APIQ: Matematika Kreatif Aritmetika Quantum

Membalas

November 17, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Membalas kebaikan dengan yang lebih baik
Membalas keburukan dengan yang lebih baik

Atau setidaknya
Membalas keburukan dengan keadilan

Memberi maaf adalah kebaikan
Baginya
Bagi kita

→ Tinggalkan KomentarKategori: Inspirasi
Ditandai: , , ,

Memberi Menerima

November 16, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Berikan yang terbaik
Niscaya Anda akan menerima yang terbaik

Memberi bukan untuk menerima
Tetapi hukum semesta memastikan
Siapa memberi
Ia menerima

Berikan yang terbaik
Niscaya Anda akan menerima yang terbaik

Bagaimana menurut Anda?

→ Tinggalkan KomentarKategori: Inspirasi
Ditandai: , ,

Dilema UN 2010, Bocoran, dan Mendiknas yang Bodoh

November 15, 2009 · 1 Komentar

UN 2010 tetap menghadirkan pro kontra. Kabarnya, jadwal UN dimajukan menjadi Maret 2010, makin ramai saja.

Keputusan pengadilan yang memenangkan penggugat (siswa dan orang tua) atas ketidakadilan penyelenggaraan UN pun tampaknya tidak mendapat cukup pertimbangan.

Gosip dan realitas di depan mata bahwa UN bocor tahun demi tahun juga tak dihiraukan. Saya telah menulis berkali-kali bahwa dari beragam sudut pandang, UN pasti bocor, tidak mungkin mengamankan UN 100%. Bahkan tahun 2009 kemarin, dikabarkan, UN sempat bocor 100%. Tentu pihak berwenang buru-buru menyangkalnya.

Mengapa tampak begitu semrawut dunia pendidikan kita?
Apakah karena kita memiliki Mendiknas, Menteri Pendidikan Nasional, yang bodoh?

Mendiknas kita saat ini adalah M Nuh. Sebelumnya adalah Bambang S. Apakah Mendiknas kita bodoh?

Justru di situ masalahnya!

Saya yakin Mendiknas kita adalah orang cerdas. Karena itu mereka menganggap UN itu mudah bagi setiap orang. Hanya orang bodoh saja yang tidak lulus UN. Masa meraih nilai 6 saja tidak mampu? Pantaslah anak-anak bodoh itu diganjar tidak lulus sekolah.

Saya juga yakin anak-anak kita juga tidak bodoh. Mungkin mereka tidak berbakat menyelesaikan soal-soal UN. Tetapi mereka cerdas dalam seni, olah raga, teknologi dan lain-lain.

Seandainya kita memiliki Mendiknas yang bodoh, mungkin akan lain persoalannya.

Bagaimana menurut Anda?
Salam…

→ 1 CommentKategori: UN · un 2010
Ditandai: , , , ,

Bisnis Dunia Akhirat

November 15, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

“Sejelek-jeleknya manusia adalah yang menjual akhiratnya demi dunianya. Tetapi yang lebih jelek lagi adalah yang menjual akhiratnya demi dunianya orang lain.”

→ Tinggalkan KomentarKategori: Inspirasi
Ditandai: , ,

Terencana + Tertulis + Heijunka = Sukses + Bahagia

November 14, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Langkah-langkah sederhana untuk meraih bahagia dan sukses, siapkah Anda?

1. Terencana
Gagal merencanakan sepadan dengan merencanakan kegagalan. Menyusun jadwal adalah hanya bagian kecil dari perencanaan. Sudahkah Anda memiliki rencana hari ini? Minggu ini? Bulan ini? Tahun ini?

Beberapa orang tidak mau menyusun rencana. Hidup menjadi monoton bila direncanakan, tidak ada spontanitas katanya.

Yang benar justru sebaliknya. Perencanaan yang bagus membuat kita bekerja dengan efektif dan efisien. Membuat kita memiliki lebih banyak waktu luang, lebih spontan, lebih proaktif. Bukan pekerjaan yang mengatur kita tetapi kita lah yang mengatur pekerjaan melalui perencanaan.

2. Tertulis.
Baik untuk diri sendiri mau pun tim tulisan sangat membantu. Tulisan membantu kita lebih fokus dan ringan menangani suatu hal. Komunikasi tulisan yang terlatih jauh lebih efektif dibanding hanya komunkasi lisan.

3. Heijunka
Meratakan beban tanggung jawab. Menciptakan dan menjaga kondisi stabil. Heijunka adalah prinsip dasar dari manajemen.

Pemborosan dan kerugian terbesar sering diakibatkan tidak terpenuhinya heijunka. Yaitu kadang-kadang beban kerja terlalu berat, di saat lain tidak ada beban kerja. Heijunka adalah proses meratakan beban sepanjang waktu.

Di atas heijunka inilah kita berpetualang dengan inovasi dan kreasi. Ide-ide cemerlang kita gunakan untuk meningkatkan kinerja dari setiap lini.

Perencanaan, tertulis, dan heijunka adalah kondisi awal untuk meraih sukses dan bahagia.

Bagaimana menurut Anda?

Salam…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

→ Tinggalkan KomentarKategori: Inspirasi
Ditandai: , , , ,

APIQ Share Lagi 20 November 2009

November 13, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Setelah sukses dengan APIQ Share perdana sore tadi, APIQ akan meluncurkan lagi APIQ Share minggu depan 20 November 2009. Masih seperti yang perdana APIQ Share memungut biaya 0 rupiah alias gratis. Karena itu mohon mendaftarkan diri Anda dulu sebelum hari pelaksanaan.

Saatnya yang muda tampil itulah tema APIQ Share bulan ini. Bukan hanya Paman APIQ yang tampil tetapi seluruh anggota keluarga besar APIQ ikut tampil: Te APIQ, Kang APIQ, Mas APIQ, dan lain-lain.

Selamat bergabung dengan APIQ Share…
Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

→ Tinggalkan KomentarKategori: APIQ
Ditandai: , ,

Permainan Memahami Konsep Limit (bag.2)

November 13, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Paman APIQ merasa senang melihat Al, Geo, Meti dapat memahami konsep 0 dan tak hingga (~) dalam limit. Tante Lim banyak membantu dalam proses belajar limit ini.

Al, Geo, Meti sudah paham bahwa

7/~ = 0
5/0 = ~.

Kini mereka akan berpetualang ke tahap berikutnya.

“Ini satu karung beras. Tahukah kamu ada berapa butir beras dalam satu karung ini?” tanya Tante Lim.

“Hehehe… ada-ada saja Tante Lim ini,” sahut Geo.
“Di mana-mana menghitung beras itu ya pakai kilogram,” tambah Meti.
“Pasti Tante Lim mau main-main ya…?” Al ikut nimbrung.

“Tante tahu kok, ada berapa butir beras dalam satu karung tersebut, ” kata Tante Lim.
“Sulit dipercaya…!!!”

“Berapa ayo…?” tanya Al.
“Ditanya kok balik bertanya!?” Sahut Tante Lim

“Bertanyalah kepada ahlinya,” tambah Meti.
“Baik…baik…baik… Tante kasih tahu ya… Dalam satu karung beras terdapat tak hingga butir beras.”

“Maksudnya 1 juta butir beras?”
“Mengapa 1 juta?”
“Kemarin Tante bilang 1 juta orang penduduk dapat kita sebut sebagai tak hingga kan?” kata Al.

“Oke, Tante tahu maksudnya!”

Tante Lim mulai menjelaskan konsep tak hingga.

Tak hingga adalah bilangan yang besar sekali. 1 juta memang dapat kita anggap sebagai tak hingga. 2 juta juga dapat sebagai tak hingga. Bahkan 1.000 mungkin saja sebagai tak hingga.

Mari 1 karung beras kita anggap sebagai tak hingga. Maka 2 karung beras adalah 2 x tak hingga yang berarti bilangan besar sekali. Menjadi tak hingga lagi. Jadi tak hingga yang satu mungkin saja berbeda dengan tak hingga lain.

Misal 1 karung = ~ butir.

Berapakah…

~ + 5 = ?

“Aku tahu…. ” sahut Al cepat, ” ya… 1 karung tambah 5 butir.”
“Aku tahu, tetap saja 1 karung,” kata Meti.
“Sudah semakin dekat…!” tambah Tante Lim.

“O…ya

~ + 5 = ~

betul kan?” kali ini Geo berpendapat.

“Ya, betul!”

~ + 7 = ….?
~ – 10 = ….?
~ + 9 = ….?

Jawabannya adalah tetap ~, tak hingga.

Tante Lim menyebut konsep ini sebagai konsep pengabaian. Abaikan saja pengurangan atau penjumlahan terhadap tak hingga.

Dengan konsep abaikan saja maka kita akan lebih mudah menghitung limit.

Contoh:

\lim_{x \rightarrow \infty} \frac{{(4x + 3)}^3}{{(2x - 3)}^3}

Lumayan menakutkan juga soal di atas. Apalagi jika kita harus menghitung pangkat 3 dari 4x + 3 dan pangkat 3 dari 2x – 3. Cukup melelahkan pasti.

Tetapi dengan konsep abaikan saja akan menjadi mudah.

4x + 3 = 4x (abaikan 3)
2x – 3 = 2x (abaikan -3)

Sehingga soal di atas dapat kita pandang sebagai:

\lim_{x \rightarrow \infty} \frac{{(4x)}^3}{{(2x)}^3}

= (4/2)^3
= 8 (Selesai)

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

→ Tinggalkan KomentarKategori: APIQ · inovasi pembelajaran matematika
Ditandai: , , , ,

Permainan Pikiran Memahami Kalkulus Limit (bag.1)

November 12, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Hari ini keluarga APIQ bergembira. Tante Lim yang sudah lama pergi ke luar kota kini kembali berkumpul dengan keluarga besar APIQ.

Tante Lim orangnya sederhana. Suka memandang sesuatu sampai hal sekecil-kecilnya. Al, Geo, Meti sering terperangah dengan berbagai macam cara berpikirnya Tante Lim. Sedangkan Paman APIQ senang-senang saja dengan beragamnya cara berpikir tersebut.

“Tante punya pertanyaan nih…” Tante Lim membuka percakapan.
“Asyik…!” Sahut Al, Geo, Meti.

“Berapakah 10:2 ?”
“5.”

“Berapakah 10:10?”
“1.”

“Berapakah 10:100?”
“0,1.”

“Berapakah 10:1000?”
“0,01.”

“Berapakah 10:1.000.000?”
“0,00001.”

“Hasilnya makin kecil ya Tante ya…?” tanya Meti.
“Betul. Bila pembaginya semakin besar maka hasil baginya semakin kecil.”

Bilangan yang sangat kecil, mendekati 0, dalam konsep limit kita sebut sebagai 0.
Bilangan yang sangat besar, lebih besar dibanding bilangan lain, dalam limit kita sebut sebagai tak hingga = ~.

Al, Geo, Meti mengangguk-anggukkan kepala. Berusaha memahami maksud Tante Lim. Paman APIQ hanya mendengar sambil senyum-senyum dan buka-buka buku.

“Jadi, bilangan kecil 0,00001 bisa kita anggap = 0,” kata Tante Lim.
“Mengapa begitu?” Al tampak sulit menerima.

“Yuk… kita coba bermain dengan contoh,” ajak Tante Lim.
“Siap!”

Misal kita punya beras 10 kg. Kita akan membagi beras tersebut kepada penduduk sama rata. Berapa kg beras yang diterima masing-masing penduduk bila…

“Dibagikan kepada 1 orang?”
“10 kg,” Geo langsung menyahut.

“Dibagikan kepada 10 orang?”
“1 kg.”

“Dibagikan kepada 100 orang?”
“0,1 kg.”

“Dibagikan kepada 1.000 orang?”
“0,01 kg.”

“Dibagikan kepada 1.000.000 orang?”
“0,00001 kg.”

“Seberapa banyakkah 0,00001 kg itu?”

0,00001 kg = 0,01 gram.

Beras sebanyak 0,01 gram tersebut adalah sangat kecil. Karena sangat kecil maka kita dapat meyebutnya sebagai 0. Tidak terasa bila kita masak kan?

“O…begitu….” Al mulai memahami.

“Karena 1.000.000 orang adalah bilangan yang besar maka boleh kita sebut sebagai tak hingga?” Geo penasaran.
“Betul!”

“Jadi….” Meti mulai menyimpulkan.

10/~ = 0

“Betul.”

“Bolehkah saya balik…” Al makin aktif.

10/0 = ~

“Boleh. Memang begitu.”

“Bagaimana dengan bilangan yang lain?” tanya Geo.
“Maksud kamu?” Tante Lim balik bertanya.

“Misal,

7/~ = …?
9/~ = …?”

“Aku tahu, aku tahu….” kata Geo sendiri.
“Sama saja kali ya….”

7/~ = 0
9/~ = 0
100/~ = 0

“Kalian memang anak yang cerdas,” komentar Tante Lim.

Bagaimana dengan,

~ + 7 = ….
~ – 5 = ….

Mereka terus bermain-main asyik dengan konsep dasar limit.

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

→ Tinggalkan KomentarKategori: APIQ · inovasi pembelajaran matematika
Ditandai: , , ,

Cara-cara Mudah Belajar Kalkulus Limit (Catatan)

November 12, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Pahami makna limit. Buat beberapa ilustrasi yang mudah dipahami. Beberapa contoh ringan akan membantu dalam tahap ini. Contoh-contoh yang tidak memiliki limit juga dapat membantu.

1. Bentuk aljabar 0/0; langsung gunakan L’Hospital atau berlatih yang lain juga boleh.

2. Bentuk trigonometri; gunakan rumus sinx = x, 1 – cosx = 1/2 x^2; pakai L’Hospital sesekali juga bagus tapi hati-hati ya…

3. Bentuk tak hingga; gunakan pengabaian, pangkat tertinggi, L’Hospital juga bisa. Bentuk akar tak hingga – akar tak hingga kalikan sekawan dan pengabaian. Temukan bentuk umumnya…

Untuk bentuk-bentuk lain, semisal e, akan kita bahas di bagian berbeda aja ya…

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pemdiri APIQ)

→ Tinggalkan KomentarKategori: APIQ
Ditandai: , ,

APIQ Share 13 Nov 09

November 12, 2009 · & Komentar

Setelah APIQ konsisten berbagi ilmu, share melalui internet, APIQ akan meluncurkan APIQ Share mulai Jumat 13 Nov 09 di Bandung.

APIQ Share menjadi forum berbagi ilmu sekaligus training untuk kita bersama. APIQ Share terbuka untuk Anda dengan biaya 0 rupiah atau free. Karena itu mohon agar mendaftarkan diri ke APIQ Share sebelumnya untuk mendapat konfirmasi.

Lokasi: LIMAMU Food Spot, Gegerkalong girang.
Waktu: 16.30 sd 18.00 wib

Salam hangat…

→ 2 CommentsKategori: APIQ
Ditandai: , ,