”Waduh, susah sekali soalnya!”
”Susah bagaimana?” saya tanya.
”Saya tidak punya ide sama sekali untuk menyelesaikannya.”
Saya lihat soal matematika untuk siswa SMA kelas 1 di Bandung. Memang soal itu termasuk sulit untuk ukuran kelas 1 SMA. Soal itu tergolong semacam soal SPMB. Beberapa malah soal kalkulus tingkat I di ITB.
”Bagus dong, kamu latihan soal semacam ini sejak awal,” saya memberi dukungan.
”Bagus sih bagus Pak. Tapi eskpresi gurunya itu…”
”Memang ada apa?”
”Gurunya itu ngasih soal ini untuk menunjukkan bahwa kami tidak akan mampu menyelesaikannya. Wajah guru itu tampak sangat puas bila kami tidak mampu menyelesaikannya.”
”Apakah ada guru yang ingin siswanya tidak mampu menyelesaikan suatu masalah?” saya bertanya dalam hati.
Saya ingat-ingat ketika saya SMA di Tulungagung. Tidak ada guru yang ingin siswa gagal menyelesaikan soal latihan. SMP dan SD di Tulungagung juga tidak ada guru yang begitu. Tetapi itulah bedanya dengan Bandung. Bandung adalah kota besar. Tulungagung hanya kota kecil.
Kemarin, saya dengar di Bandung, ada juga guru SD yang tidak menginginkan siswanya 100% dapat nilai 100. Guru itu ingin banyak siswa yang tidak mampu menyelesaikan soal. Malahan guru itu bingung kalau semua siswa dapat nilai 100. Itu mencerminkan bahwa soal yang diberikan oleh guru tidak berkualitas. Bila banyak soal tak terpecahkan maka menunjukkan bahwa soal itu berbobot.
Apa tujuan guru memberi soal?
Apa tujuan guru menilai?
Bagi saya dan teman-teman di APIQ, memberi soal latihan adalah untuk membimbing siswa menguasai konsep matematika tertentu. Bila seorang siswa mampu menyelesaikan soal latihan itu, justru kami bahagia. Misalnya, untuk memperkenalkan konsep dasar geometri, APIQ menyiapkan soal latihan sederhana tentang luas. Sambil memainkan dadu milenium, anak-anak (TK dan SD) akan berusaha menyelesaikan soal latihan itu. Dengan selesainya soal latihan itu, siswa sudah menguasai konsep geometri tertentu.
Dengan demikian, bila semua siswa menyelesaikan semua soal latihan maka kami telah berhasil memperkenalkan konsep geometri. Hal ini tidak menunjukkan bahwa soal latihan kami tidak berkualitas. Justru hal ini menunjukkan bahwa soal latihan APIQ berhasil mengantarkan siswa menguasai konsep geometri. Kami senang.
Bila sebaliknya yang terjadi, maksud saya, banyak siswa yang tidak dapat menyelesaikan soal latihan, itu menjadi feedback. Apakah ada yang salah dengan cara belajar siswa? Apa ada yang salah dengan cara guru mengajar? Apa ada yang salah dengan sususan latihan soal APIQ? Masukan-masukan ini mengajak kami untuk menemukan improvement-improvement baru. Bukan hanya siswa yang disalahkan bila ada masalah. Setiap masalah adalah peluang untuk improvement – mudah dikatakan, sulit dijalankan.
Sedangkan konsep APIQ dalam memberi nilai adalah untuk membangun rasa percaya diri siswa. Siswa mendapat support agar selalu berhasil meraih nilai 100 dalam setiap latihan. Ketika seorang siswa belum meraih nilai 100, guru akan membantu agar siswa itu mempertimbangkan konsep-konsep matematika tertentu. Tentunya dengan cara yang menyenangkan. Terutama menggunakan bermacam-macam alat peraga seperti Onde Milenium, Dadu Milenium, Super Marble dan lain-lain.
Bahkan pengalaman saya menunjukkan bahwa rasa percaya diri siswa lebih penting dari pada penguasaan materi itu sendiri. Siswa yang percaya diri akan terus berusaha mencari solusi, meski sulit. Tetapi siswa yang ragu-ragu sering menolak untuk berusaha. Bagaimana mungkin ia akan berhasil? Jika untuk mencoba saja sudah malas.
Dalam menentukan benar atau salah, APIQ menghargai keragaman. Meski matematika adalah ilmu pasti, matematika tidak kaku. Untuk menyelesaikan soal yang sama, beberapa anak mungkin saja akan menempuh cara yang berbeda-beda. APIQ mengapresiasi perbedaan ini. Bahkan bukan hanya caranya saja yang berbeda. APIQ juga menghargai hasil akhir yang berbeda. Apakah mungkin matematika memberikan hasil akhir yang berbeda untuk soal yang sama?
Mungkin saja!
Seorang siswa, setelah melakukan perhitungan yang teliti, memperoleh hasil akhir luas daerah = 1 meter persegi. Ia sangat yakin benar.
Siswa yang lain, juga melakukan perhitungan dengan tekun, memperoleh hasil akhir luas daerah tersebut = 10000 cm persegi, untuk soal yang sama. Ia juga sangat yakin benar.
APIQ akan memberi nilai sama benar untuk dua jawaban di atas. Mengapa? Ini justru sebagai peluang pembelajaran baru. Kita bisa banyak belajar dari keragaman.
Memaksakan keseragaman berpikir membawa dampak mengerikan.
Mari kreatif! Mari menyikapi perbedaan dengan arif!
Salam hangat…
(agus Nggermanto; pendiri APIQ)
APIQ: Inovasi Pembelajaran Matematika. APIQ membuka program kursus matematika kreatif yang mengembangkan kecerdasan anak dengan cara fun, gembira, dan mengasyikkan serta lebih cepat. APIQ menumbuhkan motivasi belajar anak dengan pendekatan Quantum Learning, Quantum Quotient, dan Experiential Learning. Berbeda dengan pendekatan metode pendidikan atau pembelajaran matematika yang pada umumnya menempatkan aljabar sebagai fundamental, APIQ justru menempatkan aritmetika sebagai fundamental utama matematika. Pendekatan aritmetika menjadikan matematika lebih konkret tidak abstrak seperti aljabar. APIQ mempelajari matematika secara utuh dari aritmetika, aljabar, geometri, statistik, kalkulus, dan lain-lain. APIQ menyiapkan program untuk anak usia 4 tahun (TK), SD, SMP, SMA, sampai lulus SMA (preuniversity). APIQ membuka peluang bagi Anda yang berminat membuka cabang franchise. Anda dapat menghubungi APIQ di apiq.wordpress.com atau (022) 2008621 atau 0818 22 0898 atau quantumyes@yahoo.com . APIQ berasal dari kata Aritmetika Plus Inteligensi Quantum.