlah beberapa plan (rencana) alternatif untuk meraih sukses seandainya SPMB tidak lulus. Mungkin rencana itu berupa kuliah di perguruan tinggi swasta, mengambil program D3, atau kuliah di luar negeri. Maksud rencana alternatif ini adalah untuk melepaskan kita dari beban psikologis berlebihan ketika ”bertempur” SPMB. Bukan untuk melemahkan semangat. Ketika kita sadar sepenuhnya bahwa SPMB bukan satu-satunya jalan meraih sukses, kita akan lebih tenang menghadapi ”pertempuran” SPMB itu. Fokuskan energi untuk memenangkan ”pertempuran” SPMB itu.

Penting juga memilih jurusan (fakultas) yang tepat dalam SPMB. Pemilihan jurusan ini mempertimbangkan diri kamu sendiri ( bakat, minat, kemampuan), prospek di masa depan, dan peta persaingan ”pertempuran” SPMB untuk memenangkannya. Taktik di Medan Tempur SPMB Taktik apa yang akan kamu lakukan ketika hari-H SPMB? Atau 1 hari menjelang SPMB?

Pada akhirnya ”pertempuran” SPMB akan ditentukan oleh pertempuran yang berlangsung hanya selama 2 kali 2 setengah jam atau 3 kali 2 setengah jam. Semua usaha dapat sia-sia belaka bila seseorang tidak memiliki taktik yang tepat menghadapi ”pertempuran” SPMB yang berlangsung singkat itu. Berikan kinerja terbaik di medan tempur SPMB. Menjelang hari-H SPMB, kesehatan menjadi nomor satu. Konsentrasi pikiran menjadi ujung tombak sukses SPMB. Jika kamu sudah bersiap, belajar SPMB berbulan-bulan sebelumnya, menjelang hari-H SPMB adalah saat yang tepat untuk mereview apa yang sudah kamu pelajari dan berkonsentrasi kepada apa yang sudah kamu kuasai.

Setelah SPMB hari pertama, apa yang perlu disiapkan untuk hari kedua? Jangan mengikuti pembahasan di radio atau koran jika kamu tidak siap. Karena, jika ternyata seseorang kecewa dengan pembahasan hari pertama dapat berakibat fatal terhadap hari kedua SPMB. Tetapi jika kamu siap, ikuti pembahasan di radio atau koran itu. Ada beberapa keuntungan jika kamu sudah tahu hasil SPMB hari pertamamu. Jika hasil hari pertama kamu sudah bagus, nilainya sangat tinggi, kamu dapat mengambil taktik hati-hati di hari kedua. Kamu cukup menjawab soal-soal yang kamu yakini benar jawabannya saja. Kamu akan memenangkan ”pertempuran” SPMB itu. Tetapi jika seseorang nilai hari pertama kurang memuaskan, maka ia hari kedua harus mengambil taktik yang lebih agresif dengan menjawab soal lebih banyak. Ia tidak cukup hanya menjawab soal-soal sedikit yang paling diyakininya. Ia justru harus berani menebak jawaban soal menggunakan pendekatan statistik yang ampuh. Dengan cara ini, ia akan memenangkan ”pertempuran” SPMB.

Banyak berdoa juga bisa menjadi taktik pamungkas kamu. Juga perbanyaklah berbuat kebaikan agar keberuntungan memihakmu di medan ”tempur” SPMB. Selamat berjuang! Semoga sukses! Selamat meraih kemenangan!

(agus Nggermanto; pendiri APIQ) APIQ: Inovasi Pembelajaran Matematika. APIQ membuka program kursus matematika kreatif yang mengembangkan kecerdasan anak dengan cara fun, gembira, dan mengasyikkan serta lebih cepat. APIQ menumbuhkan motivasi belajar anak dengan pendekatan Quantum Learning, Quantum Quotient, dan Experiential Learning. Berbeda dengan pendekatan metode pendidikan atau pembelajaran matematika yang pada umumnya menempatkan aljabar sebagai fundamental, APIQ justru menempatkan aritmetika sebagai fundamental utama matematika. Pendekatan aritmetika menjadikan matematika lebih konkret tidak abstrak seperti aljabar. APIQ mempelajari matematika secara utuh dari aritmetika, aljabar, geometri, statistik, kalkulus, dan lain-lain. APIQ menyiapkan program untuk anak usia 4 tahun (TK), SD, SMP, SMA, sampai lulus SMA (preuniversity). APIQ membuka peluang bagi Anda yang berminat membuka cabang franchise. Anda dapat menghubungi APIQ di apiq.wordpress.com atau (022) 2008621 atau 0818 22 0898 atau quantumyes@yahoo.com . APIQ berasal dari kata Aritmetika Plus Inteligensi Quantum.

Kategori: Inovasi Pembelajaran · SPMB · Ujian (UN

Kompetisi Kerikil Melawan Batu Besar

Februari 27, 2008 · & Komentar

Selesai belajar di APIQ, kami membereskan berbagai macam mainan bersama-sama. Siswa APIQ, meski pun mereka sudah membayar SPP, mereka tetap kita ajak ikut membantu membereskan mainan. APIQ berpikir bahwa ajakan kepada siswa ini mendidik putra-putri kita untuk lebih bertanggung jawab. Mereka dengan senang hati ikut membantu. Mungkin mereka menganggap bahwa membereskan mainan adalah bagian dari permainan itu sendiri. Sedangkan saya berpikir bahwa anak-anak sudah mengerti tanggung jawab sejak dini bila kita fasilitasi.

Salah satu masalah yang sering muncul adalah membereskan mainan Onde Milenium. Onde Milenium terdiri dari manik-manik kecil yang bisa kita sebut sebagai kerikil. Tetapi ini adalah kerikil istimewa. Kerikil – manik kecil – ini bisa kita susun menjadi manik yang sangat panjang atau sangat besar. Kadang-kadang seorang anak menyambung kerikil sampai ukuran mencapi 3 meter. Dia sendiri kagum kok bisa melakukannya. APIQ hanya memfasilitasi di sela-sela permainan itu agar anak-anak menangkap berbagai konsep matematika yang penting. Setelah selesai mereka akan bingung, bagaimana cara membereskannya?

Saya menaruh kerikil-kerikil itu dalam satu toples tertutup penuh. Siswa mengeluarkannya. Menyusunnya. Beberapa di antaranya menjadi sangat panjang – bisa kita sebut sebagai batu besar. Setelah selesai, mereka harus memasukkan kembali seluruh onde itu – kerikil dan batu besar – ke dalam toples semula. Toples menjadi tidak cukup. Bagaimana mungkin?

Biasanya siswa APIQ memasukkan kerikil-kerikil dulu. Kerikil ini sudah mengisi setengah bagian dari toples. Kemudian ia memasukkan 5 batu besar yang tersisa. Baru 2 batu besar masuk, toples sudah tidak cukup. Siswa itu biasanya akan memaksa memasukkannya. Tetap tidak cukup. Dia akan berusaha lebih keras menekan. Hasilnya lebih meyakinkan, memang tidak cukup.

Siswa-siswa APIQ itu diskusi di antara mereka. Mereka mutuskan untuk memecah batu-batu besar itu menjadi kerikil-kerikil kecil. Berhasil. Mereka berhasil memasukkannya ke dalam toples. Tetapi timbul masalah. Butuh waktu yang lama untuk memecah batu-batu besar itu menjadi kerikil. Belum lagi, beberapa batu besar memang sudah kami buat permanen. Tidak bisa dipecah menjadi kerikil kecuali dengan merusaknya.

Siswa-siswa terus mencoba-coba. Saya malah kagum, mengapa mereka tidak putus asa ya? Bukankah itu tugas panitia APIQ untuk membereskan mainan edukatif? Bagi siswa ini memang bagian dari permainan.

Akhirnya siswa itu mencoba cara baru. Mereka mengeluarkan seluruh kerikil dari toples. Toples menjadi kosong. Kemudian mereka memasukkan batu-batu besar lebih awal. Memang toples menjadi hampir penuh. Tetapi ada rongga-rongga kecil di antara batu-batu besar itu. Kemudian anak-anak itu memasukkan kerikil-kerikil itu ke dalam toples. Berhasil! Mereka bergembira. Saya bergembira!

Beberapa tahun kemudian saya memperoleh buku manajemen modern First Thing First karya Stephen Covey. Buku ini luar biasa, menurut saya. Untuk menjelaskan prinsip-prinsip manajemen terpenting, Covey memakai permainan yang sama seperti yang dimainkan anak-anak APIQ: Kompetisi Kerikil Melawan Batu Besar.

Dahulukan yang utama. Itu lah prinsip terpenting dalam manajemen. Batu besar melambangkan hal-hal utama atau prinsip-prinsip yang harus kita pegang teguh. Bila kita telah menjalankan prinsip dengan benar, maka hal-hal kecil akan datang melengkapinya – kerikil-kerikil kecil itu. Tetapi bila sebaliknya yang terjadi akan sangat merepotkan. Hal-hal remeh menyibukkan kita – kerikil. Menghabiskan banyak waktu. Dan orang itu tidak sempat menyelesaikan tugas utamanya – batu besar. Dahulukan yang utama, itulah manajemen.

Bu Intan paling menyukai ungkapan di atas. Pagi ini mestinya saya akan bertemu dengan Bu Intan untuk berlatih badminton. Olah raga demi menjaga kesehatan adalah batu besar. Jaga dengan baik kesehatan kita. Yang lainnya akan mengikuti.

 

Salam hangat…

 

(agus Nggermanto; pendiri APIQ)

 

APIQ: Inovasi Pembelajaran Matematika. APIQ membuka program kursus matematika kreatif yang mengembangkan kecerdasan anak dengan cara fun, gembira, dan mengasyikkan serta lebih cepat. APIQ menumbuhkan motivasi belajar anak dengan pendekatan Quantum Learning, Quantum Quotient, dan Experiential Learning. Berbeda dengan pendekatan metode pendidikan atau pembelajaran matematika yang pada umumnya menempatkan aljabar sebagai fundamental, APIQ justru menempatkan aritmetika sebagai fundamental utama matematika. Pendekatan aritmetika menjadikan matematika lebih konkret tidak abstrak seperti aljabar. APIQ mempelajari matematika secara utuh dari aritmetika, aljabar, geometri, statistik, kalkulus, dan lain-lain. APIQ menyiapkan program untuk anak usia 4 tahun (TK), SD, SMP, SMA, sampai lulus SMA (preuniversity). APIQ membuka peluang bagi Anda yang berminat membuka cabang franchise. Anda dapat menghubungi APIQ di apiq.wordpress.com atau (022) 2008621 atau 0818 22 0898 atau quantumyes@yahoo.com . APIQ berasal dari kata Aritmetika Plus Inteligensi Quantum.

Kategori: Badminton · Inovasi Pembelajaran · Peluang Bisnis

Untuk Mozamal

Februari 26, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Setiap orang sepakat bahwa ilmu adalah aset paling berharga. Tetapi hanya dengan IT yang tepat aset ilmu dapat memberi manfaat terbesar.

Manusia adalah makhluk paling banyak berkomunikasi. Adakah teknologi yang lebih besar memberi manfaat dari teknologi telekomunikasi?

Manusia terlahir merdeka. Teknologi informasi dan telekomunikasi mengemban misi: memerdekakan kemanusiaan.

Bagaimana dengan APIQ?

Memerdekakan melalui pembelajaran matematika.

Kategori: Inovasi Pembelajaran

Rokok Lagi… Rokok Lagi: Kemelut demi Kemelut

Februari 26, 2008 · & Komentar

Beberapa bulan setelah menikah, saya dan istri tinggal di Dago bagian atas, Bandung bagian utara. Udaranya sangat sejuk. Sangat cocok untuk pengantin baru. Tepatnya kami tinggal di Dago 484. Itu adalah tempat kost saya di masa-masa akhir kuliah. Tempatnya cukup bersih, luas, dan murah lagi. Suasana pegunungan menambah kesejukan suasana.

Beberapa bulan berlalu, kami melakukan pembersihan kamar. Kami bongkar-bongkar isi lemari. Barang-barang yang tidak diperlukan, buang saja. Istri saya terkejut menemukan sesuatu,

”Ini apa Mas?”

”Apa gitu?” saya balik tanya. Ragu-ragu melihat kotak putih.

”Ini…!?” sambil melempar kotak putih itu.

”He…he…he…” saya meringis

”Kok masih ada ya…? saya malah balik bertanya.

 

Kotak putih itu adalah sebungkus rokok A-Mild. Sejak kami berkenalan, mantan pacar saya ini, tidak pernah melihat saya merokok. Tentu saja dia heran mengapa ada rokok di lemari saya. Saya ceritakan bahwa dulu saya pernah merokok. Saya memang perokok waktu itu. Tapi sekarang sudah tidak lagi. Lama sebelum kami menikah saya sudah berhenti merokok.

 

Saya perhatikan istriku yang cantik itu apakah ia kecewa telah menikah dengan seorang perokok. Dan baru ia ketahui setelah berlangsungnya pernikahan. Saya sendiri tidak pernah menceritakan hal ini sebelumnya. Bahkan terpikirkan pun tidak pernah. Saya tidak pernah ingat kalau dulu saya pernah jadi perokok.

 

Detik demi detik berlalu. Menit demi menit berlalu. Istriku tetap tenang. Tidak saya lihat kemarahan di wajahnya. Mungkin karena masih pengantin baru, dia tidak marah. Untunglah saya punya istri yang pengertian – cantik lagi.

 

Sekarang, di kantor, isu rokok mulai terangkat lagi. Beberapa teman yang tidak kuat dengan asap rokok mengusulkan agar ditetapkan larangan merokok di kantor. Mereka menang. Berlakulah larangan merokok di kantor. Bagi teman-teman yang perokok berat, larangan merokok ini cukup memberatkan.

 

Untungnya – atau celakanya – mereka yang kecanduan rokok adalah mereka yang paling banyak kebagian lembur. Bagaimana beratnya bila harus lembur tanpa merokok. Kerja di siang hari tanpa merekok saja sudah berat. Apalagi ketika lembur. Kerja menjadi kurang konsentrasi. Efisiensi dan efektifitas bisa menurun. Saya dapat memahami itu.

 

Saya katakan pada mereka bahwa saya simpati kepada mereka dan situasi ini. Saya dapat merasakan betapa beratnya menghentikan rokok ketika ingin. Tapi saya tetap menyatakan bahwa rokok itu sia-sia, waste, muda, alias pemborosan. Ada dua macam pemborosan. Pertama pemborosan yang tidak perlu. Pemborosan macam ini harus dibuang secepatnya. Kedua, pemborosan yang masih diperlukan. Merokok dapat masuk kategori kedua. Jika pemborosan ini dihilangkan dapat berakibat lebih buruk. Mereka tampaknya sepakat dengan saya. Meski pun diperlukan, merokok tetap pemborosan. Mereka lebih suka jika dibalik, meski pun pemborosan tetapi tetap diperlukan. Itulah merokok. Mereka bahkan menambahkan, ”Mendingan merokok dong, dari pada kepala gue ubanan!”

 

Saya mengusulkan dua skenario untuk mereka. Pertama, mestinya menjadi pilihan teman-teman semua, adalah berlatihlah untuk tidak merokok. Banyak metodologi untuk menghilangkan ketergantungan terhadap rokok. Mudah dikatakan tetapi sulit dijalankan. Orang yang belum pernah kecanduan rokok biasanya heran, apa susahnya untuk berhenti merokok? Susah! Percayalah memang susah. Butuh perjuangan. Karena itu, pahalanya besar, berjuang untuk berhenti merokok.

 

Kedua, teman-teman tampaknya lebih semangat dengan skenario ini, tetaplah merokok tetapi pastikan tidak memberi dampak negatif kepada orang lain. Saya teringat ketika kami memberikan sebuah training di sebuah perusahaan rokok terbesar di Indonesia. Ruangan training sejuk, tertutup, dan ber-AC. Tetapi di ruangan itu boleh merokok. Saya rasakan tidak ada bau asap rokok dalam ruangan.

 

Di dalam ruangan boleh merokok – meski ber-AC. Di lorong ruangan tidak boleh merokok. Apakah tidak berbahaya merokok dalam ruangan ber-AC? Menurut mereka tidak. Ruangan itu telah dilengkapi dengan alat ”pembersih udara”. Meski pun ada yang merokok dalam ruangan, udara tetap bersih. Alat ”pembersih udara” menjamin kebersihan udara. Teman-teman tampaknya lebih mendukung skenario kedua ini. Tentu saja butuh investasi untuk menjalankan skenario kedua ini. Apakah divisi keuangan setuju?

 

Saya sendiri lebih menyukai skenario ketiga, jika memungkinkan, berhentilah merokok sebelum Anda pernah merokok. Atau lebih lunak, berhentilah merokok sebelum Anda merasakan nikmatnya rokok. Atau lebih keras lagi, jangan pernah sekali-kali mendekati rokok. Ada banyak hal lebih mudah kita kendalikan sebelum seseorang terjerumus ke dalamnya.

Belajar matematika juga mengalami nasib yang sama. Kita akan lebih mudah mengajarkan matematika kepada anak yang belum terjerumus dalam ”kemelut matematika”. Awal dari kemelut matematika terjadi, umumnya, ketika seorang anak kecil mulai berhitung bilangan sampai belasan – 11 sampai 19.

Seorang anak usia 4 atau sampai 6 tahun tidak akan mengalami kesulitan ketika belajar angka (bilangan) sampai 1 sampai dengan 10. Anak-anak senang belajar. Anak-anak senang matematika. Operasi penjumlahan dan pengurangan mengasyikkan bagi anak-anak kita. Dengan catatan, angka (bilangan) itu di bawah 10. Begitu beranjak ke angka yang lebih tinggi, angka belasan, mengapa anak-anak jadi malas? Ini lah awal kemelut matematika. 

Tidak semua anak mengalami kemelut ini. Beberapa anak langsung mampu mengatasi bilangan belasan tanpa hambatan. Beberapa anak yang lain – sebagian besar – mengalami kemelut matematika. Rumitnya, anak yang berkemelut itu tidak sadar dengan kemelutnya. Ditambah lagi, para pendidik juga tidak menyadari bahwa angka belasan ini adalah sumber kemelut matematika bagian awal. Hal ini dapat kita cermati dengan tidak adanya pendekatan khusus untuk mengajarkan angka belasan.

Kursus matematika biasanya peka terhadap kemelut awal ini. Sempoa, Kumon, dan APIQ menangani kemelut awal ini dengan baik. Biji-biji sempoa menyelesaikan masalah ini dengan mudah. Pembelajaran bertahap gaya Kumon memudahkan anak mengatasi kemelut matematika. APIQ membekali siswa dengan mainan Onde Milenium dan Super Marble. Pendek kata, kemelut matematika awal ini telah terselesaikan dengan baik di kursus matematika. Tetapi di sekolah, saya belum melihat itu.

Bagaimana dengan kursus Jarimatika? Saya jarang menyinggung Jarimatika dalam tulisan-tulisan saya. Tadinya, saya berpikir Jarimatika adalah evolusi dari artimetika sempoa. Sehingga apa yang saya bahas tentang sempoa sudah mewakili Jarimatika. Karena, intinya, Jarimatika adalah mengganti biji sempoa dengan jari-jari tangan. Mungkin tidak sesederhana itu saja.

Kehidupan memang tidak sederhana. Meski pun tampak sederhana. Mengajarkan anak berhitung dasar perlu disiplin khusus. Menangani efek negatif asap rokok – nikotin – perlu disiplin tertentu. Perlu metodologi. Perlu investasi. Perlu perjuangan.

 

Apa boleh buat?

Nasi sudah jadi bubur.

Mari kita jadikan bubur spesial!


Selamat menikmati…

Selamat berjuang Kawan!

 

(agus Nggermanto; pendiri APIQ)

 APIQ: Inovasi Pembelajaran Matematika. APIQ membuka program kursus matematika kreatif yang mengembangkan kecerdasan anak dengan cara fun, gembira, dan mengasyikkan serta lebih cepat. APIQ menumbuhkan motivasi belajar anak dengan pendekatan Quantum Learning, Quantum Quotient, dan Experiential Learning. Berbeda dengan pendekatan metode pendidikan atau pembelajaran matematika yang pada umumnya menempatkan aljabar sebagai fundamental, APIQ justru menempatkan aritmetika sebagai fundamental utama matematika. Pendekatan aritmetika menjadikan matematika lebih konkret tidak abstrak seperti aljabar. APIQ mempelajari matematika secara utuh dari aritmetika, aljabar, geometri, statistik, kalkulus, dan lain-lain. APIQ menyiapkan program untuk anak usia 4 tahun (TK), SD, SMP, SMA, sampai lulus SMA (preuniversity). APIQ membuka peluang bagi Anda yang berminat membuka cabang franchise. Anda dapat menghubungi APIQ di apiq.wordpress.com atau (022) 2008621 atau 0818 22 0898 atau quantumyes@yahoo.com . APIQ berasal dari kata Aritmetika Plus Inteligensi Quantum.

Kategori: Inovasi Pembelajaran · Peluang Bisnis

(R)Evolusi Matematika Aritmetika

Februari 25, 2008 · & Komentar

”Mengapa 1 jam adalah 60 menit?”

”Ya memang begitu. Masalahnya apa?”

”Menyulitkan. Coba berapa menitkah 3,5 jam?”

”3,5 x 60 menit.”

”Coba kalau 1 jam adalah 10 menit. Menjadi sederhana kan?”

Membuat sebuah tugas menjadi sederhana adalah kehebatan. Membuat sebuah tugas menjadi rumit adalah kemalasan. Untuk mencapai sebuah tujuan yang sama, semakin sederhana semakin bagus. Kesederhanaan mencerminkan efisiensi dan efektivitas. Sedangkan kerumitan mencerminkan pemborosan.  

Saya heran, mengapa ada angka Romawi?

Bukankah angka yang biasa kita pakai sudah cukup?

Angka Romawi mempunyai peran khusus. Bagi saya, angka Romawi justru memberi pelajaran khusus. Angka Romawi adalah angka kuno yang sampai sekarang masih digunakan secara luas. Angka kuno yang lain nyaris tidak pernah digunakan.  

Ribuan tahun yang lalu, setiap daerah memiliki lambang bilangan (angka) tersendiri. Ada angka Romawi, Arab, Cina, Jawa, dan lain-lain. Semua angka tersebut memiliki karakteristik yang mirip yaitu tidak menerapkan prinsip logaritma. Karena itu berhitung menjadi tugas yang sangat rumit. Cobalah sekarang Anda berhitung dengan angka kuno, angka Romawi. Berapakah empat puluh tujuh ditambah delapan puluh tiga?

Empat puluh tujuh adalah XLVII

Delapan puluh tiga adalah LXXXIII

Penjumlahannya adalah….lumayan rumit kan?

Apalagi jika tugasnya bukan menjumlahkan dua bilangan itu. Tetapi mengalikannya. Dapatkah Anda menyelesaikan? Pasti rumit.

 
Orang yang mengusai ilmu hitung (aritmetika) mendapat kedudukan istimewa waktu itu. Dengan hanya dikenal angka kuno, hanya sedikit orang yang mampu menguasai aritmetika. Cina memiliki terobosan teknologi aritmetika: sempoa.

Sempoa telah berkembang kira-kira 5 ribu tahun yang silam di Cina. Orang yang menguasai sempoa memiliki kedudukan yang terhormat. Ketika masyarakat akan menghitung hasil panen dan hendak membaginya ke anggota keluarga, mereka datang ke ahli aritmetika, ahli sempoa. Ahli sempoa itu akan menghitungkan masalah yang dihadapi masyarakat itu. Biasanya ahli sempoa menghitung di kamar kerjanya yang tersembunyi – tidak di depan masyarakat.

 

Ahli sempoa yang mahir dapat saja memecahkan masalah aritmetika tanpa alat bantu sempoa. Mereka bisa memecahkan hanya dengan mental aritmetika sempoa. Tidak dapat dibendung, kehebatan sempoa akhirnya tersebar ke seluruh penjuru dunia. Sempoa tidak hanya milik orang Cina. Tetapi sudah menjadi milik dunia manusia.

 

Dalam rentang 3 ribu tahun sebelum masehi sampai 500 tahun setelah masehi, aritmetika belum berkembang jauh dari teknologi sempoa dan angka kuno. Baru pada kira-kira abad ke-8 masehi terjadi revolusi dalam aritmetika matematika.

 

Muhammad Ibn Musa AlKhawaritzmi adalah tokoh utama dalam revolusi itu. AlKhawaritzmi adalah ahli matematika, aritmetika, dan bapak aljabar dunia. Nama AlKhawaritzmi diabadikan dunia sebagai istilah langkah-langkah untuk menyelesaikan suatu masalah dengan sistematis. Dunia barat menyebutnya sebagai Algorithm. Orang Indonesia menyebutnya Algoritma. (Dunia komputer banyak berhutang budi pada AlKhawaritzmi).

 

Sekitar abad ke-12, Leonardo Fibonaci berangkat ke negerinya AlKharitzmi – Baghdad – untuk mempelajari matematika. Fibonaci sangat terkesan denga teori AlKhawaritmi. Fibonaci pulang ke Eropa – Itali – dengan semangat untuk mengajarkan teori AlKhawaritzmi. Ia menulis sebuah buku berjudul ”Liberty Abaci” yang artinya terbebas dari sempoa.

Sebelumnya, orang Eropa mengandalkan sempoa untuk menghitung berbagai masalah aritmetika. Dengan AlKhawaritzmi mereka bebas memecahkan aritmetika hanya dengan berpikir. Tanpa alat bantu sempoa lagi. Eropa memperoleh kemajuan pesat dengan menerapkan AlKhawaritzmi.

Sampai di sini kita berpikir, mengapa kita mengajarkan anak-anak kursus sempoa?

Di Eropa, sempoa sudah ditinggalkan sejak abad ke-12. Mengapa di abad ke-21 justru kita mengejar sempoa?

Bagaimana  pendapat  Anda?

(agus Nggermanto; pendiri APIQ)

APIQ: Inovasi Pembelajaran Matematika. APIQ membuka program kursus matematika kreatif yang mengembangkan kecerdasan anak dengan cara fun, gembira, dan mengasyikkan serta lebih cepat. APIQ menumbuhkan motivasi belajar anak dengan pendekatan Quantum Learning, Quantum Quotient, dan Experiential Learning. Berbeda dengan pendekatan metode pendidikan atau pembelajaran matematika yang pada umumnya menempatkan aljabar sebagai fundamental, APIQ justru menempatkan aritmetika sebagai fundamental utama matematika. Pendekatan aritmetika menjadikan matematika lebih konkret tidak abstrak seperti aljabar. APIQ mempelajari matematika secara utuh dari aritmetika, aljabar, geometri, statistik, kalkulus, dan lain-lain. APIQ menyiapkan program untuk anak usia 4 tahun (TK), SD, SMP, SMA, sampai lulus SMA (preuniversity). APIQ membuka peluang bagi Anda yang berminat membuka cabang franchise. Anda dapat menghubungi APIQ di apiq.wordpress.com atau (022) 2008621 atau 0818 22 0898 atau quantumyes@yahoo.com . APIQ berasal dari kata Aritmetika Plus Inteligensi Quantum.

Kategori: Inovasi Pembelajaran

Why BadMan?

Februari 24, 2008 · & Komentar

Sabtu ini saya tidak bisa main badminton seperti biasanya. Lapangan badminton yang di dekat rumah sedang ada perbaikan. Mungkin perlu satu bulan untuk menyelesaikan perbaikan itu. Saya mencari tempat badminton yang sedikit lebih jauh. Lapangannya sangat bagus. Terdiri 3 lapang, ada kantin sederhana, ada fasilitas fitness lagi. Terbebas dari asap rokok. Untuk merokok disediakan tempat tersendiri. Toiletnya bersih dan banyak. Terletak di kawasan Bandung utara, sangat sejuk. Wahai BadMan, kapan-kapan datanglah ke sana. Puas habis. Mau??? Sekalian ajak teman-teman Indocisc! (BadMan: Badminton Man of Sharing Vision).

Saya tertarik dengan lapangan sebelah saya main. Ada 2 anak kecil kira-kira umurnya 10 tahunan. Dengan seorang pelatih berpengalaman bersamanya. Dua anak itu kemampuannya masih biasa-biasa saja. Setingkat dengan para BadManlah kira-kira. Tapi saya yakin, 3 bulan ke depan, 2 anak 10an tahun itu akan bisa mengalahkan para BadMan. Mengapa?

Mereka disiplin berlatih dengan bimbingan pelatih berpengalaman. Pelatih membawa 20 kok (suttle cock) mengumpan ke anak itu. Anak itu memukul dengan lob (clear) panjang ke belakang. Dia melakukannya terus sampai 20 kok habis. Kemudian pelatih mengambil 20 kok lagi. Mengumpan lagi. Sampai kira-kira 100 pukulan lob terjadi. Di sela-sela pukulan itu pelatih sesekali memberi instruksi cara memukul yang benar. Setelah itu mereka beralih ke latihan pukulan smash. Caranya mirip. Pelatih mengumpan sampai kira-kira 100 kali. Si anak latihan memukul smash. Pelatih memberi beberapa instruksi perbaikan.

Saya yakin 3 bulan ke depan, 2 anak itu akan meraih kemajuan pesat. Mereka dapat melampaui kemampuan para BadMan. Wah…jangan-jangan ada yang baca tulisan ini dari Tim Indocisc? Dengan cara berlatih begini, nanti mereka bisa mengalahkan kita di badminton seperti main futsal. Ah…jangan sampai terjadi.

Mengapa saya yakin 2 anak yang 10an tahun itu akan berkembang pesat?

Orang bijak mengatakan bahwa siapa yang paham why maka ia akan menemukan how. Siapa saja yang memahami alasan inti dari suatu masalah, ia akan menemukan cara menyelesaikan masalah itu. Menurut saya ini hanya berlaku bagi orang-orang yang sudah berpengalaman dalam bidang tertentu. Hal ini tidak berlaku bagi pemula atau seseorang yang belajar sesuatu.

Saya ingin membalik pendapat di atas menjadi siapa yang banyak melakukan how maka ia akan memahami why. Barang siapa yang banyak berlatih tahap demi tahap maka ia akan mudah memahami filosofi dari latihan itu.

Sistem pembelajaran dan pendidikan kita umumnya tidak memahami ini. Mereka kurang memberi latihan yang bertahap kepada para anak didiknya. Sehingga anak didik sulit memahami arti dari sebuah disiplin ilmu.
Kursus matematika sempoa, Kumon, dan APIQ menangkap peluang itu dengan baik. Sempoa mengajari siswa melalui latihan tahap demi tahap. Siswa – yang umumnya anak-anak kecil – sekedar berlatih berulang-ulang. Setelah berkali-berkali para siswa menguasai teknik berhitung sempoa bahkan sampai mental aritmetika. Sayangnya kursus sempoa sering tidak mengajarkan filosofi sempoa setelah para siswa menguasai sempoa. Jika kursus sempoa menanamkan filosofi sempoa ke siswanya hal ini akan memberi dampak jauh lebih positif dari yang ada saat ini.

Kumon juga mengajarkan matematika bertahap. Misalnya siswa akan berlatih penjumlahan (pertambahan) dengan bilangan 4 secara berulang-ulang. Guru Kumon tidak perlu repot-repot berpanjang lebar menjelaskan konsep penjumlahan 4. Cukup siswa berlatih dan berlatih. Akhirnya siswa menguasai pernjumlahan 4. Setelah itu, Kumon berkesempatan menanamkan filosofi matematika. Apakah Kumon melakukannya? Saya tidak tahu pasti. Yang jelas di kelas Kumon harus terjaga keheningan suasana.

APIQ menyusun strategi yang sama dengan sempoa dan Kumon. APIQ menyusun pembelajaran secara bertahap. Memang siswa APIQ lebih mudah menguasai matematika dengan pendekatan bertahap di APIQ. Bagaimana dengan menanamkan filosofi matematika? Ini menjadi tantangan tersendiri. Tidak mudah memang. APIQ menyusun latihan soal cerita untuk para siswa. Soal cerita ini membingkai matematika dengan konteks dan filosofi yang relevan. Anak-anak ternyata sangat menyukai soal cerita. Para siswa sudah kecanduan soal cerita – meminjam istilah dari seorang guru APIQ.

APIQ juga berusaha menanamkan filosofi matematika melalui beragam mainan – alat peraga – edukatif. Beberapa mainan yang saya sukai adalah Onde Mileneum dan Super Marble. Onde Milenium membekali anak tentang teori nilai tempat dan operasi aritmetika sederhana. Sedangkan Super Marble mengajari anak penjumlahan dan pengurangan dengan cepat, nilai tempat, dan kesabaran.

Latihan bertahap dan berulang adalah kunci kemajuan. Jika para BadMan latihan disiplin pukulan smash misalnya, pasti tim Indocisc sudah keder duluan. Hidup BadMan! Selamat berlatih…Semoga sukses!

Salam provokasi…

(agus Nggermanto; pendiri APIQ)

APIQ: Inovasi Pembelajaran Matematika. APIQ membuka program kursus matematika kreatif yang mengembangkan kecerdasan anak dengan cara fun, gembira, dan mengasyikkan serta lebih cepat. APIQ menumbuhkan motivasi belajar anak dengan pendekatan Quantum Learning, Quantum Quotient, dan Experiential Learning. Berbeda dengan pendekatan metode pendidikan atau pembelajaran matematika yang pada umumnya menempatkan aljabar sebagai fundamental, APIQ justru menempatkan aritmetika sebagai fundamental utama matematika. Pendekatan aritmetika menjadikan matematika lebih konkret tidak abstrak seperti aljabar. APIQ mempelajari matematika secara utuh dari aritmetika, aljabar, geometri, statistik, kalkulus, dan lain-lain. APIQ menyiapkan program untuk anak usia 4 tahun (TK), SD, SMP, SMA, sampai lulus SMA (preuniversity). APIQ membuka peluang bagi Anda yang berminat membuka cabang franchise. Anda dapat menghubungi APIQ di apiq.wordpress.com atau (022) 2008621 atau 0818 22 0898 atau quantumyes@yahoo.com . APIQ berasal dari kata Aritmetika Plus Inteligensi Quantum.

Kategori: Badminton · Inovasi Pembelajaran

Buku Karya Tulisku

Februari 23, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Ketika mahasiswa, saya ingin sekali menulis sebuah buku. Paling tidak menulis sebuah artikel di koran. Saya sudah banyak membaca buku. Termasuk membaca buku tentang cara menulis buku. Tiba waktunya untuk menulis sebuah buku, pikirku. Saya sudah mulai mengetik ide-ideku. Satu hari menghasilkan 2 halaman. Hari kedua bertambah menjadi 3 halaman. Hari keempat tidak bertambah, tetap tiga halaman. Hari kelima juga tetap tiga halaman. Satu minggu kemudian tidak berubah. Satu bulan berlalu tidak berubah. Satu tahun berlalu saya mulai kendur dengan keinginanku menulis sebuah buku. 

Tahun 2001 adalah tahun terindahku. Saya berhasil menulis sebuah buku. Buku sederhana setebal sekitar 218 halaman. Buku ini saya beri judul Quantum Quotient: Cara Praktis Melejitkan IQ, EQ, dan SQ yang Harmonis. Terima kasih kepada rakyat Indonesia. Buku Quantum Quotient mendapat sambutan hangat. Quantum Quotient menduduki tempat best seller di Gramedia waktu itu. Quantum Quotient sudah naik cetak berkali-kali (kalau tidak salah sih 5 kali cetak). Dicetak sekitar 20.000 eksemplar versi orisinal – versi bajakan saya tidak tahu. Quantum Quotient memberi banyak pelajaran bagiku terutama untuk tetap komitmen dan sabar sampai meraih tujuan.

Sebelum itu saya sudah berhasil menulis sebuah buku. Tetapi buku ini tidak sempat masuk ke toko buku resmi semisal Gramedia. Bahkan kita juga mungkin tidak dapat menemukannya melalui Google di Internet. Buku ini saya beri judul Pembahasan Praktis Soal-soal UMPTN. Buku ini kami terbitkan sendiri bersama teman-teman Exphytri pada tahun 1995-an. Distribusi dilakukan langsung oleh teman-teman Exphytri. Buku ini gagal tetapi sukses. Exphytri adalah himpunan teman-teman eks fisika 3 dari SMA 2 Tulungagung. Saya belajar banyak tetang kekompakan dan arti sebuah persahabatan dalam proses menulis dan menerbitkan buku ini. Ketika saya menjadi seorang guru idola di sebuah bimbingan belajar di Bandung, saya menunjukkan buku ini ke siswa. Para siswa ternyata tertarik. Buku-buku yang semula saya simpan di gudang habis ludes dibeli oleh para siswa. Terimakasih teman-teman Exphytri SMA 2 Tulungagung dan para siswa. 

Tahun 2003 saya berkolaborasi dengan teman-teman Sharing Vision, teman-teman para dosen ITB. Mereka adalah orang-orang hebat luar biasa. DR Dimitri Mahayana dari Teknik Elektro dan Ir Khairul Ummah M.T dari Teknik Penerbangan. Kolaborasi ini menghasilkan sebuah buku yang sangat indah. Kami beri judul buku itu SEPIA: Lima Kecerdasan Utama untuk Meraih Bahagia dan Sukses. SEPIA adalah singkatan dari Spiritual, Emotional, Power, Intelectual, Aspirasi. Buku SEPIA juga berhasil menduduki tempat best seller di Gramedia. Buku ini memberikan pelajaran berharga bagi saya bahwa tiga orang berbeda – Khairul, Dimitri, Angger – mampu menghasilkan sebuah buku yang padu dan harmonis.

Buku APIQ adalah buku yang paling lama saya rampungkan. Saya sudah selesai menulis APIQ sejak tahun 2004. Dan saya sudah menerapkannya sejak tahun 2000-an. Tetapi anehnya, sampai saya menulis tulisan ini, buku APIQ juga belum terbit. Mungkin ini ujian kesabaran buat saya. Memang saat ini buku APIQ sedang dalam proses penerbitan. Mohon doa restu dari teman-teman semua.

 Saat ini saya juga sedang menulis buku Presentasi Inspiratif dan Akselerasi Angger. Presentasi Inspiratif merupakan buku lengkap mengenai teknik presentasi yang saya dasarkan dari berbagai buku referensi serta pengalaman saya melakukan presentasi terutama pengalaman mengikuti presentasi Sharing Vision sekitar 200 angkatan. Sedangkan Akselerasi Angger saya rancang sebagai lanjutan dari Quantum Quotient. Naskah buku ini telah siap dalam komputer saya. Tetapi saya belum tahu kapan akan terbit. Semoga sukses untuk kita semua.

Khusus untuk buku APIQ, saya berniat menulis secara serial. Matematika adalah samudera ilmu tanpa batas. Mungkin saya akan menulis buku APIQ dua jilid. Mungkin juga 10 jilid. Ditambah lagi, saya juga ingin menuliskan pengalaman para siswa APIQ dalam mempelajari matematika. 

Masih ada beberapa judul buku yang sudah saya siapkan di kompter saya. Lain waktu saya ingin menceritakannya.

Yang menarik dari menulis buku adalah kita tidak akan tahu pasti manfaat dari buku yang kita tulis. Suatu ketika saya menghadiri seminar ke suatu daerah. Tiba-tiba ada seorang peserta yang menyampaikan terima kasih kepada saya. Saya heran. Saya tidak mengerti. Orang itu menjelaskan bahwa ia telah menerapkan buku yang saya tulis dan memperoleh banyak manfaat darinya. Alhamdulilah.

Semoga kita bisa saling membantu dengan cara yang paling tepat bagi kita. Semoga kita bisa terus maju bersama.

 

Salam hangat…

  

(agus Nggermanto; pendiri APIQ)

 

APIQ: Inovasi Pembelajaran Matematika. APIQ membuka program kursus matematika kreatif yang mengembangkan kecerdasan anak dengan cara fun, gembira, dan mengasyikkan serta lebih cepat. APIQ menumbuhkan motivasi belajar anak dengan pendekatan Quantum Learning, Quantum Quotient, dan Experiential Learning. Berbeda dengan pendekatan metode pendidikan atau pembelajaran matematika yang pada umumnya menempatkan aljabar sebagai fundamental, APIQ justru menempatkan aritmetika sebagai fundamental utama matematika. Pendekatan aritmetika menjadikan matematika lebih konkret tidak abstrak seperti aljabar. APIQ mempelajari matematika secara utuh dari aritmetika, aljabar, geometri, statistik, kalkulus, dan lain-lain. APIQ menyiapkan program untuk anak usia 4 tahun (TK), SD, SMP, SMA, sampai lulus SMA (preuniversity). APIQ membuka peluang bagi Anda yang berminat membuka cabang franchise. Anda dapat menghubungi APIQ di apiq.wordpress.com atau (022) 2008621 atau 0818 22 0898 atau quantumyes@yahoo.com . APIQ berasal dari kata Aritmetika Plus Inteligensi Quantum.

Kategori: Inovasi Pembelajaran

Memilih Raja Matematika: Mempertimbangkan Pendekatan Aritmetika dan Aljabar dalam Pembelajaran Matematika

Februari 21, 2008 · 1 Komentar

Saya pernah mencoba bertanya pada anak SD dan SMP,

“Berapakah volume tabung yang luas alasnya 7 cm persegi dan tingginya 10 cm?”

 

Apa respon anak-anak itu?

Saya heran. Umumnya mereka langsung mencoba mengingat-ingat rumus volume tabung. Bagi yang beruntung, mereka akan menemukan rumus volume tabung. Jika rumus volume ini sudah mereka temukan, mereka akan mencoba untuk menghitung dengan angka-angka yang ada pada soal di atas. Mungkin akan terpecahkan. Mungkin juga tidak terpecahkan. Tergantung pada jenis rumus apakah yang mereka ingat.

 

Apa ada yang salah dengan fenomena di atas?

Bagi saya YA. Sangat salah.

 

Fenomena itu menunjukkan bahwa matematika menjadi berbagai macam tumpukan rumus yang harus dihafal oleh siswa. Tumpukan rumus ini menjadi peluru yang akan diandalkan siswa untuk memecahkan sebuah masalah. Jika pendekatan ini yang kita pilih untuk mengajarkan matematika, maka matematika akan menjadi pelajaran PALING SULIT bagi sebagaian besar siswa. Memang kenyataan ini yang kita temukan dalam kehidupan kita. Ya kan?

 

Saya menyebut pendekatan pembelajaran matematika yang banyak mengandalkan rumus adalah pendekatan aljabar. Mungkin kita memilih pendekatan ini karena terpesona oleh kehebatan aljabar. Aljabar memang hebat. Seorang siswa yang telah menguasai aljabar seakan ia telah menguasai matematika sepenuhnya. Mungkin ini benar. Tetapi kita akan sangat sulit mengajarkan matematika dengan pendekatan aljabar ini. Bukankah banyak siswa yang sudah takut duluan bila kita sebut nama aljabar?

 

Apakah ada alternatif lain untuk mengajarkan matematika?

Tentu ada.

 

Saya menyebut pendekatan alternatif ini adalah pendekatan aritmetika. Begitu siswa memperoleh soal seperti di atas, mereka akan berpikir bagaimana cara menghitungnya – bukan mengingat-ingat rumus volume. Mereka akan memikirkan apa itu volume? Apa hubungan antara luas alas, tinggi, dan volume? Mereka akan sampai kepada pemikiran bahwa volume tabung itu adalah 7 cm persegi kali 10 cm.

 

Dengan beberapa kali latihan memecahkan soal yang mirip di atas, siswa akan mulai menarik kesimpulan bahwa volume sama dengan luas alas kali tinggi. Setelah siswa mahir menghitung volume, kita boleh menantang mereka untuk menemukan rumus umum dalam menghitung volume. Jadi rumus volume ditemukan oleh siswa melalui perjalanan problem solving. Rumus bukan sekedar untuk dihafal.

 

Pendekatan ini saya sebut dengan pendekatan aritmetika dalam pembelajaran matematika. Kita berangkat dari sebuah – beberapa –  persoalan atau fenomena. Kita mencoba untuk memecahkan fenomena-fenomena itu. Dari proses kita memecahkan fenomena-fenomena itu lalu kita tarik kesimpulan rumus umum yang berlaku. Pengalaman saya menunjukkan bahwa siswa lebih antusias dengan pendekatan aritmetika. Karena siswa merasa terlibat dalam menemukan solusi bukan hanya menghafal rumus.

 

Contoh yang lebih ekstrem adalah tentang deret. Cobalah Anda bertanya kepada anak SMA atau SMP, berapa jumlah seluruh bilangan bulat antara 1 sampai dengan 1000?

 

Apa respon mereka? Langsung mengingat-ingat rumus?

Bahkan akhirnya mereka tidak berhasil mengingat rumus yang mereka perlukan.

 

Lupakan rumus itu untuk sementara. Cobalah mencari pemecahan tanpa rumus dulu. Biasanya cara ini lebih asyik. Karena siswa akan menemukan pendekatan yang bermacam-macam dengan mencoba-coba. Mereka sangat kreatif. Mereka tertantang.

 

APIQ mengambil pendekatan aritmetika dalam pembelajaran matematika. Pengalaman APIQ menunjukkan bahwa pendekatan ini lebih memudahkan dan menyenangkan bagi siswa. Apalagi bila kita menggabungkannya dengan berbagai macam permainan matematika. Matematika akan menjadi petualangan yang menggembirakan. APIQ memang berasal dari kata Aritmetika Plus Inteligensi Quantum. (Mestinya bisa juga Aljabar Plus Inteligensi Quantum).

 

Pendekatan aritmetika bukan berarti tidak belajar aljabar. APIQ mempelajari aljabar dengan serius (dan main-main). Tetapi pendekatannya tetap aritmetika. Hal ini dapat kita cermati dari contoh silabus APIQ atau level pembelajaran APIQ berikut ini.

 

Level Dasar

Z

Mengenal baca tulis angka

A

Aritmetika Dasar: jumlah, kali, kurang, bagi

B

Aritmetika 2 digit; jumlah, kali, kurang, bagi

C

Aritmetika Bintang 2

D

Aritmetika Taktis

E

Aritmetika Pecahan

 

Level Menengah

F

Aritmetika Bintang 3

G

Kuadrat dan Akar

H

Pangkat 3 dan Akar kubik

I

Aritmetika Bintang 4

J

Aritmetika Bintang 5

K

Kuadrat dan Akar Lanjutan

L

Aritmetika Taktis Lanjutan

 

Level Lanjut

M1

Teori Bilangan

M2

Himpunan

M3

Statistik

M4

Kombinasi Permutasi

M5

Persamaan Linear

M6

Persamaan Kuadrat

M7

Grafik dan Fungsi

M8

Polinomial

M9

Geometri

M10

Eksponensial

M11

Logaritma

M12

Trigonometri

M13

Barisan dan Deret

M14

Limit Kalkulus

M15

Kalkulus Diferensial

M16

Kalkulus Integral

M17

Komprehensif

 

 

Keputusan APIQ memilih pendekatan aritmetika konsisten dengan ungkapan:

”Matematika adalah raja ilmu pengetahuan. Tetapi raja matematika adalah aritmetika.”

 

Pendekatan aritmetika adalah demi kemudahan dan efektivitas pembelajaran matematika. Semoga kita menemukan cara yang paling tepat bagi putra-putri kita.

 

 

Salam hangat…

  

(agus Nggermanto; pendiri APIQ)

 

APIQ: Inovasi Pembelajaran Matematika. APIQ membuka program kursus matematika kreatif yang mengembangkan kecerdasan anak dengan cara fun, gembira, dan mengasyikkan serta lebih cepat. APIQ menumbuhkan motivasi belajar anak dengan pendekatan Quantum Learning, Quantum Quotient, dan Experiential Learning. Berbeda dengan pendekatan metode pendidikan atau pembelajaran matematika yang pada umumnya menempatkan aljabar sebagai fundamental, APIQ justru menempatkan aritmetika sebagai fundamental utama matematika. Pendekatan aritmetika menjadikan matematika lebih konkret tidak abstrak seperti aljabar. APIQ mempelajari matematika secara utuh dari aritmetika, aljabar, geometri, statistik, kalkulus, dan lain-lain. APIQ menyiapkan program untuk anak usia 4 tahun (TK), SD, SMP, SMA, sampai lulus SMA (preuniversity). APIQ membuka peluang bagi Anda yang berminat membuka cabang franchise. Anda dapat menghubungi APIQ di (022) 2008621 atau 0818 22 0898 atau quantumyes@yahoo.com . APIQ berasal dari kata Aritmetika Plus Inteligensi Quantum.

Kategori: Inovasi Pembelajaran · Matematika Populer · Peluang Bisnis